Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kenakalan Remaja dari Berbagai Aspek

wawasanpendidikan.com; kenakalan remaja dewasa ini semakin sering dibincangkan. berbagai cara telah dilakukan untuk menanggulangi kenakalan remaja, namun masih belum maksimal hasilnya. nah, yang paling perlu diketahui dari kenakalan remaja, apa-apa saja penyebabnya. kali ini sobat pendidikan akan mengupas tuntas tentang faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan remaja.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kenakalan Remaja dari Berbagai Aspek
Kenakalan Remaja
A. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kenakalan Remaja dari Berbagai Aspek
Berbicara  faktor-faktor terjadinya  kenakalan  remaja  sangat  luas dan  beragam,  sehingga  tidak ada satu  kesatuan  pendapat.  Ada  yang melihat dari sudut pandang psikologi, agama, ekonomi, hukum, sosiologi dan kriminologi.

Dari aspek kriminologi, W.A. Bonger dalam bukunya Inleiding tot de Criminologie, antara lain mengemukakan :

"Kenakalan remaja sudah merupakan bagian  yang besar dalam kejahatan.  Kebanyakan penjahat yang  sudah  dewasa  umumnya sudah sejak mudanya menjadi penjahat, sudah merosot kesusilaannya sejak kecil barang siapa menyelidiki sebab-sebab kenakalan remaja dapat mencari tindakan-tindakan pencegahan kenakalan remaja itu sendiri, yang kemudian akan berpengaruh baik pula terhadap pencegahan kejahatan orang dewasa."

Dalam formulasi yang lain,(Rusli Effendi 1978), menyatakan : "Perlunya diadakan penelitian yang mendalam di daerah- daerah  di  Indonesia  mengenai  sebab-sebab  kenakalan  remaja.  Karena tanpa penelitian tidak dapatlah diadakan penanggalan secara efesien dan efektif, lagi pula motif-motif kenakalan di berbagai daerah berbeda satu sama lain."

Menurut pengalaman POLRI, sebagai dikutip oleh Ninik Widiyanti dan Yullus Waskita (2005), "dalam menangani kasus yang terjadi di masyarakat dapat dikatakan banyak faktor yang turut mempengaruhi terjadinya kenakalan remaja. Untuk terjadinya suatu pelanggaran maka dua unsur harus bertemu yaitu niat untuk melakukan suatu pelanggaran dan kesempatan untuk melaksanakan niat tersebut. Jika hanya ada salah satu dari kedua unsur tersebut di atas maka tidak akan terjadi apa-apa, yaitu ada niat untuk melakukan pelanggaran tetapi tidak ada kesempatan untuk melaksanakan niat tersebut, maka tidak mungkin terlaksana pelanggaran itu."

Salah  seorang  ahli  kriminologi  di  Indonesia,  Soejono Dirdjosisworo (2007), pada intinya membagi sebab musabab kenakalan remaja terdiri dari ":(1) sebab intern yang terdapat dalam diri si anak; (2) sebab eksteren yang terdapat di luar diri si anak."Sudarsono menguraikan sebab-sebab kenakalan remaja yang oleh penulis  disimpulkan  sebagai  berikut  :  kenakalan  remaja  akan  muncul karena beberapa sebab, baik karena salah satu maupun bersamaan, yaitu keadaan keluarga, keadaan sekolah dan keadaan masyarakat.

Dari sudut psikologi, Dadang Hawari (2005) Menyatakan:

"Remaja kita dalam kehidupannya sehari-hari hidup dalam tiga kutub, yaitu kutub keluarga, sekolah dan masyarakat. Kondisi masing-masing kutub dan interaksi antar ketiga kutub itu, akan menghasilkan dampak yang posisif maupun negatif pada remaja. Dampak positif misalnya prestasi sekolahnya baik dan tidak menunjukkan perilaku antisosial. Sedangkan dampak negatif misalnya, prestasi  sekolah  merosot,  dan  menunjukkan perilaku menyimpang (antisosial). Oleh karena itu pencegahan dan penanganan dampak negatif tersebut, hendaknya ditujukan kepada ketiga kutub tadi secara utuh dan tidak partial."

Raema  Andreyana (2006), menguraikan  faktor-faktor  yang  mendukung terjadinya delinkuensi remaja, yang penulis simpulkan sebagai berikut:
  1. Faktor keluarga, khususnya orang tua. Dalam hal ini orang tua yang kurang memahami arti mendidik anak, dan yang begitu sibuk bekerja.
  2. Hubungan suami istri yang kurang harmonis
  3. Faktor lingkungan
  4. Faktor sekolah, termasuk di  dalamnya  guru,  pelajaran,  tugas-tugas sekolah dan lain-lain yang berhubungan dengan sekolah.
Dari sudut ilmu pendidikan, M. Arifin(2004) mengamati masalah remaja dengan menguraikan faktor-faktor terjadinya.20 M. Arifin menganggap bahwa "keadaan dan lingkungan sekitar remaja puber yang bersifat negatif akan lebih mudah mempengaruhi tingkah laku yang negatif pula. Sebaliknya keadaan lingkungan sekitar yang bersifat positif akan mengandung  nilai-nilai  konstruktif  yang akan memberikan  pengaruh positif pula. Oleh karena situasi perkembangan jiwa remaja yang labil demikian itu, maka cenderung untuk melakukan penyimpangan yang dirasakan sebagai suatu proses terhadap situasi dan kondisi masyarakat yang kurang akomodatif terhadap angan-angan dan gejolak jiwanya." 

Menurut Abdullah Nashih Ulwan (1992), Banyak  faktor  penyebab  terjadinya  kenakalan  pada  anak  yang dapat  menyeret  mereka  pada dekadensi  moral  dan ketidakberhasilan pendidikan mereka di dalam masyarakat, dan kenyataan kehidupan yang pahit penuh dengan "kegilaan." Betapa banyak sumber kejahatan dan kerusakan yang menyeret mereka dari berbagai sudut dan tempat berpijak.

Oleh karena itu, jika para pendidik tidak dapat memikul tanggung jawab dan amanat yang dibebankan kepada mereka, dan pula tidak mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kelainan pada anak- anak serta upaya penanggulangannya, maka akan terlahir suatu generasi yang bergelimang dosa dan penderitaan di dalam masyarakat.
Menurut Abdullah Nashih Ulwan beberapa faktor yang menimbulkan kenakalan remaja di antaranya:
a.   "Kemiskinan yang Menerpa Keluarga b.   Disharmoni Antara Bapak dan Ibu
c.   Perceraian dan Kemiskinan Sebagai Akibatnya
d.   Waktu Senggang yang Menyita Masa Anak dan Remaja 
e.   Pergaulan Negatif dan Teman yang Jahat
f.   Buruknya Perlakuan Orang Tua Terhadap Anak."

Merujuk pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja akan muncul karena beberapa sebab, baik karena salah  satu  maupun  bersamaan,  yaitu  keadaan  keluarga,  keadaan sekolah  dan  keadaan  masyarakat.  faktor-faktor  yang  mendukung terjadinya   delinkuensi   remaja, yang   penulis   simpulkan   sebagai berikut:
  1. Faktor keluarga, khususnya orang tua. Dalam hal ini orang tua yang kurang memahami arti mendidik anak, dan yang begitu sibuk bekerja.
  2. Hubungan suami istri yang kurang harmonis
  3. Faktor lingkungan
  4. Faktor sekolah, termasuk di dalamnya guru, pelajaran, tugas-tugas sekolah dan lain-lain yang berhubungan dengan sekolah
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kenakalan Remaja Menurut Ahli
Seseorang yang melakukan perbuatan nakal tentu tidak terjadi dengan sendirinya/bersifat spontan. Akan tetapi kenakalan yang dilakukan oleh seseorang pasti ada penyebabnya atau ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Seperti yang dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu:  

1. Menurut Murdaningsih dalam Kartono (1991) 3 faktor yang melatarbelakangi terjadinya kenakalan remaja:

a. Lingkungan keluarga 
  • Status ekonomi orang tua rendah, keluarga besar, rumah kotor.  
  • Memiliki kebiasaan yang kurang baik 
  • Tidak mampu mengembangkan ketenangan emosional 
  • Anak yang tidak mendapatkan kasih sayang orang tua 
  • Anak asuh  
  • Tidak ada persekutusan antara anggota keluarga 
  • Orang tua kurang memberi pengawasan pada anaknya 
  • Broken home (karena kematian, perceraian, hukuman, dan lain-lainnya) 
b. Lingkungan sekolah 
  • Sekolah yang berusaha memandaikan anak-anak yang sebenarnya kurang mampu 
  • Guru bersikap reject (menolak) 
  • Sekolah atau guru yang mendisiplinkan anak dengan cara yang kaku, tanpa menghiraukan perasaan anak 
  • Suasana sekolah buruk. Hal ini menimbulkan anak suka membolos, segan/malas belajar, melawan peraturan sekolah atau melawan guru, anak meninggalkan sekolah (drop out) dan lain-lainnya. 
c. Lingkungan masyarakat 
  • Tak menghiraukan kepentingan anak dan tidak melindunginya 
  • Tidak memberi kesempatan pada anak untuk melaksanakan kehidupan sosial, dan tidak mampu menyalurkan emosi anak 
  • Adanya contoh tingkah laku dan tempat-tempat tercela serta melawan norma (misal: pelacuran, perjudian, kriminalitas, hasut-menghasut dan lain-lainnya) (Kartono, 1991).   
Apabila ketiga unsur di atas ini mempengaruhi seorang anak ‘lemah’ pada waktu yang sama, maka mudahlah anak menjadi seorang delinkuen. Hal ini juga bisa ditunjang oleh adanya surat kabar, majalah, radio, bioskop, TV yang seolah-olah memuji kejahatan, sehingga anak mencontoh kepahlawanan para penjahat dan kelihaiannya yang unik (Kartono, 1991).  

2. Menurut Sofyan Willis (2004) ada 4 faktor yang melatarbelakangi terjadinya kenakalan remaja: 
a. Faktor-faktor yang ada di dalam diri anak sendiri, seperti: 
  • Predisposing factor, yaitu faktor kelainan yang dibawa sejak lahir seperti cacat keturunan fisik maupun psikis. 
  • Lemahnya kemampuan pengawasan diri terhadap pengaruh lingkungan. 
  • Kurangnya kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. 
  • Kurang sekali dasar-dasar keagamaan di dalam diri, sehingga sukar mengukur norma luar atau memilih norma yang baik di lingkungan masyarakat. Anak yang demikian amat mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik. 
b. Sebab yang berasal dari lingkungan keluarga yaitu: 
  • Anak kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua, sehingga terpaksa ia mencari di luar rumah seperti di dalam kelompok kawan-kawannya, padahal tidak semua teman-temannya itu berkelakuan baik, tetapi lebih banyak berkelakuan kurang baik. 
  • Lemahnya keadaan ekonomi orang tua menyebabkan tidak mampu mencukupi kebutuhan anak-anaknya. 
  • Kehidupan keluarga yang tidak harmonis seperti keluarga broken home. 
c. Sebab-sebab yang bersumber dari masyarakat meliputi: 
  • Kurangnya pelaksanaan ajaran-ajaran agama secara konsekuen. 
  • Masyarakat yang kurang memperoleh pendidikan. 
  • Kurangnya pengawasan terhadap remaja. 
  • Pengaruh norma-norma baru di luar, seperti norma yang datang dari Barat, baik melalui film-film TV, pergaulan sosial, dan lain-lain.  
d. Sebab-sebab yang bersumber dari sekolah meliputi: 
  • Faktor guru seperti ekonomi guru yang kurang, mutu guru yang kurang bagus. 
  • Faktor fasilitas pendidikan. Kurangnya fasilitas pendidikan menyebabkan penyaluran bakat dan keinginan murid-murid terhalang, bakat dan keinginan yang tidak tersalur pada masa sekolah akan mencari penyaluran kepada kegiatan-kegiatan yang negatif seperti tidak ada lapangan sekolah, kurang alat-alat pelajaran, alat-alat praktek, alat-alat kesenian dan olah raga dapat mengganggu pendidikan 
  • Norma-norma pendidikan dan kekompakan guru Di dalam mengatur anak didik perlu norma yang sama bagi setip guru dan norma tersebut harus dimengerti oleh anak didik. Jika di antara guru terdapat perbedaan norma dalam cara mendidik maka akan menjadi sumber timbulnya kenakalan anak-anak. Pepatah mengatakan “jika guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari” berarti guru harus menjadi teladan di mana saja dia berada. 
  • Kekurangan guru. Jika sebuah sekolah jumlah guru tidak mencukupi maka ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi seperti: pertama, penggabungan kelas-kelas oleh seorang tenaga guru dapat menimbulkan berbagai kerugian seperti guru lelah, kelas ribut, pelajaran tak berketentuan dan sebagai akibat kan timbul berbagai tingkah laku negatif pada anak didik misalnya bolos, berkelahi, mencuri barang dan uang teman, dan sebagainya. Kedua, pengurangan jam pelajaran akan merugikan murid, sebab murid tidak menerima bahan pelajaran  sesuai dengan kurikulum, sehingga murid mempunyai waktu luang di luar sekolah terlalu banyak, dan ini dapat mengakibatkan berbagai gejala kenakalan. Ketiga, meliburkan murid, ini dapat berbahaya. Jika anak mempunyai waktu senggang terlalu panjang maka berbagai hal yang negatif akan terjadi di rumah dan di masyarakat (Willis, 2004)
C. Faktor-Faktor yang Menentukan Kepribadian dan Watak Remaja
Di samping faktor-faktor di atas, faktor-faktor lainnya yang menentukan kepribadian dan watak remaja dapat dikelompokkan menjadi empat bagian yaitu: 

a. Faktor organobiologik 
Perkembangan mental intelektual (taraf kecerdasan) dan mental emosional (taraf kesehatan jiwa) banyak ditentukan sejauhmana perkembangan susunan syaraf pusat (otak) dan kondisi fisik organ tubuh lainnya. Perkembangan anak secara fisik sehat memerlukan gizi makanan yang baik dan bermutu. Sedangkan perkembangan organ otak sudah dimulai sejak bayi dalam kandungan hingga bayi berusia 4 – 5 tahun (usia balita). Sebab pada saat inilah struktur otak, baik dalam jumlah sel-sel otak maupun ukuran besarnya sel-sel itu sudah terbentuk sempurna dengan catatan bahan baku utama (gizi protein) mencukupi dan tidak ada gangguan penyakit yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak itu (Hawari, 2001)

b. Faktor Psiko-Edukatif 
Tumbuh kembang anak secara kejiwaan (mental intelektual) dan mental emosional, yaitu IQ dan EQ amat dipengaruhi oleh sikap, cara kepribadian orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Dalam tumbuh kembang anak itu terjadi proses imitasi dan identifikasi anak terhadap kedua orang tua. Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang tua mengetahui beberapa aspek pengetahuan dasar yang penting sehubungan dengan pribadi anak (Hawari, 1999: 159). Kecedasan emosi merupakan serangkaian kemampuan dan kecakapan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan dari lingkungan (Stain dan Book, 2002 ). 

Faktor psiko-edukatif ini prosesnya akan mengalami gangguan apabila dalam suatu keluarga akan mengalami apa yang dinamakan dengan disfungsi keluarga. Suatu keluarga dikatakan mengalami disfungsi manakala keluarga itu terjadi gangguan dalam keutuhannya, peran orang tua, hubungan interpersonal antara anggota keluarga, dan hal-hal yang terkait (Hawari, 2001)

c. Faktor Sosial Budaya 
Faktor sosial budaya sangat penting perannya dalam proses pembentukan kepribadian anak di kemudian hari. Perubahan sosial yang serba cepat adalah sebagai konsekuensi globalisasi, modernisasi, industrialisasi, dan ilmu pengetahuan (IPTEK) yang telah mengakibatkan perubahan-perubahan pada nilai-nilai moral, etik, kaidah agama dalam pendidikan anak dan pergaulan. Perubahan-perubahan nilai sosial budaya ini terjadi karena pergeseran pola hidup dari yang semula bercorak sosial religius kepada pola individual materialis dan sekuler (Hawari, 1999: 206). 

Kenyataan di atas, menunjukkan keterkaitan seseorang, baik fungsi dan peranannya di masyarakat yang selalu mempunyai nilai-nilai, prinsip-prinsip, moral, cara-cara hidup yang dihayati oleh semua anggota masyarakat itu. Jika nilai-nilai itu bersifat universal, seperti menghormati orang tua, maka setiap manusia menghormati orang tuanya, pengalaman umum inilah yang menjadi bagian dari seseorang yang sama dengan banyak orang lain di sekitarnya. Artinya semua orang yang ada dalam masyarakat, sedikit banyak mempengaruhi pribadi seorang anak. Mau tidak mau seseorang harus mengikuti aturan dan norma yang ada dalam masyarakat sekitarnya yang memiliki kondisi sosial budaya yang berbeda dengan masyarakat lainnya. 

d. Agama 
Bagaimanapun perubahan-perubahan sosial budaya terjadi maka agama hendaklah tetap diutamakan, sebab darinya terkandung nilai-nilai moral etik, dan pedoman hidup sehat yang universal serta abadi sifatnya. Erich From menilai bahwa kepribadian terdiri dari watak dan karakter. Watak termasuk unsur yang tetap (tidak berubah), sedangkan karakter terbentuk dari asimilasi dan sosialisasi. 

sumber:
  • M.Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan umum, (Jakarta: Bumi Aksara, edisi terbaru, 2004), 
  • Effendy, Rusli. 1978. Asas-Asas Hukum Pidana. LEPPEN-UMI, Ujung Pandang
  • Abdullah  Nashih  Ulwan,  Tarbiyatul  Aulad  Fil  Islam,  terj.  Jamaluddin  Mirri, "Pendidikan Anak dalam Islam" Jilid 1, (Bandung: PT-Rosdakarya, 1992), 
  • Dadang Hawari, Psikiater, al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 2005),
  • Raema Andreyana dalam Kartini Kartono, Bimbingan Bagi Anak dan Remaja yang Bermasalah, Ed. I, ( Jakarta: CV. Rajawali, 2006), 
  • W.A. Bonger, Pengantar tentang Kriminologi, terj. R.A. Koesnoen, (Jakarta: PT. Pembangunan, 2005), 
  • Willis, Sofyan S. (2004). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta 
  • Ninik   Widiyanti   dan   Yullus   Waskita,   Kejahatan   dalam   Masyarakat   dan Pencegahannya, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 2005), 
  • Soejono Dirdjosisworo, Bunga Rampai Kriminologi, (Bandung: Armico, 2007), 
  • Hawari Dadang. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2001. p. 3-11, 27-33, 56-61.
  • Kartono, K. (1991). Bimbingan Bagi Anak dan Remaja yang Bermasalah. Ed 1 Cet. 2. Jakarta: Rajawali Press