Proses Sosislisasi Masyarakat Kota

wawasanpendidikan.com. kali ini sobat pendidikan akan berbagi makalah tentang Proses Sosislisasi Masyarakat Kota. makalah ini menggambarkan tentang apa itu masyarakat kota, bagaimana ciri-cirinya serta proses sosialisasinya. makalah ini dibuat oleh agung kurniawan. dan untuk lebih jelas silahkan baca makalah ini secara keseluruhan. semoga makalah ini  bermanfaat bagi pembaca,,,,

Proses Sosislisasi Masyarakat Kota
Sosislisasi Masyarakat Kota


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kota slalu nampak sibuk. Masyarakat kota yang menjadi penghuni kota memerlukan tempat berteduh, tempat bekerja, tempat bergaul, dan tempat menghibur diri. Masyarakat kota adalah masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan atau tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non agraris.

Kesibukan masing-masing warga kota dalam tempo yang cukup tinggi dapat mengurangi perhatiannya kepada sesamanya. Apabila ini berlebihan maka mereka mampu akan mempunyai sifat acuh tak acuh atau kurang mempunyai toleransi sosial. Di kota masalah ini dapat diatasi dengan adanya lembaga atau yayasan yang berkecimpung dalam bidang kemasyarakatan.

Sosialisasi adalah sebagai suatu proses, membina masyarakat yang berpribadi. Sosialisasi diperoleh melalui kontak dengan lingkungan sosialnya, kontak dengan orang lain di masyarakat. Sosialisasi berkembang dari lingkungan yang terbatas dalam keluarga, makin lama makin meluas meliputi lingkungan-lingkungan sosial budaya di luar keluarga.anak dilahirkan sebagai individu, yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi pribadi. Individu itu mulai kontak dengan sekitarnya, terutama keluarganya, ibu, ayah, dan anggota keluarganya lainnya mulai mengenal dan menemukan “aku (self)”.

Keterkaitan antara individu dengan masyarakat dalam proses sosialisasi menjadi perhatian Erikson (1968). Keterkaitan antar individu dengan masyarakat sebagai sesuatu yang bersifat kooperatif daripada pertentangan. Masyarakat mempunyai tanggung jawab mensosialisasikan pada anggotanya dengan memberi tiap anggotanya kesempatan yang terbaik untuk pertumbuhan pribadi.

Kepadatan penduduk di kota-kota memang pada umumnya dapat dikatakan cukup tinggi. Biasanya sudah melebihi 10.000 orang/km2. Jadi, secara fisik di jalan, di pasar, di toko, di bioskop dan di tempat yang lain warga kota berdekatan tetapi dari segi sosial berjauhan, karena perbedaan kebutuhan dan kepentingan.
Perbedaan status, kepentingan dan situasi kondisi kehidupan kota mempunyai pengaruh terhadap sistem penilaian yang berbeda mengenai gejala-gejala yang timbul di kota. Penilaian dapat didasarkan pada latar belakang ekonomi, pendidikan dan filsafat. Perubahan dan variasi dapat terjadi, karena tidak ada kota yang sama persis struktur dan keadaannya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan masyarakat kota ?
2. Bagaimana ciri-ciri masyarakat kota ?
3. Apa yang dimaksud dengan proses sosialisasi ?
4. Apa peran agen sosialisasi dalam poses sosialisasi masyarakat kota ?
5. Bagaimana analisis proses sosialisasi masyarakat kota ?

C. Tujuan
1. Memahami apa yang dimaksud dengan masyarakat kota.
2. Memahami ciri-ciri masyarakat kota.
3. Memahami apa yang dimaksud dengan proses sosialisasi.
4. Mengetahui peran dari agen sosialisasi dalam poses sosialisasi masyarakat kota.
5. Mengetahui analisis proses sosialisasi pada masyarakat kota.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Masyarakat Kota
Masyarakat dapat mempunyai arti yang luas dan sempit. Dalam arti luas masyarakat adalah keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Atau dengan kata lain kebulatan dari semua perhubungan dalam hidup bermasyarakat. Dalam arti sempit masyarakat adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya teritorial, bangsa, golongan dan sebagainya.

Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia.
  1. Menurut Selo Sumardjan, masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
  2. Menurut Karl Marx, masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
  3. Menurut Emile Durkheim, masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
  4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut (http://fadlyghopal.wordpress.com).

Menurut menteri dalam negeri RI No. 4/1980 Kota adalah suatu wilayah yang mempunyai batas administrasi wilayah. Kota adalah lingkungan kehidupan yang mempunyai ciri-ciri nonagraris. Dan secara geografis kota adalah suatu bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala pemusatan penduduk tinggi, corak kehidupan yang heterogen, sifat penduduknya individualis dan matrealis.

Menurut Prof. Drs. R. Bintarto, Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik (Bintarto, 1984 : 44)

Masyarakat kota adalah masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan atau tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non agraris.

Kota yang telah berkembang maju mempunyai peranan yang lebih luas lagi antara lain sebagai berikut :
1. Sebagai pusat pemukiman penduduk.
2. Sebagai pusat kegiatan ekonomi.
3. Sebagai pusat kegiatan sosial budaya.
4. Pusat kegiatan politik dan administrasi pemerintah serta tempat kedudukan pemimpin pemerintahan (Bintarto, 1984 : 45)

B. Ciri-ciri Masyarakat Kota
1. Ciri-ciri masyarakat kota :
  • Pengaruh alam terhadap masyarakat kota kecil.
  • Mata pencahariannya sangat beragam sesuai dengan keahlian dan ketrampilannya.
  • Corak kehidupan sosialnya bersifat gesselschaft (patembayan), lebih individual dan kompetitif.
  • Keadaan penduduk dari status sosialnya sangat heterogen.
  • Stratifikasi dan diferensiasi sosial sangat mencolok. Dasar stratifikasi adalah pendidikan, kekuasaan, kekayaan, prestasi, dll.
  • Interaksi sosial kurang akrab dan kurang peduli terhadap lingkungannya. Dasar hubungannya adalah kepentingan.
  • Keterikatan terhadap tradisi sangat kecil.
  • Masyarakat kota umumnya berpendidikan lebih tinggi, rasional, menghargai waktu, kerja keras, dan kebebasan.
  • Jumlah warga kota lebih banyak, padat, dan heterogen.
  • Pembagian dan spesialisasi kerja lebih banyak dan nyata.
  • Kehidupan sosial ekonomi, politik dan budaya amat dinamis, sehingga perkembangannya sangat cepat.
  • Masyarkatnya terbuka, demokratis, kritis, dan mudah menerima unsur-unsur pembaharuan.
  • Pranata sosialnya bersifat formal sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku.
  • Memiliki sarana-prasarana dan fasilitas kehidupan yang sangat banyak. (Sumber)

2. Karateristik masyarakat kota:
  • AnonimitasKebanyakan warga kota menghabiskan waktunya di tengah-tengah kumpulan manusia yang anonim. Heterogenitas kehidupan kota dengan keaneka ragaman manusianya yang berlatar belakang kelompok ras, etnik, kepercayaan, pekerjaan, kelas sosial yang berbeda-beda mempertajam suasana anonim.
  • Jarak SosialSecara fisik orang-orang dalam keramaian, akan tetapi mereka hidup berjauhan.
  • KeteraturanKeteraturan kehidupan kota lebih banyak diatur oleh aturan-aturan legal rasional. (contoh: rambu-rambu lalu lintas, jadwal kereta api, acara televisi, jam kerja, dll)
  • Keramaian (Crowding)Keramaian berkaitan dengan kepadatan dan tingginya tingkat aktivitas penduduk kota. Sehingga mereka suatu saat berkerumun pada pusat keramaian tertentu yang bersifat sementara (tidak permanen).
  • Kepribadian KotaSorokh, Zimmerman, dan Louis Wirth menyimpulkan bahwa kehidupan kota menciptakan kepribadian kota, materealistis, berorientasi, kepentingan, berdikari (self sufficient), impersonal, tergesa-gesa, interaksi sosial dangkal, manipualtif, insekuritas (perasaan tidak aman) dan disorganisasi pribadi (Gunadarma, 2012 : http://wartawarga.gunadarma.ac.id).

3. Ciri-ciri fisik kota antara lain :
  • Terdapat sarana ekonomi, seperti pasar, pertokoan, dan batik.
  • Terdapat gedung pemerintahan.
  • Terdapat lahan terbuka seperti alun-alun.
  • Terdapat tempat parkir.
  • Adanya sarana rekreasi atau tempat hiburan.
  • Adanya sarana olahraga.
  • Adanya komplek perumahan, dll (Sumber)

Menurut Bintarto, ciri-ciri kota didefinisikan menjadi 2 macam yaitu :
a. Ciri-ciri fisik kota :
  • Terdapat sarana perekonomian seperti pasar, swalayan, dan supermarket.
  • Adanya tempat parkir bagi kendaraan yang memadai.
  • Terdapat lahan terbuka seperti alun-alun.
  • Adanya sarana rekreasi dan olahraga  yang baik.
  • Adanya gedung gedung pemerintahan.

b. Ciri-ciri sosial kota :
  • Anggota masyarakat yang beranekaragan (heterogen).
  • Masyarakatnya individualistis dan materialistis.
  • Mata pencaharian non agraris.
  • Adanya spesialisasi pekerjaan.
  • Adanya kesenjangan ekonomi yang dalam.
  • Norma keagamaan mulai pudar.
  • Adanya segregasi keruangan.
  • Sistem kekerabatan mulai pudar (Bintarto, 1984 : 55)

C. Hakikat Sosialisasi
1. Arti Sosialisasi
Proses sosialisasi adalah proses seseorang mempelajari cara hidup masyarakatnya dan menjadikan cara hidup itu bagian dari kepribadiannya. Banyak para ahli yang memberikan definisi tentang sosialisasi, yaitu sebagai berikut :
  • Paul B. Horton dan Chester L Hunt, menyatakan :Sosialisasi sebagai suatu proses, dengan proses itu seseorang menyeerap internalitas norma-norma kelompoknya, dengan demikian timbulah self yang berbeda, terdapat keunikan pada orang tersebut.
  • Kingley Davis, menyatakan :Sosialisasi sebagai suatu proses pembentukan diri individu menjadi sosial. Pembentukan ini untuk menyiapkan suatu generasi penerus eksistensi masyarakat, eksistensi kebudayaan, membentuk pribadi.
  • Leslie G. R (1976), berpendapat :Sosialisasi mencakup seluruh proses mempelajari nilai-nilai, sikap-sikap, pengetahuan, berbagai ketrampilan dan berbagai teknik yang dimiliki masyarakat. Hal ini menyangkut mempelajari kebudayaan dan bagian pentingnya yaitu sistem normative, termasuk institusi-institusi sosial yang utama. Sosialisasi membina potensi biologis anak ke dalam pola yang berfungsi yang kita sebut kepribadian.
  • Berstien B (1974), berpendapat :Sosialisasi menunjuk pada proses dengan mana sesuatu yang biologis ditransformasikan ke dalam suatu badan kebudayaan tertentu. Hal ini mengakibatkan bahwa proses sosialisasi merupakan proses kontrol yang kompleks, dengan mana kesadaran moral, kognitif dan afektif ditimbulkan pada anak dan diberikan suatu bentuk tertentu dan isi. Sosialisasi membedakan anak terhadap berbagai tuntutan masyarakat seperti hal-hal itu diwujudkan di dalam berbagai peran yang diharapkan akan memainkannya. 

Dengan merujuk apa yang dikemukakan para ahli di atas, dapat didefinisikan bahwa sosialisasi adalah proses yang dialami individu dari masyarakatnya mencakup kebiasaan, sikap, norma, nilai-nilai, pengetahuan, harapan, ketrampilan yang dalam proses tersebut ada kontrol sosial yang kompleks sehingga anak terbentuk menjadi individu sosial dan dapat berperan sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakatnya. Sosialisasi mempunyai arti dalam pembinaan kepribadian agar seseorang dapat hidup conform dengan tuntutan kelompok dan kebudayaannya. (Farida Hanum, 2011 : 57-58)

2. Tujuan Sosialisasi
Proses pembentukan kepribadian melalui sosialisasi ini mempunyai arah menuju tujuan. Sosialisasi menyangkut kepentingan individu, kelompok masyarakat, dan kebudayaan tertentu. Melalui sosialisasi inilah ketiga elemen itu berkembang. Tujuan sosialisasi itu dikemukakan oleh Getrude Jaeger Selznik sebagai berikut :
  • Sosialisasi berusaha menanamkan disiplin dasar yang bergerak dari kebiasaan yang sederhana sampai ilmu pengetahuan. Hal ini berbeda dengan tingkah laku di luar disiplin, dengan ciri digerakkan oleh nafsu-nafsu dan bersifat statis kepuasan yang dituju.
  • Sosialisasi berusaha menanamkan, mengajarkan aspirasi-aspirasi bagaimana halnya pengajaran disiplin-disiplin tertentu. Aspirasi ini akan menolong seseorang menyelesaikan masalah yang dihadapi. Aspirasi ini diajarkan bukan sekedar agar pelakunya mendapatkan ganjaran sebagaimana disiplin-disiplin, melainkan lebih jauh dari itu.
  • Sosialisasi berusaha mengajarkan berbagai peranan sosial. Setiap anggota kelompok masyarakat tertentu diharapkan untuk dapat ambil bagian dalam kegiatan kelompoknya dengan cara-cara yang diharapkan padanya. Setiap anggota kelompok diminta bersikap denga peranan yang yang diminta kelompok padanya. Peranan ini selalu erat dengan kedudukan seseorang dalam kelompok, atau hubungannya dengan situasi sosial tertentu.  
  • Sosialisasi berusaha mengajarkan ketrmpilan-ketrampilan. Tanpa memiliki ketrampilan ini seseorang hanya akan memberi beban kemasyarakatannya. Ia diharapkan dapat berpartisipasi secara aktif dalam mencukupi kebutuhan masyarakatnya.

Memperhatikan tujuan-tujuan sosialisasi di atas, ternyata proses sosialisasi itu bukan sekedar dibatasi pada penanaman norma-norma pada seseorang, melainkan lebih luas lagi. Untuk itu sering juga sosialisasi ini dalam arti yang luas diidentikkan dengan pendidikan. (Farida Hanum, 2011 : 58-60)

3. Proses Sosialisasi
Sosialisasi adalah sebagai suatu proses, membina masyarakat yang berpribadi. Sosialisasi diperoleh melalui kontak dengan lingkungan sosialnya, kontak dengan orang lain di masyarakat. Sosialisasi berkembang dari lingkungan yang terbatas dalam keluarga, makin lama makin meluas meliputi lingkungan-lingkungan sosial budaya di luar keluarga. Anak dilahirkan sebagai individu, yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi pribadi. Individu itu memulai kontak dengan sekitarnya, terutama keluarganya, ibu, ayah, dan anggota keluarganya lainnya mulai mengenal dan menemukan “aku (self)”.
Berkaitan dengan tumbuhnya “self (aku)” tersebut, Cooley (1964) menjelaskan dengan teori The looking-glass self. Seseorang membentuk bayangan tentang dirinya melalui pertolongan orang lain. Pembentukan ini berlangsung terus dalam kehidupannya. Penemuan ini dengan membentuk perbandingan-perbandingan dengan orang lain tentang dirinya. Proses penemuan aku melalui penilaian orang lain terhadap dirinya disebut looking-glass self. Ada tiga tahap penemuan self dengan looking glass ini, yaitu :
  • Seseorang terhadap bagaimana penglihatan orang itu kepada orang lain.
  • Persepsi orang tersebut terhadap penilaian orang lain kepada dirinya, pengertian, kesan orang lain terhadap dirinya. 
  • Perasaan orang tersebut tentang penilaian orang kepadanya.

Untuk menemukan “self”, Broom and Selznick mengemukakan proses pertumbuhan self melalui sosialisasi yang meliputi tiga proses, yaitu:
  • Sosialisasi itu menyusun itu menyusun bayangan diri. Pembentukan bayangan diri itu melalui kontak-interaksi dengan orang lain lewat bahasa. Melalui inilah seseorang berfikir tentang dirinya. 
  • Sosialisasi membentuk aku ideal. Dengan melihat orang lain, kemudian meneliti keadaan dirinya, akan timbullah keinginan aku yang diinginkan atau bercita-cita.
  • Sosialisasi itu membentuk akundalam arti ego, yakni aku dapat menyertai dirinya dalam aku yang merdeka (Farida Hanum, 2011 : 59-62).

Untuk dapat proses itu, dilalui dan menghasilkan konsep aku yang tepat hanyalah mungkin apabila dalam kehidupannya, seseorang berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kehidupan di lingkungannya, berkomunikasi dengan orang lain, berinteraksi dengan orang lain, menciptakan kontak sosial yag memberi fasilitas bagi terbentuknya “self” dan ini akan membangun dan menolong dalam pembentukan pribadi. Proses sosialisasi hanya dapat terjadi dalam interaksi sosial, oleh sebab itu kontak sosial dengan individu lain sangat dibutuhkan individu maupun kelompok. Satu pihak sosialisasi berarti menanyakan masyarakat pada anggota-anggotanya, di lain pihak mengambil alih hal-hal yang terdapat dalam masyarakat itu ke dalam diri warganya. 

Keterkaitan antara individu dengan masyarakat dalam proses sosialisasi menjadi perhatian Erikson (1968). Keterkaitan antar individu dengan masyarakat sebagai sesuatu yang bersifat kooperatif daripada pertentangan. Masyarakat mempunyai tanggung jawab mensosialisasikan pada anggotanya dengan memberi tiap anggotanya kesempatan yang terbaik untuk pertumbuhan pribadi. Erikson mengemukakan delapan tahap pertumbuhan manusia, yaitu :
  • Kepercayaan (terhadap mereka yang ada di sekitarnya)
  • Otonomi (tahap membuat keputusan)
  • Inisiatif (tahap mencoba hal-hal yang baru, usaha kreatif)
  • Industri (tahap berusaha produktif, kegiatan yang terarah)
  • Keakraban (kesanggupan saling berbagi berdasarkan tingkat perorangan)
  • Identitas (peran dan kontinuitas perorangan)
  • Generativitas (tanggung jawab terhadap orang muda)
  • Integritas ego/aku (kelengkapan dan identifikasi dengan kebudayaan) (Farida Hanum, 2011 : 62).

Proses sosialisasi berlangsung dalam kelompok sosial. Diantaranya yang penting adalah keluarga, kelompok sebaya, sekolah, kumpulan pemuda, kumpulan keagamaan, organisasi dan lain sebagainya. (Farida Hanum, 2011 : 60-63)
Proses sosialisasi dilakukan oleh setiap individu sejak ia lahir di muka bumi. Bahkan, seorang bayi yang baru lahir melakukan sosialisasi, belajar membuka mata untuk melihat dunia, belajar memegang sesuatu. Pada intinya, sosialisasi tidak mungkin terhenti selama individu tersebut masih hidup. Berdasarka tahapannya, sosialisasi dapat dibedakan menjadi dua tahap, yaitu sosialisasi primer dan sekunder (Mayor Polak, 1979 : 77)
  • Sosialisasi primerSosialisasi primer terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun. Pada saat sosialisasi primer, seseorang akan dapat mengenal lingkungan terdekatnya. Misalnya ibu, bapak, kakak, adik, paman, bibi, nenek, kakek, teman sebayaa, tetangganya, dan bahkan dirinya sendiri. Dengan demikian, proses sosialisasi primer adalah proses sosialisasi di lingkungan keluarga. Pada proses ini, seorang anak akan melakukan pengenalan akan dirinya sendiri, yang pada akhirnya si anak akan memiliki jati diri yang berbeda dengan orang lain.
  • Sosialisasi sekunderSosialisasi sekunder terjadi setelah sosialisasi primer berlangsung, namun sosialisasi primer merupakan dasar dari sosialisasi sekunder. Sosialisasi ini berlangsung di luar keluarga. Dalam proses sosialisasi sekunder, anak akan mendapat berbagai pengalaman yang berbeda dengan keluarga. Jika dalam sosialisasi primer yang berperan adalah orang tua dan keluarga dekatnya, maka dalam sosialisasi sekunder yang berperan adalah orang lain seperti teman sepermainan, teman sekolah dan teman sebaya. Hal ini terlihat setelah anak berumur lebih dari 5 tahun, anak akan memeperluas pergaulan. Ia mulai mengenal guru di sekolahnya, teman bermain, tetangganya, dan lain-lain (http://start-to-logic.blogspot.com/2011/04/macam-macam-sosialisasi.html).

D. Pengertian Agen Sosialisasi
Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melakukan atau melaksanakan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang utama, yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa, dan lembaga pendidikan sekolah. Pesan-pesan yang disampaikan oleh agen sosialisasi satu sama lain berlainan dan tidak selamanya sejalan. Apa yang diajarka keluarga mungkin saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agen sosialisasi yang lain. Misalnya, di sekolah anak-anak diajarkan untuk tidak merokok, meminum minuman keras dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba), tetapi mereka dengan leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa. Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi  itu tidak bertentagan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di masyarakat, sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan.

Macam-Macam Agen Sosialisasi
  • KeluargaBagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal bersama-sama dalam satu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya, sosialisasi  dilakukan oleh orang-orang yang berada diluar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadangkala terdapaat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pengasuh bayi (baby sitter). Menurut Gerttrudge Jaeger, peranan para agen sosialisasi dalam system keluarga pada tahap awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam lingkungan keluarganya terutama orang tuanya sendiri.
  • Teman PergaulanTeman pergaulan biasanya sering disebut dengan teman bermain, pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif namun dapat pulamemberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja.kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu. Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat, sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.
  • Lembaga Pendidikan Formal (Sekolah)Sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi yang paling berpengaruh. Menurut Dreeben, dalam lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian, prestasi, universalisme dan kekhasan. Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuaanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab. Di sekolah, mereka belajar tentang perspektif yang lebih luas tentang segala hal yang membantu mereka untuk menjalankan perang yang ada di luar keluarga. Misal tentang patriotisme, kebaikan, demokrasi, kejujuran yang diselipkan dalam pelajaran.
  • Media MassaYang termasuk dalam kelompok media massa di sini adalah media cetak dan media elektronik. Media cetak diantaranya adalah besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang di sampaikan.
  • Agen-agen lainSelain keluarga, sekolah, kelompok bermain dan media massa, sosilaisasi juga dilakukan oleh institusi agama, tetangga, organisasi rekreasional masyarakat dan lingkungan kerja. Semuanya membantu seseorang dalam membentuk pandangannya sendiri tentang dunianya dan membuat persepsi mengenai tindakan-tindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan.Dalam beberapa kasus, pengaruh-pengaruh agen-agen ini sangat besar (Ayu, 2010 : http://ayouk91.blogspot.com/2010/06/agen-sosialisasi.html).

E. Analisis Proses Sosialisasi Masyarakat Kota

Masyarakat kota lebih heterogen dibandingkan dengan masyarakat desa. Keadaan penduduk dari status sosialnya juga sangat heterogen. Keberagaman itu bukan hanya terletak pada aspek pekerjaan saja, melainkan agama, ras  dan suku. 

Dilihat dari sudut pandang proses sosialisasi masyarakat kota lebih pada sosialisasi sekunder, pada sosialisasi primer masyarakat kota cenderung sedikit dikarenakan oleh banyak hal, terutama dalam penanaman nilai-nilai utama yang ada dalam keluarga, tetapi porsinya hanya sedikit. Pada sosialisasi sekunder, masyarakat kota akan melalui agen-agen sosialisasi seperti, Lembaga pendidikan formal (sekolah), teman sebaya, media massa, lingkungan kerja dan agen-agen sosial lainnya. Hal ini karena interaksi pada masyarakat kota terutama dalam sebuah keluarga cenderung bersifat tertutup. Tertutup disini maksudnya adalah interaksi yang berjalan dalam keluarga berbeda dengan masyarakat kota, dimana adanya keterbatasan waktu untuk berinteraksi dengan anggota keluarganya dibandingkan masyarakat desa. Sehingga mereka lebih banyak menggunakan agen-agen sosialisasi selain keluarga, seperti yang sudah disebutkan di atas. 

Pada masyarakat kota, agen yang banyak digunakan adalah media massa. Seperti yang kita tahu bahwa di kota akses untuk teknologi dan media massa jauh lebih mudah dibandingkan dengan masyarakat kota. 

Dari hasil proses sosialisasi masyarakat kota, masyarakat kota cenderung mata pencahariannya sangat beragam, sesuai dengan keahlian masing-masing individu, corak kehidupan sosialnya bersifat gesselschaft (patembayan), lebih individual dan kompetitif. Masyarakat kota terbentuk menjadi individu yang memiliki interaksi sosial kurang akrab dan kurang peduli terhadap lingkungannya. Dasar hubungan masyarakat kota adalah kepentingan. Tetapi ada nilai-nilai positif yang terdapat pada masyarakat kota sebagai hasil proses sosialisasi yaitu masyarakat kota umumnya berpendidikan lebih tinggi, berfikir rasional, menghargai waktu, kerja keras, disiplin, dan memiliki kebebasan. Masyarakat kota yang terbuka, demokratis, kritis, dan mudah menerima unsur-unsur pembaharuan membuat kehidupan sosial ekonomi, politik dan budaya  masyarakatnya amat dinamis, sehingga perkembangannya sangat cepat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Masyarakat kota adalah masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan atau tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non agraris. Ciri-ciri masyarakat kota diantaranya adalah pengaruh alam terhadap masyarakat kota kecil, Keadaan penduduk dari status sosialnya sangat heterogen, jumlah warga kota lebih banyak, padat, dan heterogen, pembagian dan spesialisasi kerja lebih banyak dan nyata, dan lain sebagainya. 

Proses sosialisasi adalah proses seseorang mempelajari cara hidup masyarakatnya dan menjadikan cara hidup itu bagian dari kepribadiannya. Proses sosialisasi berlangsung dalam kelompok sosial. Diantaranya yang penting adalah keluarga, kelompok sebaya, sekolah, kumpulan pemuda, kumpulan keagamaan, organisasi dan lain sebagainya. Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melakukan atau melaksanakan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang utama, yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa, dan lembaga pendidikan sekolah.

Masyarakat kota lebih heterogen dibandingkan dengan masyarakat desa. Keberagaman itu bukan hanya terletak pada aspek pekerjaan saja, melainkan agama, ras  dan suku. Dilihat dari sudut pandang proses sosialisasi masyarakat kota lebih pada sosialisasi sekunder, pada sosialisasi primer masyarakat kota cenderung sedikit dikarenakan oleh banyak hal, terutama dalam penanaman nilai-nilai utama yang ada dalam keluarga, tetapi porsinya hanya sedikit. Dari hasil proses sosialisasi masyarakat kota, masyarakat kota cenderung mata pencahariannya sangat beragam, sesuai dengan keahlian masing-masing individu, corak kehidupan sosialnya bersifat gesselschaft (patembayan), lebih individual dan kompetitif.

B. Saran
Kami selaku penyusun makalah ini menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca guna memperbaiki makalah ini kedepannya.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. http://www.gudangmateri.com/2010/04/masyarakat-desa-dan masyarakat kota.html diakses pada tanggal 5 April 2012 pukul 20:09 WIB.

Ayu. 2011. http://ayouk91.blogspot.com/2010/06/agen-sosialisasi.html  
diakses pada tanggal 27 Desember 2011 pukul 15.06 WIB.

Anonim. 2011. http://start-to-logic.blogspot.com/2011/04/macam-macam
sosialisasi.html diakses pada tanggal 18 September 2011 pukul 16.40 WIB.

Anneahira. 2012. http://www.anneahira.com/ciri-ciri-masyarakat-kota.htm diakses pada tanggal 5 April 2012 pukul 20:03 WIB.

Bintarto. 1984. Interaksi Desa-Kota dan Pemasalahannya. Yogyakarta : Ghalia Indonesia.

Gilbert, Alan dan Josef Gugler. 2007. Urbanisasi dan Kemiskinan. Yogyakarta : Tiara Wacana.

Hanes, Dieter. 2007. Sosiologi Perkotaan. Jakarta : LP3ES.

Hanum, Farida. 2011. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta : Kanwa Publiser

Leibo, Jefta. 1986. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta : Andi Offset.

Sugihen, Bahreint. 1996. Sosiologi Pedesaan (Suatu Pengantar). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Gunadarma, 2012 : http://wartawarga.gunadarma.ac.id. diakses pada tanggal 5 April 2012 pukul 15.06 WIB.