Kerajaan Islam Di Indonesia : Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Malaka, dan Kerajaan Aceh Darussalam

Wawasan Pendidikan; Pada masa kedatangan Islam di Indonesia, kondisi politik dan ekonomi kerajaan Hindu-Buddha di Sumatera dan Jawa mulai mengalami kemunduran.  Kondisi ini dimungkinkan karena adanya kemunduran politik pada kerajaan itu sendiri dan juga karena pengaruh perluasan kekuasaan Cina di kerajaan-kerajaan Asia Tenggara.

Munculnya kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan karena berkembangnya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab, Persia, India, Cina, dll.  Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan mengalami masa kejayaan pada sekitar abad ke 13-16 M.  Kerajaan Islam di Indonesia dibagi berdasarkan wilayah pusat pemerintahan, yaitu di Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi. (Baca Juga : Sejarah dan Teori Masuknya Islam di Indonesia)
picture by romadecade.org
Berikut ini adalah beberapa kerajaan Islam di Indonesia:

1. Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada abad ke-13.  Kerajaan ini didirikan oleh Nazimuddin al-Kamil dari Mesir.  Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak.  

Raja pertama Samudera Pasai adalah Marah Silu (Malik as-Saleh).  Ketika meninggal pada tahun 1297, Sultan Malik al-Saleh digantikan oleh Sultan Mahmud.  Selanjutnya pada tahun 1326 Samudera Pasai dipimpin oleh Sultan Malik Ath-Thahir.  Kerajaan ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dan menjadi pusat perdagangan serta studi Islam.

Wilayah kekuasaan Kesultanan Samudera Pasai di masa kejayaannya berada di daerah yang diapit oleh dua sungai besar di Pantai Utara Aceh, yaitu Sungai Peusangan dan Sungai Pasai.  Wilayah kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai meliputi Samudera Geudong (Aceh Utara), Meulaboh, Bireuen, Rimba Jreum, dan Seumerlang (Perlak).

Lokasi kerajaan yang terletak diantara aliran lembah sungai menjadikan tanah di kerajaan ini sangat subur sehingga hasil panen padi semakin melimpah.  Sebagai kerajaan maritim, Samudera Pasai juga mengembangkan ekonominya dalam bidang pelayaran dan perdagangan.

Lokasi kerajaan ini sangat strategis karena berada di Selat Malaka sehingga menjadikannya sebagai penghubung antar pusat perdagangan yang ada di nusantara dengan Asia Barat, India, dan Cina.  Salah satu sumber pemasukan ekonominya berasal dari pajak yang dikenakan pada kapal-kapal dagang yang melintasi wilayah perairannya.  Sedangkan hasil pertanian yang menjadi komoditi perdagangan adalah lada.

Lokasi kerajaan yang strategis juga mendukung peran masyarakatnya untuk terjun dalam dunia maritim.  Kerajaan Samudera Pasai pun mempersiapkan bandar-bandar untuk beberapa aktivitas seperti berikut ini:
  • Menambah perbekalan untuk pelayaran selanjutnya
  • Membantu mengurusi masalah perkapalan
  • Mengumpulkan barang-barang dagangan yang akan dikirim ke luar negeri
  • Menyimpan barang dagangan sebelum dikirim ke beberapa wilayah di Indonesia

Kehidupan sosial masyarakat di Kerajaan Samudera Pasai diatur menurut aturan dan Hukum Islam.  Sehingga dalam pelaksanaannya memiliki banyak persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat di Mesir dan Arab.  Banyaknya persamaan inilah yang kemudian membuat wilayah Aceh sering disebut dengan daerah Serambi Mekkah.

Kerajaan Samudera Pasai mulai mengalami kemunduran pada sekitar abad ke-15, dan salah satu faktor penyebabnya adalah karena munculnya pusat politik dan perdagangan baru di wilayah Malaka.

2. Kerajaan Malaka
Kerajaan Malaka berdiri sekitar abad ke-15 dan didirikan oleh Pangeran Parameswara dari Majapahit.  Sebelum menjadi kerajaan yang merdeka, Malaka termasuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit.  

Nama Iskandar Syah merupakan nama Islam yang diperoleh setelah ia memeluk Agama Islam.  Pada masa kekuasaannya (1396-1414) kerajaan Malaka berkembang sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar yang cukup disegani oleh kerajaan lain di sekitarnya.

Kerajaan yang berada di kawasan Selat Malaka ini memiliki peran penting dalam perkembangan politik dan budaya Islam di sekitar perairan Nusantara.  Lokasinya berada di jalur pelayaran dan perdagangan antara Asia Barat dan Asia Timur.  Berkembangnya kegiatan perdagangan dan pelayaran di Kerajaan Malaka banyak dipengaruhi oleh pedagang Islam dari Arab dan India.

Kesultanan Malaka memiliki undang-undang laut yang berisi aturan perdagangan dan pelayaran.  Berlakunya pajak bea cukai yang dikenakan pada tiap barang dibedakan berdasarkan asal barang.

Posisi Malaka yang strategis membuat kerajaan ini semakin cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.  Dalam bidang ekonomi, sultan dan para pejabat tinggi kesultanan ikut terlibat dalam kegiatan perdagangan.  Kekayaan yang diperoleh dari kegiatan perdagangan kemudian digunakan untuk membangun istana, masjid, dan juga pelabuhan.

Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Malaka dipengaruhi oleh faktor lokasi, kondisi alam, dan lingkungan di wilayah tersebut.  Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Melayu yang menjadi bahasa pengantar sehingga komunikasi yang terjalin menjadi mudah dan lancar.  Salah satu karya sastra yang terkenal pada masa ini adalah Hikayat Hang Tuah yang mengisahkan tentang tokoh pahlawan kerajaan.

Kerajaan Malaka memiliki banyak tentara bayaran dari Jawa yang kemudian juga memeluk Agama Islam.  Sekembalinya mereka ke tanah Jawa secara tidak langsung juga turut berperan dalam penyebaran Agama Islam di Jawa.  Dari Malaka inilah Agama Islam tersebar hingga ke wilayah Jawa, Kalimantan Barat, Brunei, Sulu, dan Mindanau (Filipina Selatan).

3. Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada tahun 916 H (1511 M) bersamaan dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis.  Raja pertamanya adalah Sultan Ibrahim atau Ali Mugayat Syah yang berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pedir.  Kerajaan ini mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang bercita-cita menjadikan Aceh sebagai kerajaan yang besar dan kuat.

Untuk meraih cita-cita tersebut maka kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka harus ditaklukkan. Diantaranya adalah Kerajaan Pahang, Kedah, Perlak, Johor, dll.  Kerajaan mengalami perkembangan yang sangat pesat karena banyaknya pedagang Islam dari Malaka yang pindah ke wilayah Aceh. Selain itu bandar Aceh juga dibuka sebagai bandar internasional dengan adanya jaminan keamanan dari gangguan kapal perang Portugis.

Aceh diketahui menguasai daerah-daerah di wilayah pantai barat dan timur Sumatera yang menghasilkan lada.  Semenanjung Malaka memang banyak menghasilkan lada dan timah yang menjadi komoditi ekspor Aceh sehingga perdagangan di Aceh semakin berkembang pesat.

Salah satu peninggalan sejarah dari Kerajaan Aceh Darussalam adalah Manuskrip Bustanus Salatin (Taman Segala Raja) yang berisi tentang adat istiadat Aceh dan ajaran Agama Islam.  Adapun kehidupan sosial masyarakat pada masa Kerajaan Aceh diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Penyusunan Undang-undang tentang tata pemerintahan yang dikenal dengan istilah Adat Makuta Alam.
  • Munculnya dua golongan yang berebut pengaruh, yaitu golongan Teuku dan Tengku.  Golongan Teuku merupakan kaum bangsawan yang memiliki kekuasaan sipil sedangkan golongan Tengku merupakan kaum ulama yang memiliki peranan penting dalam bidang agama.  Di dalam golongan ulama pun masih ada persaingan pengaruh, yaitu dari golongan Syiah dan Sunnah wal Jama’ah.
  • Pada masa pemerintahan Iskandar Muda, aliran Syiah berkembang pesat.  Tokoh yang berperan adalah Hamzah Fansuri yang kemudian diteruskan oleh Syamsuddin Pasai.
  • Sepeninggal Iskandar Muda, aliran Sunnah wal Jama’ah mengalami perkembangan pesat.  Tokoh yang berperan adalah Nuruddin ar Raniri.
  • Kemajuan dalam bidang budaya bisa terlihat dari Masjid Baitturachman yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Referensi:  
Suparno, Drs. 2018. Modul Pendamping Sejarah Indonesia untuk SMK/SMA Kelas X Semester 1.  Klaten Utara: Mulia Group.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel