Tahapan-Tahapan Manajemen

wawasanpendidikan.com; pada postingan sebelumnya telah di dijelaskan secara rinci tentang Pengertian dan Unsur-Unsur Managemen. Kali ini sobat pendidikan akan melanjutkan pembahasan pada Tahapan-Tahapan Managemen. semoga bermanfaat.

Tahapan-Tahapan Manajemen 

Dalam kelancaran proses kegiatan manajemen diperlukan beberapa tahapan-tahapan yang dianggap penting. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut: 
  • Perencanaan 
Perencanaan merupakan tahapan pertama dari proses manajemen. Rencana-rencana itu  dibutuhkan untuk memberikan kepada organisasi tujuan-tujuannya dan menetapkan prosedur terbaik untuk mencapai tujuan-tujuan itu, dan perencanaan suatu pendekatan yang terorganisir untuk menghadapi problema-problema di masa yang akan datang (Sarwoto, 1978). 

Perencanaan adalah pemilihan dan menghubungkan fakta, menggunakan asumsi- asumsi tentang masa depan dalam membuat visualisasi dan perumusan kegiatan yang diusulkan dan memang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan (Terry, 2003). 

Perencanaan yang matang dan strategis (strategic planning) serta pertimbangan masa depan (fore casting) secara tepat merupakan salah satu modal suatu organisasi atau lembaga.  Perencanaan di sini dimaksudkan sebagai usaha untuk melakukan penyusunan rangkaian kegiatan atau program yang akan dilaksanakan, sekaligus menentukan time schedule dan hal-hal yang berkaitan dengan program atau kegiatan yang akan dilakukan.  

Proses perencanaan menurut Abdul Rosyad Saleh dalam bukunya Manajemen Dakwah Islam (Abdul, 1993), terdiri dari beberapa langkah, yaitu: 
a. Perkiraan dan penghitungan masa depan (forecasting) 
b. Penentuan dan perumusan sasaran dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan 
c. Penetapan tindakan-tindakan dan prioritas pelaksanaannya 
d. Penetapan metode 
e. Penetapan penjadwalan waktu 
f. Penempatan lokasi 
g. Penetapan biaya, fasilitas dan faktor-faktor lainnya yang diperlukan. 

Manfaat perencanaan bagi keberhasilan aktivitas dakwah: (Munir, Ilaihi, 2006) a. Dapat memberikan batasan tujuan (sasaran dan target dakwah) sehingga mampu mengarahkan para da‟i secara tepat dan maksimal. 
b. Menghindari penggunaan secara sporadis sumber daya insani dan menghindari pula benturan diantara aktivitas dakwah yang tumpang-tindih. 
c. Dapat melakukan prediksi dan antisipasi mengenai berbagai problema dan merupakan sebuah persiapan dini untuk memecahkan masalah dakwah. 
d. Merupakan usaha untuk menyiapkan kader da‟i dan mengenai fasilitas, potensi dan kemampuan umat. 
e. Dapat melakukan pengorganisasian dan penghematan waktu dan pengelolaannya secara baik. 
f. Menghemat fasilitas dan kemampuan insani serta materiil yang ada. 
g. Dapat dilakukan pengawasan sesuai dengan ukuran-ukuran objektif dan tertentu. 
h. Merangkai dan mengurutkan tahapan-tahapan pelaksanaan sehingga akan menghasilkan program yang terpadu dan sempurna. 

Sedangkan, adanya perencanaan diperlukan karena: (Munir, Ilaihi, 2006) 
a. Perencanaan dapat memberikan arah kemana dakwah itu harus dibawa. 
b. Dapat mengurangi dampak dari perubahan yang tidak diinginkan. 
c. Dapat meminimalisir suatu pemborosan dan kelebihan. 
d. Dapat menentukan standar dalam pengendalian dakwah. 
  • Pengorganisasian (organizing) 
Pengorganisasian didefinisikan sebagai penataan sekumpulan tugas ke dalam unit-unit yang dapat dikelola dan penetapan hubungan formal diantara orang-orang yang diserahi berbagai tugas (Sukiswa, 1978). Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantu. 

Dalam rangka pelaksanaan program-program harus diorganisasikan dengan baik, artinya pengelompokan dan pengaturan antara berbagai komponen yang ada maupun kegiatan digerakkan sebagai satu kesatuan sesuai dengan perencanaan yang ada. Setiap bidang yang ada dalam organisasi merupakan komponen yang membentuk satu sistem yang saling berhubungan baik secara vertikal maupun horizontal yang bermuara ke satu arah untuk mencapai suatu tujuan. 

Dalam proses pengorganisasian diperlukan berbagai rangkaian kegiatan, yaitu :   
a. Perumusan Tujuan  
b. Penetapan tugas pokok  
c. Perincian kegiatan 
d. Pengelompokan kegiatan – kegiatan dalam fungsi –fungsi 
e. Departementasi 
f. Pelimpahan wewenang  
g. Staffing 
h. Fasilitas  

Kekuatan suatu organisasi terletak pada kemampuan untuk menyusun berbagai sumber dayanya, dalam mencapai suatu tujuan. Semakin terkoordinir dan terintegrasi kerja organisasi, semakin efektif pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Adapun tujuan organisasi ialah untuk membimbing manusia-manusia bekerjasama secara efektif (Sarwoto, 1978). 

Pengorganisasian dalam penyelenggaraan bimbingan manasik haji meliputi pembagian tugas. Setelah pembagian tugas selesai kemudian dilanjutkan dengan penempatan orang atau petugas pada masing-masing unit untuk melaksanakan dan bertanggung jawab terhadap tugas tersebut. 
  • Penggerakan (actuating) 
Penggerakan merupakan bagian terpenting daripada proses manajemen, bahkan manajer praktis beranggapan bahwa pelaksanaan merupakan intisari daripada manajemen. Pelaksanaan bimbingan manasik haji dilaksanakan oleh panitia yang dibentuk Kementerian Agama Kabupaten Buyolali. 
  • Pengawasan (controlling) 
Lembaga sesuai dengan prinsip pembagian tugas dan pemberian wewenang dan tanggung jawab harus selalu memberikan kontrol atau mengendalikan setiap kegiatan yang dilakukan. Dengan demikian akan dapat dihindari adanya penyimpangan-penyimpangan yang dapat berakibat fatal bagi mekanisme organisasi, sehingga dapat mengganggu pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. 

Oleh sebab itu, lembaga harus selalu memonitor dan mengawasi setiap kegiatan atau pelaksanaan program, sehingga masalah-masalah yang dapat mengganggu jalannya roda organisasi dapat sedini mungkin diketahui, agar dapat segera diambil langkah-langkah perbaikan untuk mencapai tujuan yang ada. Di samping itu, dengan tindakan-tindakan monitoring tersebut lembaga juga dapat segera mengadakan evaluasi terhadap seluruh kegiatan yang telah dilanjutkan sesuai dengan program kerja guna kepentingan pengembangan selanjutnya. 

Pengawasan dapat dilaksanakan dan dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) teknik, yaitu teknik langsung dan pengawasan tidak langsung. Pengawasan langsung adalah pengawasan yang dilakukan oleh manajer pada waktu kegiatan-kegiatan sedang berjalan, sedangkan pengawasan tidak langsung  adalah pengawasan dari jarak jauh melalui laporan yang disampaikan oleh bawahan (Sarwoto, 1978). 

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kegiatan pengawasan baik internal maupun eksternal, memiliki tujuan: (Kayo, 2007) 

a. Mempertebal rasa tanggung jawab terhadap seseorang yang diserahi tugas dalam melaksanakan kegiatan dakwah. 
b. Mendidik agar kegiatan dakwah dapat dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang telah ditentukan. 
c. Mencegah terjadinya kelalaian atau kesalahan dalam melaksanakan kegiatan dakwah. 
d. Memperbaiki kesalahan yang terjadi agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang, sehingga kegiatan dakwah dapat berjalan lebih aktif dan profesional. 

Demikianlah pemaparan artikel tentang Tahapan-Tahapan Manajemen  semoga bermanfaat.
Daftar Pustaka
  • Sarwoto. (1978). Organisasi dan Managemen. Jakarta: Ghalia Indonesia
  • Terry (2003). Dasar-dasar Managemen. Jakarta: Bumi Aksara
  • Abdul Halim & Sarwoko. (1993). Managemen Keuangan edisi kedua. Yogyakarta: BPFE
  • Munir, M dan Wahyu Illahi, (2009), Manajemen Dakwah, Jakarta : Kencana Prenada Media Group. 
  • Khatip, pahlawan kayo , 2007, Manajemen Dakwah , jakarta: Amzah