Pengertian dan Asal Mula Kenakalan Remaja Menurut Para Ahli

wawasanpendidikan.com; menurut roma irama, masa remaja adalah masa yang berapi api jadi wajar jika seandainya dimasa tersebut remaja banyak membuat ulah yang diluar batas kontrol. mungkin sahabat pendidikan mulai bingung. baiklah, pada postingan ini sobat pendidikan akan menjalaskan tentang asal mula dan pengertian dari kenakalan remaja. semoga bermanfaat.

Pengertian dan Asal Mula Kenakalan Remaja Menurut Para Ahli
Kenakalan Remaja

Secara etimologi, kata "remaja" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti mulai dewasa, sudah sampai umur untuk kawin. Istilah asing yang sering dipakai untuk menunjukkan masa remaja, antara lain: puberteit, adolescentia dan youth. Dalam bahasa Indonesia sering pula dikatakan pubertas atau remaja. Dalam berbagai macam kepustakaan istilah-istilah tersebut tidak selalu sama uraiannya. Apabila melihat asal
kata istilah-istilah tadi, maka akan diperoleh:

a.   "Puberty (Inggris) atau puberteit (Belanda) berasal dari bahasa Latin: pubertas. Pubertas berarti kelaki-lakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian.
b. Adolescentia  berasal  dari  kata  Latin:  adulescentia.  Dengan adulescentia  dimaksudkan  masa  muda,  yakni  antara  17  dan  30 tahun."

Dari  pemakaian  istilah  di  beberapa  negara  dapat  disimpulkan bahwa tujuan penyorotan juga tidak selalu sama, walaupun batas-batas umur yang diberikan dalam penelaahan mungkin sama. Dari kepustakaan didapatkan  bahwa  puberteit  adalah  masa  antara  12  dan  16  tahun. Pengertian pubertas meliputi perubahan-perubahan fisik dan psikis, seperti halnya pelepasan diri dari ikatan emosionil dengan orang tua dan pembentukan rencana hidup dan sistem nilai sendiri. Perubahan pada masa ini  menjadi  obyek  penyorotan  terutama  perubahan  dalam  lingkungan
dekat, yakni dalam hubungan dengan keluarga.

Adolescentia adalah masa sesudah pubertas, yakni masa antara 17 dan 22 tahun. Pada masa ini lebih diutamakan perubahan dalam hubungan dengan lingkungan hidup yang lebih luas, yakni masyarakat di mana ia hidup.  Tinjauan  psikologis  dilakukan  terhadap  usaha  remaja  dalam mencari dan memperoleh tempat dalam masyarakat dengan peranan yang tepat.  Menurut F.J. Monks, masa remaja sering pula disebut adolesensi

(Latin, adolescere = adultus = menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa).
Secara terminologi, para ahli merumuskan masa remaja dalam pandangan dan tekanan yang berbeda, di antaranya menurut Zakiah Daradjat, masa remaja (adolesensi) adalah
"masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, di mana anak-anak mengalami pertumbuhan cepat di segala bidang. Mereka bukan lagi anak-anak, baik bentuk jasmani, sikap, cara berfikir dan bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Masa ini mulai kira-kira pada umur 13 tahun dan berakhir kira-kira umur 21 tahun."

Menurut M. Arifin,
"Bagi  setiap  remaja  mempunyai batasan usia bagi  remaja  masing- masing yang satu sama lain tidak sama. Di negara Indonesia, dalam rangka   usaha   pembinaan   dan   usaha   penanggulangan  kenakalan remaja, agar secara hukum jelas batas-batasnya, maka ditetapkanlah batas usia bawah dan usia atas. Batas usia bawah sebaiknya adalah 13 tahun dan batas usia atas adalah 17 tahun baik laki-laki maupun perempuan dan yang belum kawin (nikah). Dengan demikian, maka perilaku yang nakal yang dilakukan oleh anak di bawah umur 13 tahun dikategorikan dalam kenakalan “biasa” dan sebaliknya perilaku nakal oleh anak usia 18 tahun ke atas adalah termasuk dalam tindak pelanggaran atau kejahatan. Penentuan batas usia tersebut di atas berdasarkan alasan di antaranya: kenakalan remaja, menurut data yang diperoleh selama ini, banyak terjadi dalam bentuk dan sifat kenakalan yang dilakukan oleh anak usia 13 tahun sampai dengan anak usia 17 tahun. Bentuk kenakalan yang dilakukan oleh anak usia sebelum 13 tahun  pada  umumnya  belum  begitu  serius  dan  membahayakan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh anak usia 13 tahun atas. Sedang  usia  18  tahun  ke  atas  adalah  dipandang sudah  menjelang dewasa yang telah terkena sanksi hukum." 

Adapun istilah kenakalan remaja merupakan terjemahan dari kata” Juvenile  Delinquency”.   Juvenile  berasal  dari  bahasa  Latin  juvenilis, artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat- sifat khas pada periode remaja. Delinquent berasal dari kata Latin “delinquere” yang berarti : terabaikan, mengabaikan; yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, a-sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana, dursila,   dan   lain-lain.   Delinquency   itu   selalu   mempunyai   konotasi
serangan,  pelanggaran,  kejahatan  dan  keganasan  yang  dilakukan  oleh anak-anak muda di bawah usia 22 tahun.
"Istilah juvenile delinquency dikemukakan oleh para sarjana dalam rumusan yang bervariasi, namun substansinya sama misalnya : Kartini Kartono mengatakan juvenile delinquency (juvenilis = muda, bersifat kemudaan; delinquency dari delinqucuere = jahat, durjana, pelanggar, nakal) ialah anak-anak muda yang selalu melakukan kejahatan, dimotivir untuk   mendapatkan   perhatian,   status   sosial   dan   penghargaan   dari lingkungannya."

John M Echols dan Hassan Shadily, menterjemahkan juvenile delinquency sebagai kejahatan/kenakalan anak-anak/anak muda/muda- mudi.10 Lembaga Pengadilan di Amerika merumuskan juvenile delinquent
sebagai berikut:
"Juvenile delinquency in most jurisdiction is technically speaking a child or young person (in most states under 16, 17, 18; in two states under 21) who has commited an offense for which he may referred to juvenile court authorities."

Berdasarkan perumusan ini dapat digaris bawahi: (a) bahwa anak harus berumur 21 tahun, (b) termasuk yurisdiksi pengadilan anak. Faktor inilah yang menentukan status seseorang menjadi juvenile delinquent.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja yaitu kehidupan remaja  yang menyimpang dari  berbagai pranata dan norma yang berlaku umum  atau  remaja  yang perbuatannya menyimpang dari norma-norma   agama,   hukum,   dan   adat   istiadat   yang   hidup   dan berkembang dalam masyarakat sehingga meresahkan kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Adapun jenis-jenis bentuk kenakalan remaja seperti, kebut-kebutan di jalan raya yang membahayakan, ugal-ugalan, berandalan, urakan yang mengacaukan   lingkungan,   perkelahian   antar   gang,   tawuran   yang membawa kurban jiwa, membolos sekolah lalu bergelandangan di jalan-jalan dan mal-mal.


sumber: 
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), hlm.
Ny. Y. Singgih D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, Psikologi Remaja, (Jakarta: BPK Gunung Agung, 2006), hlm. 14 – 15.
F.J. Monks, et.al, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2009), hlm. 261 – 262.
Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 2007), hlm. 101. 
M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, (Jakarta: PT Golden Terayon Press, 2006), hlm. 80 – 81.
Kartini Kartono, Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), hlm.6.
Kartini Kartono, Patologis Sosial 3 Gangguan-gangguan Kejiawaan, (Jakarta: CV. Rajawali, 2010), hlm 209.
John M. Echols, Kamus Inggris Indonesia (An Engglish-Indonesian Dictionary), (Jakarta: PT Gramedia, 2009), hlm. 339. 
Simanjutak,  Pengantar  Kriminologi  dan  Patologi  Sosial,  (Bandung:  Transito,
2006), hlm. 292.