Tindakan Kriminal atau Kenakalan Pada Usia Remaja (Kenakalan Remaja)

Tindakan Kriminal atau Kenakalan Pada Usia Remaja (Kenakalan Remaja)

Wawasan Pendidikan. Kenalakan remaja dapat diartikan sebuah tindakan diluar norma yang berlaku pada masyarakat. Kata Norma menunjukkan bahwa kenakalan yang ada pada seorang remaja harusnya masih dalam tahap wajar. Tahap tahap dari tindakan yang dibuat tidak terlepas dari sebuah proses yang dilakukan seorang remaja untuk mencari jati diri dan tidak merugikan orang lain. Contoh dari pelanggaran norma yang dilakukan adalah memelihara rambut gondrong, merokok, mencoba minuman beralkohol bahkan melakukan sex bebas. Pelanggaran yang terberat adalah melakukan sex bebas masih dapat dikategorikan sebagai kenakalan remaj ajika dilakukan tanpa ada paksaan dari salah satu pihak. Jika kenakalan remaja dibiarkan terjadi terus menerus tanpa adanya teguran atau tindakan preventif, maka kenakalan remaja dapat saja berkembang menjadi tindakan kriminal karena adanya keinginan untuk mencoba sesautu yang lebih dari apa yang telah dilakukan. 

Kenakalan Remaja ini tentunya sangat berbeda dengan tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja. Penegasan ini mengingat penafsiran kenakalan remaja dijadikan sebagai periasi bagi remaja yang kerap melanggar aturan atau hukum yang ada. Seroang remaja yang melakukan pelanggaran atau tindak tindak kriminal seperti melakukan perampokan disertai pemberatan tidak bisa lagi dikategorikan sebagai kenakalan remaja. Melakukan pemerkosaan, menggunakan senjata tajam untuk merampok ataupun penggunaan psikotropika dengan sadar.

Sebernanya Payung hukum di Indoneisa sudah sangat jelas memebdakan antara sebuah tindakan kriminal dan  non kriminal sebagai aturan yang berlaku untuk setiap perlanggaran yang dilakukan. Kenakalan remaja karena hany asebatas pelanggaran norma, biasanya hanya di atur dalam perda misalnya anak pada usia remaja tidak boleh tinggal serumah dengan pasangan tidak resmi atau kasus lain seperti aksi vandalisme. Pemerintah harusny amenegakkan aturan yang jelas agar para pelanggar hukum pada usia remaja diberi tindakan yang tegas tapi tidak bersifat destruktif terhadap masa depan Pelaku. Akan tetapi ini seperti menjadi pisau bermata dua dimana hukum yang kurang tegas diberlakukan akan menjadi celah bagi pelanggar untuk melakukan pembelaan diri.