Makalah Sosiologi tentang Agama dan Gerakan Sosial

wawasanpendidikan.com, kali ini sobat pendidikan akan berbagi tentang makalah yang bertemakan Agama dan Gerakan Sosial. semoga bermanfaat.

Makalah Sosiologi tentang Agama dan Gerakan Sosial
Makalah Sosiologi tentang Agama dan Gerakan Sosial


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Apabila kita mengamati fenomena kehidupan umat manusia, akan kita dapati suatu kenyataan bahwa mereke adalah pemeluk dari suatu agama tertentu, dalam kenyataan yang demikian itu terlihat bahwa agama menempati kedudukan yang penting dalam kehidupan manusia. Pada saat yang sama ketika realitas menunjukan bahwa agama diperlukan dan dianut oleh hampir seluruh umat manusia maka dapat dikatakan bahwa agama merupakan sebuah fenomena universal, banyak dan beragamnya agama yang dipercayai dan dianut oleh manusia mulai dari masyarakat yang kehidupanya primitif sampai pada  masyarakat yang memiliki kehidupan modern. Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut sebagai agama.

Dalam kaitanya dengan gerakan sosial, banyak terjadi suatu gerakan dalam masyarakat baik itu gerakan yang berlandaskan keagamaan ataupun gerakan yang berlandaskan kepentingan yang lain. Di indonesia sendiri khususnya agama islam, banyak terdapat gerakan sosial keagamaan yang bertujuan menegakkan syariat islam yang telah berlangsung lama. Sejarah politik negeri ini mencatat bahwa tidak lama berselang setelah proklamasi kemerdekaan sejumlah anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) terlibat perdebatan sengit di seputar kemungkinan penerapan syariat Islam sebagai ideologi negara. Dari sini terlihat bahwa mereka memiliki kepentingan tersendiri dalam menentukan prinsip ideologi negara yang kemudian dapat memicu munculnya suatu gerakan sosial

Dari sini dapat terlihat hubungan atau keterkaitan antara agama dan gerakan sosial yang notabenya agama bisa menjadi salah satu faktor atau latar belakang munculnya suatau gerakan sosial di masyarakat. Gerakan sosial ini ada yang bersifat positif dan ada juga yang bersifat negatif.

B.    Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian agama?
2.    Apa pengertian gerakan sosial ?
3.    Bagaimana contoh gerakan sosial keagamaan DI TII ?

C.    Tujuan
1.    Untuk mengetahui pengertian agama dan fungsi aga dimasyarakat.
2.    Untuk mengetahui pengertian gerakan social dan bentuk-bentuk gerakan sosial.
3.    Untuk mengetahhui hubungan antara agama dan gerakan sosial.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Agama
Agama adalah suatu cirri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara berfikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut agama. Yinger (dalam Ishomudin, 2002 : 30) mengemukakan bahwa agama merupakan suatu system kepercayaan dan praktik dimana suatu kelompok manusia berjuang menghadapi masalah-masalah akhir kehidupan manusia.  Durkheim mengungkapkan bahwa karakteristik agama yang penting ialah bahwa agama diorientasikan kepada sesuatu yang dirumuskan oleh manusia sebagai suci atau sakti yakni objek referensi, yang dihargai dan malah dahsyat.

Geertz (dalam Betty, 1995 : 32), agama merupakan sistem lambang yang berfungsi menegakan berbagai perasaan dan motivasi yang kuat, berjangkauan luas dan abadi pada manusia dengan merumuskan berbagai konsep mengenai keteraturan umum konsistensi dan dengan menyelubungi konsepsi-konsepsi ini dengan sejenis tuangan faktualitas sehingga perasaa-perasaan dan motifasi-motifasi itu secara unik tanpak realistic. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Durkheim yang menekankan peribadatan kolektif meskipun membiarkan kemungkinan-kemungkinan lain tetap terbuka, definisi yang dikemukakanya berhasil menampilkan secara jelas berbagai kegiatan politik atau moral kedalam cakupan gejala keagamaan dimana peribadatan-peribadatan kolektif memainkan peranan penting dan para pelakunya. Konsep-konsep mereka mengenai keteraturan umum eksistensi menyebabkan perasaan dan motivasi mereka secara unik tampak realistik gerakan-gerakan nasionalis, komunis dan fasis dengan mudah dimasukan.

Nottingham (dalam Ishomudin, 2002 : 35) berpendapat bahwa agama bukan suatu yang dipahami menurut definisi, melainkan melalui deskripsi (penggambaran), agama merupakan gejala yang begitu sering terdapat dimana-mana dan agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengatur dalamnya makna dari keberadaan diri sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri. Walaupun perhatian tertuju kepada adanya suatu dunia yang tak dapat dilihat (akhirat), namun agama melibatkan dirinya dalam masalah-maslah kehidupan sehari-hari di dunia. 

Dalam kajian sosiologis agama memiliki dua macam fungsi yaitu fungsi manifest dan fungsi laten, fungsi manifest adalah fungsi yang di sadari dan biasanya merupkan tujuan yang ingin dicapai oleh pelaku ajaran agama sedangkan fungi latent adalah fungsi yang tersembunyi dan kurang di sadari oleh pelaku ajaran agama. Terlepas dari fungsi agama tersebut yang jelas dalam setiap masyarakat dimanapun berada agama masih akan tetap memiliki fungsi tersendiri di dalam kehidupan masyarakat, agama sebagai panutan masyarakat terlihat masih berfungsi sebagai pedoman yang di jadikan sumber untuk mengatur norma-norma kehidupan antara lain :


1.    Fungsi Penyelamat
Manusia selalu menginginkan dirinya untuk selamat dimanapun dia berada, keselamatan yang di berikan oleh agama adalah keselamatan yang meliputi dunia dan akhirat. Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan melalui pengenalan kepada masalah sakral berupa keimanan kepada tuhan.


2.    Fungsi Edukatif
Para penganut agama berpendapat bahwa ajaran agama yang mereka anut memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi. Ajaran agama secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua unsur suruhan dan larangan ini mempunyai latar belakang mengarahkan bimbingan agar pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agama masing-masing.


3.    Fungsi Social Control
Para penganut agama sesuai dengan agama yang dianutnya terikat batin kepada tuntunan ajaran tersebut, baik secara pribadi maupun cara kelompok. Ajaran agama oleh penganutnya dianggap sebagai norma, sehingga dalam hal ini agama dapat berfungsi sebagai pengawasan social secara individu maupun kelompok karena agama secara instansi merupakan norma bagi para pengikutnya dan agama secara dogmatis (ajaran) mempunyai fungsi kritis yang bersifat profetis (wahyu, kenabian).


4.    Fungsi Sebagai Pemupuk Rasa Solidaritas
Para penganut agama yang  sama secara psikologis akan merasa memiliki kesamaan dalam satu kesatuan iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini akan membina  rasa solidaritas dalam kelompok maupun perorangan, bahkan kadang-kadang dapat membina rasa persaudaraan yang kokoh. Pada beberapa agama rasa persaudaraan itu bahkan dapat mengalahkan rasa kebangsaan.


Agama dapat disimpulkan sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang bersifat adikodrati (supernatural) ternyata seakan menyertai manusia dalam ruang lingkup kehidupan yang luas. Agama memiliki nilai-nilai bagi kehidupan manusia sebagai orang per orang maupun dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat. Selain itu agama juga memberi dampak bagi kehidupan sehari-hari. Dengan demikian secara psikologis agama dapat berfungsi motif intrinsic (dalam diri) dan motif ekstrinsik (luar diri). Motif yang didorong keyakinan agama dinilai memiliki kekuatan yang mengagumkan dan sulit ditandingi oleh keyakinan non agama, baik sulit didefinisikan secara tepat dan memuaskan.

B.    Gerakan Sosial
Gerakan sosial atau social movement menurut Turner dan Killan (1972), secara formal gerakan sosial didefinisikan sebagai suatu kolektivitas yang melakukan kegiatan dengan kadar kesinambungan tertentu untuk menunjang atau menolak perubahan yang terjadi dalam masyarakat atau kelompok yang mencakup kolektivitas itu sendiri. Sedangkan Blumer (1974) menyatakan, sebuah gerakan sosial dapat dirumuskan sebagai sejumlah besar orang yang bertindak bersama atas nama sejumlah tujuan atau gagasan. Menurut Darmawan Triwibowo, gerakan sosial diartikan sebagai bentuk aksi kolektif dengan orientasi konfliktual yang jelas terhadap lawan sosial dan politik tertentu, dilakukan dalam konteks jejaring lintas kelembagaan yang erat oleh aktor-aktor yang diikat rasa solidaritas dan identitas kolektif yang kuat melebihi bentuk-bentuk ikatan dalam koalisi dan kampanye bersama (2006:1). Gerakan sosial dapat dibagi menjadi beberapa, diantaranya sebagai berikut:


1.    Old Social Movement
Gerakan sosial yang memfokuskan pada isu-isu yang berkaitan dengan materi dan biasanya terkait dengan satu kelompok (misalnya, petani atau buruh). 


2.    New Social Movement
Gerakan sosial yang berkaitan dengan masalah ide atau nilai seperti gerakan feminisme atau lingkungan. 


Dengan demikian, bisa diidealkan bahwa gerakan sosial sesungguhnya berangkat dari kesadaran sekelompok orang atas kepentingannya. Menurut Mario Diani ada empat unsur utama gerakan sosial. Pertama, jaringan yang kuat tetapi interakisnya bersifat informal atau tidak terstruktur, dengan kata lain ada ikatan ide dan komitmen bersama. Kedua, ada sharing keyakinan dan solidaritas di antara mereka. Ketiga, ada aksi bersama dengan membawa isu yang bersifat konfliktual. Ini berkaitan dengan penentangan atau desakan terhadap perubahan tertentu. Keempat Aksi tuntutan itu bersifat kontinyu.


Ada bermacam jenis gerakan sosial. Meskipun semua ini diklasifikasikan sebagai jenis gerakan yang berbeda jenis-jenis gerakan ini bisa tumpang tindih, dan sebuah gerakan tertentu mungkin mengandung elemen-elemen lebih dari satu jenis gerakan. Jenis-jenis gerakan diantaranya sebagai berikut : 

  • Gerakan Protes
Gerakan protes adalah gerakan yang bertujuan mengubah atau menentang sejumlah kondisi sosial yang ada. Ini adalah jenis yang paling umum dari gerakan sosial di sebagian besar negara industri. Di Amerika Serikat, misalnya, gerakan ini diwakili oleh gerakan hak-hak sipil, gerakan feminis, dan gerakan perdamaian. Gerakan protes sendiri masih bisa diklasifikasikan menjadi dua, gerakan reformasi atau gerakan revolusioner. Sebagian besar gerakan protes adalah gerakan reformasi, karena tujuannya hanyalah untuk mencapai reformasi terbatas tertentu tidak untuk merombak ulang seluruh masyarakat. Gerakan reformasi merupakan upaya untuk memajukan masyarakat tanpa banyak mengubah struktur dasarnya. Gerakan ini misalnya, menuntut adanya kebijaksanaan baru di bidang lingkungan hidup, politik luar negeri, atau perlakuan terhadap kelompok etnis, ras, atau agama tertentu.

Sedangkan gerakan revolusioner adalah bertujuan merombak ulang seluruh masyarakat, dengan cara melenyapkan institusi-institusi lama dan mendirikan institusi yang baru. Gerakan revolusioner berkembang ketika sebuah pemerintah berulangkali mengabaikan atau menolak keinginan sebagian besar warganegaranya atau menggunakan apa yang oleh rakyat dipandang sebagai cara-cara ilegal untuk meredam perbedaan pendapat. Seringkali, gerakan revolusioner berkembang sesudah serangkaian gerakan reformasi yang terkait gagal mencapai tujuan yang diinginkan.

  • Gerakan Regresif atau Gerakan Resistensi
Gerakan Regresif ini adalah gerakan sosial yang bertujuan membalikkan perubahan sosial atau menentang sebuah gerakan protes. Misalnya, adalah gerakan antifeminis yang menentang perubahan dalam peran dan status perempuan. Contoh lain adalah gerakan moral, yang menentang tren ke arah kebebasan seksual yang lebih besar. 
  • Gerakan Religius
Gerakan religius dapat dirumuskan sebagai gerakan sosial yang berkaitan dengan isu-isu spiritual atau hal-hal yang gaib (supernatural), yang menentang atau mengusulkan alternatif terhadap beberapa aspek dari agama atau tatanan kultural yang dominan. 
  • Gerakan Komunal
Atau ada juga yang menyebut Gerakan Utopia. Gerakan komunal adalah gerakan sosial yang berusaha melakukan perubahan lewat contoh-contoh, dengan membangun sebuah masyarakat model di kalangan sebuah kelompok kecil. Mereka tidak menantang masyarakat kovensional secara langsung, namun lebih berusaha membangun alternatif-alternatif terhadapnya. Ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Seperti: membangun rumah kolektif, yang secara populer dikenal sebagai komune (communes), di mana orang tinggal bersama, berbagi sumberdaya dan kerja secara merata, dan mendasarkan hidupnya pada prinsip kesamaan (equality). 
  • Gerakan perpindahan
Orang yang kecewa mungkin saja melakukan perpindahan. Ketika banyak orang pindah ke suatu tempat pada waktu bersamaan, ini disebut gerakan perpindahan sosial (migratory social movement). Contohnya: migrasi orang Irlandia ke Amerika setelah terjadinya panen kentang, serta kembalinya orang Yahudi ke Israel, yang dikenal dengan istilah Gerakan Zionisme.
  • Gerakan ekspresif
Jika orang tak mampu pindah secara mudah dan mengubah keadaan secara mudah, mereka mungkin mengubah sikap. Melalui gerakan ekspresif, orang mengubah reaksi mereka terhadap realitas, bukannya berupaya mengubah realitas itu sendiri. Gerakan ekspresif dapat membantu orang untuk menerima kenyataan yang biasa muncul di kalangan orang tertindas. Meski demikian, cara ini juga mungkin menimbulkan perubahan tertentu. Banyak ragam gerakan ekspresif, mulai dari musik, busana, sampai bentuk yang serius, semacam gerakan keagamaan dan aliran kepercayaan. Lagu-lagu protes pada tahun 1960-an dan awal 1970-an diperkirakan turut menunjang beberapa reformasi sosial di Amerika.
  •  Kultus  Personal
Kultus personal biasanya terjadi dalam kombinasi dengan jenis-jenis gerakan lain. Gerakan sosial jenis ini berpusat pada satu orang, biasanya adalah individu yang kharismatis, dan diperlakukan oleh anggota gerakan seperti dewa. Pemusatan pada individu ini berada dalam tingkatan yang sama seperti berpusat pada satu gagasan. 

Karena keragaman gerakan sosial sangat besar, maka berbagai ahli sosiologi mencoba menklarifikasikan dengan menggunakan kriteria tertentu. David Aberle, misalnya, dengan menggunakan kriteria tipe perubahan yang dikehendaki (perubahan perorangan dan perubahan sosial) dan besar pengaruhnya yang diingginkan ( perubahan untuk sebagain dan perubahan menyeluruh). Membedakan empat tipe gerakan sosial, tipologi Aberle adalah sebagai berikut:


1.    Alterative Movement
Ini merupakan gerakan yang bertujuan untuk merubah sebagian perilaku perorangan. Dalam kategori ini dapat kita masukan berbagai kampanye untuk merubah perilaku tertentu, seperti misalnya kampanye agar orang tidak minum-minuman keras. Dengan semakin menyebarnya penyakit AIDS kini pun banyak dilancarkan kampanye agar dalam melakukan perbuatan sek dengan bertanggung jawab.


2.    Rodemptive Movement
Gerakan ini lebih luas dibandingkan dengan alterative movement, karena yang hendak dicapai ialah perubahan menyeluruh pada perilaku perorangan. Gerakan ini kebanyakan terdapat di bidang agama. Melalui gerakan ini , misalnya, perorangan diharap untuk bertobat dan mengubah cara hidupnya sesuai dengan ajaran agama.


3.     Reformative Movement
Gerakan ini yang hendak diubah bukan perorangan melainkan masyarakat namun lingkup yang hendak diubah hanya segi-segi tertentu masyarakat, misalnya gerakan kaum homoseks untuk memperoleh perlakuan terhadap gaya hidup mereka atau gerakan kaum perempuan yang memperjuangkan persamaan hak dengan laki-laki. Gerakan people power di Filipina atau gerakan menentang pedana mentri Suchinda di Thailand pun dapat dikategorikan dalam tipe ini karena tujuannya terbatas, yaitu pergantian pemerintah.


4.     Transformative Movement
Gerakan ini merupakan gerakan untuk mengubah masyarakat secara menyeluruh. Gerakan kaum Khamer Merah untuk menciptakan masyarakat komunis di Cambidia. Suatu proses dalam mana seluruh penduduk kota dipindahkan ke desa dan lebih dari satu juta orang Cambodia kehilangan nyawa mereka karena di bunuh kaum Khamer Merah, menderita kelaparan atau sakit merupakan contoh ekstrim gerakan sosial semacam ini. Gerakan transformasi yang dilancarkan oleh rezim komunis di Uni Soviet pada tahun 30-an serta di Tiongkok sejak akhir 40-an untuk mengubah masyarakat mereka menjadi masyarakat komunis pun mengakaibatkan menentang diskriminasi oleh orang kasta-kasta bawah, menengah dan atasmu mendapat di kategotikan dalam ini karena keberhasilan gerakan mereka akan berarti pula perombakan mendasar  pada masyarakat India.

C.    Gerakan Pembrontakan DI/TII
Gerakan DI/TII adalah gerakan yang dipimpin oleh Kartosuwirjo. Kartosuwirjo adalah seseorang yang sejak awal memunculkan Islamismenya. Kartosuwirjo aktif dalam organisasi-organisasi pemuda yang memperkenalkan dia pada tokoh-tokoh pergerakan seperti Agus Salim dan HOS Cokroaminoto.  Pada tanggal 7 Agustus 1949, Kartosuwirjo bersama pengikutnya memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Mereka mengeluarkan naskah proklamasi yang ditanda tangani oleh Kartosuwirjo. Program utama NII yaitu menyadarkan manusia bahwa mereka hamba Allah dan menegakkan khalifah fil ardhi. Proklamasi tersebut mempunyai arti penting bagi Kartosuwirjo dan pengikutnya. Proklamasi menjadikan umat islam di seluruh Indonesia memperoleh kemerdekaannya yang hakiki karena telah memiliki negara dan pemerintahan yang menjalankan syariat Islam. Kartosuwirjo selanjutnya menetapkan Qanun Azasi sebagai konstitusi Darul Islam.


Untuk mencapai rencananya, Kartosuwirjo merubah struktur Darul Islam yang berdasarkan MKT APNII No.1 menjadi system administrasi dengan bentuk 5 komandemen. Kemudian untuk mempermudah upaya koordinasi, Kartosuwirjo juga membagi wilayah Indonesia berdasarkan konsep territorial ke dalam sapta Palagan (tujuh daerah trans). Setelah susunan negara terbentuk langkah selanjutnya adalah menetapkan ibu daerah Negara Islam dimana berlakunya kekeuasaan dan hokum-hukum agama Islam. Daerah ini diberi nama daerah I (D-I). sedangkan daerah yang berada di luarnya dibagi-bagi menjadi daerah II (D-II), daerah ini merupakan wilayah yang hanya dikuasai setengah umat Islam dan daerah yang belum dikuasai umat Islam dijadikan sebagai daerah III (D-III). Kewajiban para pemimpin di daerah ini adalah mempertahankan daerah yang telah dikuasai serta menghubungkan D-I dan D-II sehingga terbentuk wilayah yang 100% dikuasai umat Islam (Darul Islam). 


Untuk meraih cita-citanya dalam membentuk Darul Islam Kartosuwijo menyebut bahwa perjuangan dari pasukannnya adalah perjuangan suci dan selanjutnya digunakan istilah Jama’atul Mujahiddin. Keadaan ini dimanfaatkan oleh kapten R.P.P Westerling dan beberapa perwira Belanda lainnya serta negara boneka Pasundan. Akhirnya Kartosuwirjo diundang dalam sebuah perundingan. Dalam perundingannya membicarakan usaha-usaha saling membantu antara Darul Islam dengan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil). Kekeuatan Darul Islam sangat didukung oleh pasukan TII lainnya. Gelombang dukungan terhadap NII pun bermunculan, tanggal 21 September 1953 Daud Beureuh yang sebelumnya menjadi gubernur militer Aceh dan Sumatera Timur, resmi menyatakan bergabung dengan pemerintah NII. Dan masih banyak lagi pimpinan-pimpinan lainnya yang bergabung. 


BAB III
PENUTUP 

A.    Kesimpulan
Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut sebagai agama. Agama memiliki nilai-nilai bagi kehidupan manusia sebagai orang per orang maupun dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat. Selain itu agama juga member dampak bagi kehidupan sehari-hari. Dengan demikian secara psikologis agama dapat berfungsi motif intrinsic (dalam diri) dan motif ekstrinsik (luar diri). Motif yang didorong keyakinan agama dinilai memiliki kekuatan yang mengagumkan dan sulit ditandingi oleh keyakinan non agama, baik sulit didefinisikan secara tepat dan memuaskan.

Gerakan sosial atau social merupakan suatu kolektivitas yang melakukan kegiatan dengan kadar kesinambungan tertentu untuk menunjang atau menolak perubahan yang terjadi dalam masyarakat atau kelompok yang mencakup kolektivitas itu sendiri, gerakan sosial sesungguhnya berangkat dari kesadaran sekelompok orang atas kepentingannya. Dalam gerakan sosial terdapat empat unsur yang mempengaruhi pertama adalah jaringan yang kuat tetapi interakisnya bersifat informal atau tidak terstruktur. Dengan kata lain ada ikatan ide dan komitmen bersama di antara para anggota atau konstituen gerakan itu meskipun mereka dibedakan dalam profesi, kelas sosial. Kedua, ada sharing keyakinan dan solidaritas di antara mereka. Ketiga, ada aksi bersama dengan membawa isu yang bersifat konfliktual. Ini berkaitan dengan penentangan atau desakan terhadap perubahan tertentu. Keempat Aksi tuntutan itu bersifat kontinyu. Gerakan DI/TII merupakan salah satu bentuk dari gerakan sosial yang berlandaskan keagamaan yang dipimpin oleh Kartosuwirjo yang bertujuan untk menjadikan negara indonesia menjadi sebuah negara yang berazazkan islam.
 
B.Saran 
Dalam penyusunan sebuah makalah sebagai salah satu aktivitas dan tugas di dalam perkuliahan menuntut adanya keseriusan, ketelitian, serta keuletan dari mahasiswa agar tercapai hasil yang maksimal seperti apa yang diharapkan dan makalah yang disusun dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, untuk itu perbanyak referensi buku yang berkaitan dengan topik makalah
 
DAFTAR PUSTAKA  
  • Betty R. Schaf. 1995. Kajian Sosiologi Agama. Yogyakarta. Tiara Wacana Yogyakarta. 
  • Gardono, Sujatmiko. 2006. Gerakan Sosial, Wahana Civil Society Bagi Demokrasi. Jakarta. LP3ES. 
  • Ishomuddin. 2002. Pengantar Sosiologi Agama. Jakarta. Ghalia Indonesia. 
  • Nottingham, Elizabeth K. 1985. Agama dan Masyarakat, Suatau Pengantar Sosiologi Agama. Jakarta. CV Rajawali. 
  • Ruslan. 2008. Mengapa Mereka Memberontak? Dedengkot Negara Islam Indonesia. Yogyakarta. Bio Pustaka. 
  • Sudrajat, Ajat dkk. 2008. Din Al-Islam, Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Umum. Yogyakarta. UNY Press.