Pengertian, Jenis, Langkah-Langkan dan Kelebihan Model Pembelajaran Problem Posing

Wawasan Pendidikan; berbagai Model Pembelajaran telah dijelaskan sebelumnya, Kali ini sobat pendidikan akan melanjutkan pembahasannya mengenai salah satu model pembelajaran yaitu Model Pembelajaran Problem Posing. Model Pembelajaran ini akan dijelaskan secara rinci mulai dari Pengertian, Jenis, Langkah-Langkan dan Kelebihan Model Pembelajaran Problem Posing

Pengertian, Jenis, Langkah-Langkan dan Kelebihan Model Pembelajaran Problem Posing

A. Pengertian Model Pembelajaran Problem Posing. 

Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.  Suatu pola atau langkah-langkah inilah yang menjadi sarana transfer knowledge agar pencapaian tujuan pendidikan lebih efektif dan efisien. Salah satu model pembelajaran yang relevan untuk diterapkan di sekolah dengan berbagai jenjang dengan  terminal peserta didik yakni model pembelajaran Problem Posing. 

Problem Posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris. Menurut John M. Echol problem berarti masalah, soal dan posing berasal dari to pose yang berarti mengajukan. Sehingga Problem Posing merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan pengajuan soal. ( Baca Juga : Pengertian dan Langkah-Langkah model Pembelajaran Koperatif Tipe STAD)

Bentuk lain dari Problem Posing, yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simpel sehingga mudah dipahami.  Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, meminimalisasi tulisan hitungan, cari alternatif, menyusun soal atau pertanyaan. 

Problem posing dengan ciri khas elaborasi inilah yang akan mengantarkan peserta didik dalam memahami konsep dengan cara mengidentifikasi serta mensintesis dari suatu masalah sehingga melatih daya nalar berfikir kritis dengan cara pengajuan atau pembentukan soal. 

Brown dan Walter menyatakan Problem Posing (pembuatan soal) dalam pembelajaran matematika melalui dua perspektif kegiatan kognitif, yaitu accepting (menerima) dan challenging (menantang). Dalam suatu pembelajaran accepting terjadi ketika peserta didik membaca situasi atau informasi yang diberikan guru dan challenging terjadi ketika peserta didik berusaha untuk mengajukan soal berdasarkan situasi atau informasi yang diberikan. 

B. Fase-Fase Pembelajaran Problem Posing 

 a) The first phase of problem posing: Accepting 

1) Sticking to the given: some examples
− Example 1. A ”Real-Life” Situation.
− Example 2. A Geometric Situation.
− Example 3. Concrete Material.
− Example 4. Looking at Data.
− Example 5. Simple Number Sequence. 

2) Strategies for phase one
− Things to do with phenomena.
− Internal versus external exploration.
− Exact versus approximate exploration
− Historical exploration: actual versus hypothetical.
− A handy list of questions. 

b) The second  phase of problem posing: What-If-Not The major stages of our strategy are:

Level 0  choosing a starting point
Level 1  listing attributes
Level 2  what-if-not-ing
Level 3  question asking or problem posing
Level 4  analyzing the problem

Dari penjelasan di atas yang dimaksud fase atau tahap pertama dari problem posing yaitu tahap menerima. Yang dimaksud penerimaan  di sini yaitu ketika peserta didik membaca situasi atau informasi yang diberikan oleh guru. Strategi pada fase pertama ini dimulai dari peserta didik mengamati hal-hal yang berhubungan dengan fenomena yang terjadi, mencerna apa yang mereka amati kemudian menghubungkan dengan keadaan yang sebenarnya atau bisa disebut juga aplikasinya dalam kehidupan, kemudian muncul perkiraan yang nantinya akan dibandingkan dengan keadaan yang sebenarnya. Strategi selanjutnya yaitu menelusuri sejarah dari suatu masalah atau perkiraan tadi kemudian baru muncul hipotesis atau dugaan sementara, langkah selanjutnya membuat daftar pertanyaan yang sederhana. 

Fase atau tahap kedua adalah challenging (What-If-Not). Dalam bahasa indonesia bisa diartikan menantang (bagaimana jika tidak). Strategi dari fase kedua ini dimulai dari fase 0 yaitu memilih sebuah titik awal, siswa memilih materi mana yang sekiranya masih membingungkan, selanjutnya masuk ke level I yaitu membuat daftar atribut atau mengklasifikasikan materi-materi tersebut, kemudian dari daftar atribut tersebut akan muncul pertanyaan bagaimana jika tiap atribut tidak nampak seperti kelihatannya?. Apakah sebenaranya atribut tersebut?. Inilah yang disebut dengan level II. Kemudian pada level III baru muncul pertanyaan (problem posing). Setelah sampai pada level III selanjutnya masuk pada level terakhir yaitu level IV menganalisis masalah yang muncul tadi atau bisa disebut juga tahap evaluasi. 

Dalam Suyatno disebutkan ada tiga pengertian Problem Posing yaitu pertama, Problem Posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit. Kedua,Problem Posing adalah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain. Ketiga, Problem Posing adalah merumuskan atau membuat soal dari situasi yang diberikan. 

C. Jenis Model Problem Posing

Dalam pelaksanaannya dikenal beberapa jenis model Problem Posing antara lain :
  • Situasi problem posing bebas, siswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengajukan soal sesuai dengan apa yang dikehendaki . Siswa dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan untuk mengajukan soal. 
  • Situasi problem posing semi terstruktur, siswa diberikan situasi/informasi terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mengajukan soal dengan mengkaitkan informasi itu dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Situasi dapat berupa gambar atau informasi yang dihubungkan dengan konsep tertentu. 
  • Situasi problem posing terstruktur, siswa diberi soal atau penyelesaian soal tersebut, kemudian berdasarkan hal tersebut siswa diminta untuk mengajukan soal baru.
D. Langkah Langkah Model Problem Posing

Jadi langkah-langkah pembelajaran Problem Posing secara berkelompok adalah :
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi peserta didik untuk belajar. 
  • Guru menyampaikan informasi baik secara lewat bahan bacaan selanjutnya memberi contoh cara membuat soal dari informasi yang diberikan.  
  • Guru membentuk kelompok belajar antara 4-6 peserta didik tiap kelompok. 
  • Selama kerja kelompok berlangsung guru membimbing kelompokkelompok  yang mengalami kesulitan dalam membuat soal dan menyelesaikannya. 
  • Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dengan cara masing-masing kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya. 
  • Guru memberi penghargaan kepada peserta didik atau kelompok yang telah menyelesaikan tugas dengan baik. 
E. Kelebihan Model Problem Posing

Model Problem Posing  memiliki keuntungan sebagai berikut.
  • Dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk lebih menggunakan ketrampilan bertanya atau membahas suatu masalah. 
  • Dapat memberikan kesempatan pada para peserta didik untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai sesuatu kasus atau masalah. 
  • Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan bakat ketrampilan berdiskusi. 
  • Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan peserta didik sebagai individu serta kebutuhan belajar. 
  • Para peserta didik lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi. 
  • Dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi temannya, menghargai pendapat orang lain, mereka saling membantu kelompok dalam mencapai usaha bersama. 
  • Mempromosikan semangat inkuiri pada peserta didik. 
  • Mendorong peserta didik untuk belajar mandiri. 
  • Mempertinggi kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah.
Demikianlah pembahasan Artikel Model Pembelajaran yang berjudul Pengertian, Jenis, Langkah-Langkan dan Kelebihan Model Pembelajaran Problem Posing. semoga bermanfaat.
Sumber:
  •  Agus Suprijono. (2009).  Cooperative Learning Teori Dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • John M. Echols dan Hassan Shadily. (2006). Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT Gramedia
  • Stephen I. Brown and Marion I. Walter. (2005). The Art of Problem Posing. Lawrence Erlbaum Associates, Inc Publishers: Mahwah, New Jersey 
  • Suyatno. (2009).  Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Jawa Timur : Masmedia Buana Pustaka

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel