Teks Puisi : Unsur Intrinsik, Unsur Ekstrinsik dan Majas/Gaya Bahasa

Wawasan Pendidikan; Puisi merupakan sebuah ungkapan jiwa yang ditampilkan secara ekspresif.  Ungkapan jiwa ini bisa berupa protes sosial, cinta, nilai-nilai spiritual dan ketuhanan, serta berbagai macam hal yang menyangkut kehidupan manusia. Jika sebelumnya kita telah membahas tentang pengertian, jenis, dan struktur puisi, kali ini kita akan membahas secara lengkap tentang unsur intrinsik, unsur ekstrinsik, dan majas/gaya bahasa pada puisi. (Baca Juga : Teks Puisi : Pengertian, Jenis, Unsur, dan Struktur Puisi)

Teks Puisi : Unsur Intrinsik, Unsur Ekstrinsik dan Majas/Gaya Bahasa
picture by kudoswall.com
Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik merupakan unsur-unsur yang membangun sebuah puisi, diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Tema, yaitu inti permasalahan yang terkandung dalam puisi. Misalnya saja tema ketuhanan, kritik sosial, kemanusiaan, keindahan, kebahagiaan cinta, kegagalan cinta, perjuangan, penderitaan hidup dll.  Tema dalam puisi mencakup isi keseluruhannya, yang terdiri dari pikiran, perasaan, sikap, maksud dan tujuan penulisan puisi.
  2. Rasa dan nada, yaitu bagaimana perasaan penyair terhadap objek dan permasalahan yang dikemukakan terhadap pembacanya.  Apakah perasaan iba, geram, pasrah, ragu, kecewa, sinis, sabar, dll.  Sebuah puisi harus bisa menyentuh dan mempengaruhi perasaan pembacanya.
  3. Pesan atau amanat, yaitu berupa nasihat yang akan disampaikan kepada pembaca dan nilai-nilai apa yang ingin ditanamkan kepada pembaca.
  4. Rima atau persajakan, yaitu berupa persamaan bunyi antar kata atau antar baris, persamaan bunyi tersebut bisa di awal, di akhir, dan bahkan di tengah kata atau baris.
  5. Ritme atau irama, yaitu berupa alunan naik turun, panjang pendek atau keras lemahnya bunyi yang bisa beraturan atau berulang-ulang sehingga menghasilkan sebuah keindahan.  Ritme atau irama bisa menjadi gambaran suasana hati penyair dalam melafalkan puisinya.
  6. Metrum atau matra, yaitu berupa pengulangan tekanan pada posisi-posisi tertentu yang sifatnya tetap.
  7. Diksi, yaitu berupa pemilihan kata yang tepat dan cermat dari segi bunyi maupun maknanya sehingga menjadi media ekspresi yang maksimal dan bernilai estetis.  Diksi dalam puisi bisa bermakna denotasi maupun konotasi.  Untuk jenis puisi anak bisa menggunakan pemilihan kata denotasi.  Atau bisa menggunakan kata konotasi namun dengan pilihan kata yang sederhana.
  8. Gaya bahasa dan majas atau bahasa figuratif.  Unsur ini merupakan ciri khas kebahasaan yang digunakan dalam membuat puisi.  Penggunaannya mencakup struktur kebahasaan, pilihan kata, ungkapan, peribahasa/bidal/pepatah, pemakaian bahasa slank atau dialek, pemakaian atau pembentukan majas, dll.
Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik dalam puisi meliputi beberapa hal seperti berikut ini:
  1. Biografi pengarang
  2. Pendidikan pengarang
  3. Sosial budaya pengarang
  4. Agama pengarang, dll
Majas/Gaya Bahasa
Puisi merupakan realisasi perasaan penulisnya yang ditulis berdasarkan inspirasi, sekecil dan sesederhana apapun bentuknya.  Penulisan puisi pun harus didasarkan pada teknik-teknik tertentu yang meliputi cara penyampaian ide atau biasa disebut dengan majas/gaya bahasa.

Majas adalah permainan bahasa yang digunakan untuk mendapatkan efek estetis, memaksimalkan ekspresi, dan mendapatkan kesan atau rasa tertentu.  Berikut ini adalah beberapa majas yang sering digunakan dalam puisi:

a. Metafora, yaitu perbandingan langsung, contohnya adalah:
  • Kaulah kandil kemerlap, pelita jendela di malam gelap.
  • Aku ini binatang jalang.
b. Simile, yaitu membandingkan sesuatu dengan kata pembanding, contohnya adalah:
  • Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
  • Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyirak kelopak.
c. Hiperbola, yaitu ungkapan yang membesar-besarkan atau melebih-lebihkan.  Contohnya adalah:
  • Aku mau hidup seribu tahun lagi.
  • Cita-citanya setinggi langit.
d. Personifikasi, yaitu benda-benda mati yang digambarkan memiliki sifat dan perbuatan seperti manusia dan sering disebut dengan penginsanan.  Contohnya adalah:
  • Bulan tersenyum menyaksikan kebahagiaan mereka berdua.
  • Sepi menyanyi, malam dalam mendo’a tiba.
e. Sinekdok pars prototo, yaitu penyebutan sebagian untuk keseluruhan.  Contohnya adalah:
  • Sudah lama aku tidak melihat batang hidungnya.
  • Untuk memasuki tempat wisata itu setiap kepala harus membayar Rp 20.000.
f. Sinekdok totem pro parte, yaitu penyebutan keseluruhan tetapi untuk sebagian, contohnya adalah:
  • Politisi dan pejabat tinggi adalah calo-calo yang rapi.
  • Perang Dunia II berakhir pada tahun 1942.
g. Eufimisme, yaitu ungkapan penghalus agar tidak menyinggung perasaan orang lain.  Contohnya adalah:
  • Palayan toko disebut dengan pramuniaga.
  • Orang buta disebut sebagai tuna netra.
h. Tautologi, yaitu penggunaan kata-kata yang senada atau hampir sama dengan maksud untuk menyangatkan.  Contohnya adalah:
  • Bisa dan luka kubawa lari, hingga hilang pedih perih.
  • Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.
i. Repetisi, yaitu berupa pengulangan kata-kata yang sama dalam suatu baris kalimat.  Contohnya adalah:
  • Untuk mencapai cita-citamu itu, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah belajar, belajar dan sekali lagi belajar.
  • Dengan seribu gunung langit tak runtuh, dengan seribu perawan hati tak jatuh, dan dengan seribu sibuk sepi tak mati.
j. Paralelisme, yaitu bentuk pengulangan frasa atau kata antar baris-baris puisi.  Pengulangan bunyi pada awal kalimat disebut dengan anafora, sedangkan pengulangan bunyi di akhir kalimat disebut dengan epifora.  Contohnya adalah:
  • Aku manusia..... Rindu rasa...... Rindu rupa
  • Kalau kau mau, aku akan menghampiri......Kalau kau kehendaki, aku akan menghampiri..... Kalau kamu minta, aku akan menghampiri
k. Klimaks, yaitu gaya bahasa yang mengandung urutan pikiran yang semakin meningkat.  Contohnya adalah:
  • Bukan hanya beratus, beribu malah berjuta orang yang telah menderita akibat peperangan.
  • Dari kecil sampai dewasa, malah sampai setua ini engkau belajar, tapi tak juga pandai-pandai.
l. Anti klimaks, yaitu gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang urutannya semakin menurun.  Contohnya adalah:
  • Jangankan satu juta, seratus ribu pun aku tak punya.
  • Kakeknya, ayahnya, dia sendiri, dan kini anaknya semuanya tidak luput dari penyakit turunan itu.
m. Paradoks, yaitu gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada, berlawanan namun benar.  Contohnya adalah:
  • Dia tertawa, tetapi hatinya menangis.
  • Gajinya besar, tetapi hidupnya melarat.
n. Antitesis, yaitu berupa kata-kata yang berlawanan.  Contohnya adalah:
  • Tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan semua hadir dalam perayaan itu.
  • Hidup matimu, susah senangmu serahkan saja pada Yang Maha Kuasa.
o. Pleonasme, yaitu menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas.  Contohnya adalah:
  • Naiklah ke atas lalu belok ke kiri di situlah rumahnya.
  • Maju ke depan dan perkenalkan namamu.
p. Metonimia, yaitu gaya bahasa yang menggunakan merk dagang untuk menjelaskan atau mengasosiasikan sebuah benda.  Contohnya adalah:
  • Keluarganya pulang kampung menggunakan Avanza. (merk mobil)
  • Dia tertipu puluhan juta karena membeli hermes palsu. (merk tas)
q. Ironi, yaitu berupa sindiran halus dengan cara mengatakan yang sebaliknya.  Contohnya adalah:
  • Masih pukul 08.00, kenapa kamu sudah bangun?
  • Yang kami minta hanyalah gapura saja, bukan tugu, lapangan bola, atau air mancur warna-warni.
r. Sinisme, yaitu berupa sindiran yang agak kasar.  Contohnya adalah:
  • Muntah aku melihat kelakuanmu yang tidak pernah berubah!
s. Sarkasme, yaitu sebuah ejekan atau sindiran kasar yang cukup pedas.  Contohnya adalah:
  • Apakah kamu tidak punya telinga, dipanggil dari tadi tidak datang juga.
  • Dasar otak udang, disuruh mengerjakan soal begitu saja tidak bisa.

Referensi:
Haryani, S.Pd., M.Pd. 2018.  Modul Pendamping Bahasa Indonesia Kelas X semester 2.  Klaten Utara:  Mulia Group.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel