Dimensi-Dimensi dan Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia

wawasan pendidikan; Ada empat macam dimensi yang akan di bahas. Yaitu; Dimensi keindividuan, Dimensi kesosialan, Dimensi kesusilaan, Dimensi keberagamaan

picture by kuliahislam.com

Dimensi-Dimensi Hakikat Manusia

1.    Dimensi Keinduviduan
Lysen mengartikan individu sebagai “orang-seorang”, sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in devide). Selanjutnya individu diartikan sebagai pribadi. Setiap anak manusia yang dilahirkan telah dikaruniai potensi untuk menjadi berbeda dari yang lain, atau menjadi (seperti) dirinya sendiri. (Baca Juga Hakekat Manusia: Sifat dan wujud Hakikat Manusia )

Dikatan bahwa setiap individu bersifat unik (tidak ada tara dan bandingannya).secara fisik mungkin bentuk muka sama tetapi terhadap perbedaan mengenai matanya.gambaran tersebut telah dikemukakan oleh francis galton seorang ahli biologi dan matematika inggris, dari hasil penelitiannya derhadap anyak pasangan kembar satu telur. 

Pola pendidikan yang bersifat demokratis di pandang cocok untuk mendorong bertumbuh dan berkembangnya potensi individualitas sebagaimana di maksud. 

2.    Dimensi Kesosialan
Dengan pernyataan tersebut diartikan bahwa setiap anak di karuniai benih kemungkinan untuk bergaul. Artinya, setiap orang dapat saling berkomunikasi yang pada hakikatnya didalamnya terkandung unsur saling memberi dan menerima. 

Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Betapa kuatnya dorongan tersebut sehingga bila dipenjarakan merupakan hukuman yang paling berat dirasakan oleh manusia,karena dengan diasingkan didalam penjara berarti diputuskannya dorongan bergaul tersebut secara mutllak. 

3.    Dimensi Kesusilaan

Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Akan tetapi, di dalam kehidupan bermasyarakat orang yang tidak cukup hanya berbuat yang pantas jika didalam yang pantas atau sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubunga. 

Sehubungan dengan hal tersebut ada dua pendapat yaitu, : 
  • Golo9ngan yang menganggap bahwa kesusilaan mencakup kedua-duanya. Etiket tidak usah dibedakan dari etiket karena sama-sama dibutuhkan dalam kehidupan, kedua-duanya bertalian erat.
  • Golongan yang memandang bahwa etiket perlu dibedakan dari etika, karena masing-masing mengandung kondisi yang tidak selamanya selalu sejalan.
4.    Dimensi kebergamaan
Pada hakikat manusia adalah makhluk religius. Sejak dahulu kala, sebelum mengenal agama mereka telah percaya bahwa diluar alam yang dapat dijangkau dengan perantaraan alat indranya, diyakini akan adanya kekuatan supranatural yang mengusai hidup alam semesta ini. Kemudian setelah ada agama maka manusia mulai menganutnya. Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. 

Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia 

1.    Pengembangan yang utuh
Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua faktor, yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidikan yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya.
Selanjutnya perkembangannya yang utuh dapat dilihat dari berbagai segi yaitu : wujud dimensi dan arahnya.
a.    Dari wujud dimensinya
b.    Dari arah perkembangannya

2.    Pengembangan yang tidak utuh
Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensihakikat manusia akan terjadi di dalam proses pengembangannya jika ada unsur dimensi hakikat manusia yang terabaikan untuk ditangani, misalnya dimensi kesosialaan didominasi oleh pengembangan dimensi keindividualan ataupun domain afektif didominasi oleh pengembangan domain kognitif.    

Referensi
Abdul, kadir. 2012. Dasar-dasar pendidikan. Jakarta: kencana

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel