Contoh Makalah Iman dan Nilai Nilai Sosial

Contoh Makalah Iman dan Nilai Nilai Sosial


BAB I
PENDAHULUAN

Wawasanpendidikan.com,- Islam sebagai agama mengajarkan hal  yang berbeda dengan agama lain. Perhatian Islam tidak hanya menyangkut hubungan antara manusia akan tetapi juga memperhatikan bagaimana seharusnya antara manusia satu dengan yang lain bisa berinteraksi dengan baik.

Berbagai macam criminal yang menghiasi media massa seperti perzinaan, pencurian, khomr, pembinuhan dll. Kita sebagai umat manusia yang masih mempunyai hati nurani merasa prihatin. Perlu diketahui penyebab dasar dari semua criminal-kriminal di atas karena adanya kemerosotan iman. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa adanya peran besar iman dalam menegakkan nilai-nilai sosial serta kita mengetahui bahwa iman itu tidak hanya bersifat teologi akan tetapi juga bersifat individual yamg seterusnya akan berimplikasi pada ranah sosial.

Maka dari itu pemakalah akan menkaji hal-hal yang berkenaan dengan peran iman dalam masyarakat serta menampilkan kasus-kasus yang ada dalam ranah sosial sehingga bisa kita pahami bahwa ada pengaruh yang kuat dari iman dalam membentuk masyarakat yang sejahtera yang dilandasi dengan iman.

Adapun masalah-masalah yang akan pemakalah bahas dalam makalah ini antara lain

1. Korelasi Iman dan Amal
2. Iman dan Cabang-Cabangnya sebagai refleksi sosial
3. Analisis Hadits
4. Korelasi iman dengan perkara-perkara sosial

BAB II
IMAN DAN NILAI-NILAI SOSIAL

a. Korelasi Iman dan Amal

Sebelum penulis mengkaji bagaimana iman berperan dalam masyarakat terlebih dahulu mengkaji seperti apa  korelasi iman dan amal sehingga kita bisa lebih memahami peranan iman ketika terjun ke ranah sosial.

Hubungan antara iman dengan amal adalah seperti hubungan antara budi dengan perangai. Jika iman telah tertanam dalam jiwa seseorang maka iman tersebut akan mendorongnya untuk mencari ridho Tuhannya serta mempersiapkan diri untuk menemuiNya serta menempuh jalan lurusNya. Contohnya saja seperti orang yang jujur maka dia tidak akan pernah berbohong dalam ucapan-ucapannya.

Dewasa ini banyak yang mengaku dirinya beriman akan tetapi belum berameorang tial sholeh maka keimanannya dikatakan “ iman KTP’’. Tidak ada satu ayat kitabullah yang menyebutkan iman secara tersendiri akan tetapi selalu dihubungkan dengan amal sholeh.  Bahkan dalam agama Islam ketika seseorang tidak mengerjakan amal sholeh maka dikatakan dia sedang dalam kekosongan jiwa dari aqidah dan lowongnya hati dari kelemahan.

Dengan amal tersebut kita bisa mengaplikasikan keimanan yang telah kita yakini dalam hati serta terucapkan oleh lesan. Dan adakalanya iman itu dilihat sebgai suatu sifat yang menghubungi perbuatan dan mengiringi perangai manusia demi untuk memperbaikinya dan menghubungkannya dengan Allah. Maka dari itu yang pertama disebutkan adalah amal sholeh sebagai tingkat permulaan dari wujud iman, barulah disebutkan iman sebagai syarat sah dan diterimanya amal.

b. Iman dan Cabang-Cabangnya sebagai Refleksi Sosial

Seperti yang kita ketahui bahwa pengertian Iman adalah menyakini dalam hati, mengucapakan dengan lisan dan merealisasikan dalam bentuk amal perbuatan, tanpa bukti amal perbuatan maka iman hanya omong kosong. Kadar keimanan seseorang bisa dilihat dari interaksi mereka dalam masyarakat. Sesuai yang dijelaskan dalam QS. An-Nahl ayat 97 : “Barang siapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik “[1]. Pengaruh iman itu berawal dari setiap individu akan tetapi lama-kelamaan akan berdampak pada sosial. Sehingga iman tidak hanya berdampak sesuatu yang  bersifat teologis akan juga sangat berhubungan dengan aspek sosiologis, karena antara aspek teologis , aspek sosiologis serta aspek individual  tidak bisa dipisahkan

Iman dirasa penting dalam ranah sosial karena antara manusia satu dengan manusia lainnya tidak terlepas satu sama lainnya. Maka dapat dipastikan bahwa dalam menjalani kehidupan manusia akan melakukan interaksi sosial. Adanya interaksi sosial ini tidak akan berjalan dengan lancar tanpa dilandasi dengan iman. Iman memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menciptakan interaksi sosial yang berdasarkan syari’at agama.

Peranan iman dalam imteraksi sosial antara lain sebagai pendidik, pengangkat kehidupan, pengantar menuju kebudayaan yang hakiki, sebagai sarana untuk mencapai suatu kebaikan dan kemajuan serta mendekatkan pada kebenaran dan keadilalan. Orang ynag telah beriman maka mereka akan memegang teguh serta menjunjung tinggi nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyrakat selama nilai-nilai tersebut sesuai syariat Islam.

Dibawah ini hadits pendukung yang bisa menjelaskan iman sebagai refleksi sosial:

“اتَّقِ الله حَيْثُمَا كُنْتَ وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ وَإِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً تَمْحُهَا ”

c. Analisis Hadits

Segi Sanad,- Hadits tersebut tedapat perbedaan susunan redaksi. Dalam kitab musnad Ahmad ditemukan ada empat redaksi matan yang berbeda akan tetapi maknanya sama. Empat redaksi tersebut antara lain:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي حَبِيبٌ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقِ الله حَيْثُمَا كُنْتَ وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ وَإِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً تَمْحُهَا[2]

Hadits lain di dalam Musnad Imam Ahmad:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ حَبِيبٍ عَنْ مَيْمُونٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَوْصِنِي قَالَ اتَّقِ الله حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ قَالَ أَبِي وَكَانَ حَدَّثَنَا بِهِ وَكِيعٌ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ مُعَاذٍ ثُمَّ رَجَعَ[3]

Di temukan pula hadits yang serupa:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي حَبِيبٌ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقِ الله حَيْثُمَا كُنْتَ وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ وَإِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً تَمْحُهَا[4]

Terdapat juga:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا مُعَاذُ أَتْبِعْ السَّيِّئَةَ بِالْحَسَنَةِ تَمْحُهَا وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ فَقَالَ وَقَالَ وَكِيعٌ وَجَدْتُهُ فِي كِتَابِي عَنْ أَبِي ذَرٍّ وَهُوَ السَّمَاعُ الأوَّلُ قَالَ أَبِي وَقَالَ وَكِيعٌ قَالَ سُفْيَانُ مَرَّةً عَنْ مُعَاذٍ[5]

Sanad yang terdapat dalam Hadits memiliki beberapa variasi sanad. Namun dalam Thabaqat Ula hanya terdapat satu syahid dan satunya adalah perawi. Yaitu Mu’adz ibn Jabal dan Abi Dzar Berbeda halnya dengan jalur periwayatan (sanad) yang lain, dijelaskan bahwasannya Hadits tersebut mukhatabnya adalah Mu’adz ibn Jabal, bahkan dalam musnad Imam Ahmad, sebelum Rasulullah saw menyabdakan Hadits tersebut ada sebuah percakapan antara Rasulullah saw dengan Mu’adz ibn Jabal. Mu’adz meminta Rasulullah untuk memberikan wasiat kepadanya, kemudian barulah Rasulullah bersabda Hadits di atas

Segi matan ( tektualisasi)

“اتَّقِ الله حَيْثُمَا كُنْتَ وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ وَإِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً تَمْحُهَا“

Dalam kitab syarah riyadl as-shalihin diterangkan bahwasannya haidts ini mengandung tiga perintah prinsip

Pertama, lafafdz اتق الله حيثما كنت adalah perintah agar senantiasa bertaqwa kepada allah di manapun dan kapanpun seorang mukmin berada.

Kedua,  أتبع السيئة الحسنة , yakni terjemah tekstual adalah “dan iringilah (ikutilah) sebuah perkara (perbuatan) buruk dengan perkara (perbuatan) yang baik”.

Dalam kitab tersebut diterangkan bahwasannya kebaikan dapat menghapus (menghilangkan) perkara yang buruk, seperti pada firman Allah swt dalam QS. Hud [11] ayat 114 :

وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِين

Ketiga, perintah yang terkandung dalam hadits terebut ialah خالق الناس بخلق حسن, dalam perintah yang ketiga ini, merupakan bahasan paling pokok dalam kajian hadits. Dengan adanya iman maka akan mendorong seseorang akan berakhlak mulia dalam masyarakat sebagai mana yang telah dicontohkan oleh Rasullah.

 d. Contoh korelasi iman dengan realita sosial

Untuk lebih jelasnya penulis memaparkan korelasi iman dengan realita-realita yang ada dalam masyarakat diantaranya :

Korelasi antara iman dengan mengucapkan salam serta shadaqah

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما : ان رجلا سال النبي صلي الله عليه و سلم اي الاسلام خير
قال تطعم الطعام و تقرا السلامة علي من عرف و من لم يعرف[6]

Dari Abdulloh ibn Umar ra. :Bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW.Beliau berkata : Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan orang yang tidak dikenal
Dari hadits di atas bisa kita tarik nilai-nilai sosial bahwa karekteristik orang yang beriman adalah gemar memberikan shadaqah. Keikhlasan memberikan shadaqah tidak akan timbul jika tidak ada pengaruh kuat dari iman. Menigkatnya rasa dermawan tersebut bisa bersumber pada nilai-nilai puasa yang tertanam dalam diri mukmin karena dengan puasa seorang mukmin bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang miskin seperti kurang maka atau minum[7].Semakin banyak orang yang bershadaqah maka akan mengurangi angka kemiskinan, sehingga tanpa tidak sengaja kita juga mengurangi tingkat kejahatan serta kekufuran yang mayoritas disebabkan karena adanya kemiskinan.

Dengan adanya shadaqah ini maka akan menciptakan suatu hubungan yang erat dalam masyarakat. Antara satu individu dengan individu lainnya akan dapat merasakan betapa indahannya sebuah persaudaraan dalam Islam dan hal ini tidak akan dicapai tanpa adanya interaksi yang dilandasi oleh iman.

Seperti halnya shadaqah, mengucapakan salam ternyata mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat. Sering mengucapakan salam memberikan tanda bahwa orang tersebut senang dalam menjalin hubungan silaturrohim. Orang yang sering mengucapakan salam baik kepada orang yang dia kenal ataupun tidak akan lebih banyak memiliki teman serta mereka akan merasa mudah dalam menjalin sebuah interaksi. Bisa kita buktikan biasanya orang yang jarang mengucapkan salam akan dianggap sombong sehingga sering kali timbul gunjingan yang mana gunjingan inilah yang menjadi pemicu adanya kejahatan dalam masyarakat. Sehingga dengan kita sering mengucapkan salam berarti kita telah berupaya untuk mengurangi angka kejahatan dalam masyarakat.

Korelasi antara iman dengan cinta kepada orang lain

عن اناس قال :قال النبي صلي الله عليه و اله و سلم لا يؤمن احدكم حتي ان اكون احب اليه من والده و ولده و الناس اجمعين (رواه البخاري )

Dari Anas berkata :Nabi bersabda “ tidak beriman salah seorang sehingga dia mencintai dirinya, orang tuanya, anaknya dan semua orang

عن انس عن النبي صلى الله عليه و اله و سلم قال : لا يؤمن احد كم حتي يحب لاخيه ما يحب لنفسه (رواه البخاري )

Dari Anas dari Nabi SAW bersabda : tidak akan beriman salah seorang sehinnga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri

عن ابي هريرة رضي الله عنه رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: من كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فليكرم جاره ومن كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فليكرم ضيفه[8] (رواه مسلم)   

Dari Abi Hurairoh ra. Rasulloh bersabda : Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka akam memulyakan tetangganya dan barang siapa yang beriman maka akan memulyakan tamunya.

Dari ketiga hadits di atas pada intinya sama bahwa salah satu karakteristik orang yang beriman adalah mencintai orang lain seperti dia mencintai dirinya sendiri. Maka akan terlihat jelas ketika mereka berusaha menghormati tetangga serta tamunya semata-mata demi mengharapkan keridhoan dari Allah. Mengharapkan keridhoan Allah tidak akan timbul jika tidak ada keimanan bahwa Allah itu ada. Dengan adanya iman, mereka akan mencintai orang lain seperti mereka mencintai dirinya sendiri. Hal ini akan menimbulkan dampak yang positif yaitu mereka akan berfikir dua kali jika ingin melakukan kejahatan kepada orang lain karena mereka akan merasa terdholimi jika sesuatu tersebut terjadi pada dirinya. Mereka akan beranggapan bahwa menyakiti orang lain berarti menyakiti diri sendiri.
       
Dengan adanya mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri juga akan membentuk jiwa yang terhindar dari keegoisan serta ketamakan yang menyebabkan hancurnya kesejahteraan dalam bermasyarakat

Korelasi antara iman dengan zina, mengkonsumsi khomr serta mencuri

عن ابي هريرة قال ان النبي قال : لا يزني الزاني حين يزن وهو مؤمن ولا يشرب الخمر حين يشربها و هو مؤمن ولا يسرق السارق حين يسرق و هو مؤمن ( رواه البحاري مسلم (

Dari itu Hurairoh berkata : Bahwa Nabi bersabda :Tidak berzina seorang pezina dan dia adalah mukmin dan tidak minum khomr ketika dia minum dan dia adalah mukmin dan seorang pencuri tidak akan mencuri ketika dia mencuri dan dia adalah mukmin.

Dari hadits diatas bisa ditarik kesimpulan :
  1. Tidak akan melakukan zina ketika pezina mempunyai iman
  2. Tidak akan mengkonsumsi khomr atau di zaman sekarang bisa dikatakan narkoba karena di zaman sekarang barang- barang yang memabukan tidak hanya arak saja tapi semua obat-obat terlarang.
  3. Tidak akan mencuri ketika pencuri mempunyai iman.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahah : 177 :

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ketiga kasus tersebutlah yang sering mewarnai masyarakat di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Ketiga kasus tersebut mempunyai korelasi yang sama dengan cerita di atas. Sebuah perzinaan akan menyebabkan garis keturunan menjadi tidak jelas bahkan sampai terjadinya pembunuhan.

Dewasa ini banyak kasus perceraian yang disebabkan adanya perselingkuhan bahkan perzinaan yang membuat kesejahteraan kita dalam bermasyarakat terusik. Semakin banyak prezinaan maka semakin banyak tingkat anak-anak terlantar. Maka adanya iman bisa menjadi sarana awal kita untuk berjuang menyelamatkan manusia di muka bumi ini agar terhindar dari kemiskinan serta perampasan hak-haknya

Adapun minum khomr dalam konteks sekarang tidak hanya bermakna arak, akan tetapi bermakna juga obat-obatan terlarang. Minum khomr adalah pemicu kejahatan lainnya. Minum khomr merupakan raja dari semua kemaksiatan. Hal ini terbukti jika seseorang telah mabuk maka dia akan melakukan perkara di luar kesadarannya serta jika uang mereka habis maka tidak menutup kemungkinan mereka akan mencuri sehingga  keamanan di lingkungan menjadi terganggu. Dengan modal iman maka setiap individu akan terdidik serta akan terantarkan kepada kebudayaan yang hakiki.

Korelasi antara iman dan Amanat

عن انس رضى الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا ايمان لمن لا امانة  ,

ولا دين لمن لا عهد له ( رواه احمد

 Dari Anas ra. Rosulloh bersabda : tidak ada iman bagi orang yang tidak amanat dan ada agama bagi orang yang tidak menepati janji (HR. Ahmad )

Sifat amanat ini juga dijelaskan dalan Al-Qur’an surat Al-Anfal : 27

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Konsep Amanat adalah adanya kesesuaian kebenaran baik secara dzahir maupun batin. Amanat merupakan sesuatu yang harus dijaga dan disampaikan kepada yang berhak. Mempertahankan dan memelihara iman agar tumbuh jadi kekal merupakan amanat. Ditinjau dari segi harfiyahnya lafadz iman dan amanat hampir sama, hal ini menjadi bukti adanya korelasi antara iman dengan amanat. Apabila seseorang memiliki iman maka mereka merasa takut kepada Allah apabila berbuat sesuatu yang menyebabkan kemurkaanNya, dari sinilah akan tumbuh sikap amanat karena dalam diri mereka sudah terdoktrin bahwa setiap akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah

Dalam suatu negara, sikap amanat dan jujur sangatlah penting. Di Indonesia contohnya,dari tahun ke tahun angka kemiskinan selalu meningkat. Salah satu faktornya adalah kurangnya iman dalam diri para pemerintah. Mereka tanpa rasa takut menggerogoti uang rakyat demi kepentingan pribadi. Di tinaju dari segi akibatnya satu kebohongan bisa menyebabkan kebohongan- kebohongan lainnya sehingga mau tidak mau harus melibatkan orang lain demi menutupi aibnya tersebut. Hal inilah yang akan menyebabkan semakin banyaknya tingkat kejahatan dalam ranah sosial.

Ironisnya di zaman sekarang orang yang amanat juga bisa dibenci. Contohnya saja Gus Dur, walaupun beliau jujur dalam menjalankan pemerintahan akan tetapi bagi mereka yang sudah tidak beriman dan tidak punya hati nurani maka beliau dianggap penghalang mereka demi mencapai tujuan yang hanya mementingkan sebelah pihak saja.

Dalam lingkup kecil saja begitu tampak korelasi antara iman dengan sosial. Kita contohkan saja menjaga rahasia juga merupakan amanat. Banyak kita temukan kasus permusuhan itu disebabkan karena kurang amanat dalam suatu rahasia. Maka imanlah yang akan mencover manusia agar tetap mempunyai rasa amanat dalam berinteraksi dengan masyarakat sehingga keharmonisan dalam sebuah interaksi akan abadi.

Korelasi antara iman dengan malu

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الحياء من الايمان و الايمان في الجنة و البذاء من الحفاء والجفاء في النار (رواه احمد و الترمذي )[9]
       
Rasulloh bersabda : Malu itu bagian dari iman dan iman tempatnya di syurga. Sedangkan tidak malu adalah bagian dari kekerasan dan kebekuaan hati yang akan menghantarkan seseorang masuk neraka”    

Sifat malu merupakan salah satu unsur pendorong yang kuat untuk berbuat kebajikan serta menjauhi perbuatan yang buruk dan jahat, sehingga sikap dan tingkah laku mereka dalam pergaulan menjadi bersih, sopan dan ramah. Dalam percakapan mereka akan jujur, tidak menuruti hawa nafsu serta malu jika melakukan perbuatan yang bertentangan norma- norma serta akhlak yang luhur .

Adapun yang termasuk malu yang harus dijaga baik-baik ialah orang harus benar-benar merasa malu pada dirinya sendiri bila ia melakukan sesuatu yang menimbulkan kesan buruk mengenai dirinya. Sedangkan yang termasuk malu terhadap orang lain ialah mengenal kedudukan masing-masing orang yang berhak dihormati sesuai dengan keutamaannya. Tidaklah patut jika seorang bawahan atau murid berbicara dengan suara yang lebih keras daripada suara atasan atau gurunya, dan tidak sopan pula jika murid atau bawahan berjalan mendahului atasan atau gurunya walau satu langkah.

Rasa malu bukanlah gejala pengecut, adakalanya seorang pemalu lebih suka meneteskan darah daripada kehilangan muka. Itu merupakan keberanian dalam bentuknya yang tertinggi!. Rasa malu adakalanya mengandung rasa khawatir. Orang berbudi luhur hanya khawatir akan kehilangan keluhurannya akibat suatu perbuatan yang tidak baik. Dalam hal itu, kekhawatiran menyertai keberanian, tepat pada tempatnya, dan patut dipuji. Sehingga, tidak diragukan lagi bahwa rasa malu yang sempurna terbentuk berdasarkan persiapan fitrah yang dipupuk sebelumnya

Dengan landasan iman, seseorang dapat mencapai tingkatan malu yang paling tinggi yaitu malu jika tidak memenuhi hak- hak Allah. Dengan selalu memenuhi hak- hak Allah maka jiwa manusia akan terlatih untuk selalu menghargai hak- hak hamba Allah, sehingga bisa menghilangkan sifat keegoisan seseorang ketika berinteraksi dalam ranah sosial.
BAB III
KESIMPULAN

Iman selain memberikan dampak positif pada setiap individu ternyata juga berdampak positif pada sosial karena keberhasilan dalam sosial itu tergantung pada setiap individu yang ada dalam masyarakat tersebut. Dalam ranah sosial maupun individual, iman berperan sebagai pendidik, pengangkat kehidupan, pengantar menuju kebudayaan yang hakiki, sebagai sarana untuk mencapai suatu kebaikan dan kemajuan serta mendekatkan pada kebenaran dan keadilalan.

Iman akan tumbuh dalam jiwa setiap orang sehingga kelompok manusia akan berbahagia, hidup dalam naungan kesejahteraan. Ranah sosial merupakan media orang yang beriman dalam mengapresiasikan keimanan mereka, karena belum dikatakan iman apabila seseorang belum melakukan amal sholeh, begitu juga amal tanpa iman yang benar maka tidak sah dan tidak diterima.

Adapun karakter- karakter orang yang beriman antara lain menjauhi zina, menghindari konsumsi khorm, menahan diri dari mencuri, banyak bershodaqah, sering mengucapakan salam baik kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal, mecintai prang lain seperti mencintai dirinya sendiri, serta amanat dan jujur dalam segala hal. Apabila karakter- karakter tersebut benar- benar tertanam dalam diri orang muslim maka secara otomatis akan tercipta interaksi yang sangat harmonis dalam lingkungan sosial.
  
DAFTAR PUSTAKA
Al- Bukhari, Abi Abdillah Muhammad Ibnu Ismail. Matan Al- Bukhori. Jeddah : Al-Haromain.
Baqi, Muhammad Fuad ‘Abdul. 1995. Al-lu’lu’ Wal Marjan. Surabaya : P.T. Bina Ilmu.
CD al-Maktabah al-Syamilah, Pustaka Ridawana. 2008.
CD Al-Qur’an al-Karim, Global Islamic Software. 2003.
CD Mausu`ah al-Hadits al-Syarif. Global Islamic Software.1991-1997.
Mas’ud, Abdurrahman. 2003. Menuju Paradigma Islam Humanis. Yogyakarta : Gama Media.
Sabiq, Sayyid.1988. Islamuna: Nilai- Nilai Islam 1. Yogyakarta : Sumbangsih Offset.
Sabiq, Sayyid.1988. Islamuna: Nilai- Nilai Islam 2. Yogyakarta : Sumbangsih Offset.
[1] ,Sayyid Sabiq. Islamuna: Nilai- Nilai Islam 1.( Yogyakarta : Sumbangsih Offset.1988)hal. 50
[2]Musnad Imam Ahmad no. 20556 kitab: Musnad al-Anshor bab: Hadits Abi Dzar al-Ghafary. CD Mausu`ah al-Hadits al-Syarif.
[3]Musnad Imam Ahmad no. 20435 kitab: Musnad al-Anshor bab: Hadits Abi Dzar al-Ghafary. CD Mausu`ah al-Hadits al-Syarif.
[4]Musnad Imam Ahmad no. 20556 kitab: Musnad al-Anshor bab: Hadits Abi Dzar al-Ghafary. CD Mausu`ah al-Hadits al-Syarif.
[5]Musnad Imam Ahmad no. 20984 kitab: Musnad al-Anshor bab: Hadits Abi Dzar al-Ghafary. CD Mausu`ah al-Hadits al-Syarif.
[6] Al- Bukhari, Abi Abdillah Muhammad Ibnu Ismail. Matan Al- Bukhori. Jeddah : Al-Haromain.
[7] Mas’ud, Abdurrahman. Menuju Paradigma Islam Humanis. (Yogyakarta : Gama Media.2003)hal. 2
[8]  Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi. Al-lu’lu’ Wal Marjan.( Surabaya : P.T. Bina Ilmu.1995) hal.18
[9] Sayyid Sabiq. Islamuna: Nilai- Nilai Islam 2.( Yogyakarta : Sumbangsih Offset.1988)hal.61