Makalah Sosiologi tentang Agama dan Masyarakat

 wawasanpendidikan.com;  masih ingat, beberapa hari yang lalu sobat pendidikan berbagi Makalah Sosiologi tentang Agama dan Gerakan Sosial. kali ini akan dilanjutkan dengan Makalah Sosiologi Tentang Agama dan Masyarakat. silahkan di baca.
                                                           
A.    Pengertian Agama dan Pandangan Sosiologis 
Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut “agama” (religious).  
Para ilmuwan sosial menghadapi banyak kesulitan dalam merumuskan agama dengan tepat. Masalah pokok dalam mencapai suatu definisi yang baik ialah dalam menentukan di mana batas-batas gejala itu harus ditempatkan. Seperti dikemukakan oleh Roland Robertson (1970), ada dua jenis utama definisi tentang agama yang telah diusulkan oleh ilmuwan sosial, yang inklusif dan eksklusif.
Suatu agama ialah suatu sistem kepercayaan yang disatukan oleh praktik yang bertalian dengan hal-hal yang suci, yakni hal-hal yang dibolehkan dan dilarang- kepercayaan dan praktik-praktik yang mempersatukan suatu komunitas moral yang disebut gereja, semua mereka yang terpaut satu sama lain (Durkheim, 1965). Saya merumuskan agama sebagai seperangkat bentuk dan tindakan simbolik yang menghubungkan manusia dengan kondisi akhir eksisitensinya (Bellah, 1964). Jadi, agama dapat dirumuskan sebagai suatu sistem kepercayaan dan praktik di mana suatu kelompok manusia berjuang menghadapi masalah-masalah akhir kehidupan manusia (Yinger, 1970).
Definisi pertama yang dikemukakan di atas sangat terkenal dan telah dikutip berulang kali oleh banyak sosiolog. Bagi Durkheim, karakteristik agama yang penting ialah bahwa agama itu diorientasikan kepada sesuatu yang dirumuskan oleh manusia sebagai suci / sakti, yakni objek referensi, yang dihargai, dan malah dahsyat. Sedangkan definisi kedua dan ketiga yang dikutip di atas menekankan bahwa agama itu di atas segala-galanya, diorientasikan kepada ”penderitaan akhir “ (ultimate concern) umat manusia.
Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia, agama berasal dari kata sansekerta, yang pada mulanya masuk ke Indonesia sebagai nama kitab suci golongan Hindu Syiwa (kitab suci mereka bernama Agama). Kata itu kemudian menjadi dikenal luas dalam masyarakat Indonesia.
Ada tiga pendapat yang dapat dijumpai berkenaan dengan arti harfi kata agama itu. Pertama mengartikan tidak kacau, kedua tidak pergi (maksidnya diwarisi turun-temurun), dan ketiga jalan berpergian (maksudnya jalan hidup).
Hampir semua agama diketahui mengandung empat unsur penting, yaitu (a) pengakuan bahwa ada kekuatan gaib yang menguasai atau mempengaruhi kehidupan manusia, (b) keyakinan bahwa keselamatan hidup manusia tergantung pada adanya hubungan baik antara manusia dengan kekuatan gaib itu, (c) sikap emosional pada hati manusia terhadap kekuatan gaib itu, seperti sikap takut, hormat, cinta, penuh harap, pasrah, dan lain-lain dan (d) tingkah laku tertentu yang dapat diamati, seperti shalat (sembahyang), doa, puasa, suka menolong, tidak korupsi, dan lain-lain. Sebagai buah dari tiga unsur pertama.Tiga unsur pertama merupakan jiwa agama, sedangkan unsur keempat merupakan bentuk lahiriyah.
Masyarakat maju atau modern yang beragama, pada umumnya cenderung pada paham monoteisme, yakni meyakini hanya ada satu Tuhan, yang menciptakan segenap alam; tidak ada Tuhan selain Dia, seperti rumusan syahadat (tidak ada Tuhan selain Allah).
...............................................................................................................................
B.    Agama dan Pengaruhnya dalam Kehidupan
Geertz merumuskan agama dalam sosiologi agama berbunyi, “agama ialah suatu sistem simbol yang berbuat untuk menciptakan suasana hati (mood) dan motivasi yang kuat, serba menyeluruh dan berlaku lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsep yang bersifat umum tentang segala sesuatu (existence) dan dengan membalut konsepsi itu dengan suasana kepastian faktual, sehingga suasana hati dan motivasi itu terasa sungguh-sungguh realistik”.
Nottingham, sosiolog agama, berpandapat bahwa agama bukan suatu yang dapat dipahami melalui definisi, melainkan melalui deskripsi (penggambaran). Tidak ada satu pun definisi agama yang benar-benar memuaskan. Menurut gambaran Nottingham, agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaan diri sendiri dan keberadaan alam semesta. Selain itu, agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri.
Agama memiliki nilai-nilai bagi kehidupan manusia sebagai orang per orang maupun dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat. Selain itu, agama juga memberi dampak bagi kehidipan sehari-hari. Dengan demikian, secara psikologis agama dapat berfungsi sebagai motif instrinsik (dalam diri) dan motif ekstrinsik (luar diri).
C.    Agama dalam Kehidupan Manusia
Agama dalam kehidupan manusia sebagai individu berfungsi sebagai suatu sistem yang memuat norma-norma tertentu. Sebagai sistem nilai agama memiliki arti khusus dalam kehidupan individu serta dipertahankan sebagai bentuk ciri khas. Menurut Mc Guire, diri manusia memiliki bentuk sistem tertentu. Sistem nilai ini dibentuk melalui belajar dan proses sosialisasi. Guire mengatakan berdasarkan perangkat informasi yang diperoleh seseorang dari hasil belajar dan sosialisasi tadi meresap dalam dirinya. Sejak saat itu perangkat nilai itu menjadi sistem yang menyatu dalam bentuk identitas seseorang. Setelah terbentuk, maka seseorang secara serta merta mampu menggunakan sistem nilai ini dalam memahami, mengevaluasi serta menafsirkan situasi dan pengalaman.
Pada intinya, menurut Mc Guire, sistem nilai yang berdasarkan agama dapat memberi individu dan masyarakat perangkat sistem nilai dalam bentuk keabsahan dan pembenaran dalam mengatur sikap individu dan masyarakat.
Dilihat dari fungsi dan peran agama dalam memberi pengaruhnya terhadap individu, baik dalam bentuk sistem nilai, motivasi maupun pedoman hidup, maka pengaruh yang paling penting adalah sebagai pembentuk kata hati (conscience).kata hati menurut Erich Fromm adalah panggilan kembali manusia kepada dirinya. Fromm membagi kata hati menjadi; (1) kata hati otoritarian; dan kata hati humanistik. Kata hati otoritarian dibentuk oleh pengaruh luar, sedangkan kata humanistik bersumber dari dalam diri manusia.
.................................................................................................................

Makalah lengkap dapat di donwload disini