10 Contoh Model Pembelajaran dan Langkah-Langkahnya

wawasanpendidikan.com,-Pembelajaran dikelas merupakan proses belajar-belajar. Dimana seorang guru menjadikan pengalaman belajar sebagai bahan inrtospeksi agar pembelajaran semakin baik dan kondusif, disisi lain, peserta didik yang menjadi subjek belajar harus betul-betul menggunakan momentum pembelajaran sebagai ajang mengumpulkan dan menyempurnakan pengetahuan.

Dalam pembelajaran, berbagai strategi dilakukan oleh guru agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Kesiapan dalam pembelajaran, ketepatan dalam pemilihan model pembelajaran dan penguasaan materi menjadi kunci efektifnya pembelajaran.

Terkadang guru bingung dan bahkan galau untuk memilih model apa yang cocok untuk di terapkan pada saat mengajar di kelas. nah kali ini seorang guru tak perlu khawatir lagi karena dibawah ada 10 contoh model pembelajaran  dan langkah-langkahnya yang akan dipaparkan oleh sobat pendidikan secara ditel sehingga tdk usah khawatir lagi, buang galaunya sejauh mungkin karena ini adalah solusinya. silahkan pilih salah satu model dibawah ini yang cocokuntuk di terapkan di kelas. semoga bermanfaat
Model Pembelajaran dan Langkah-Langkahnya
Model Pembelajaran dan Langkah-Langkahnya

1.  PICTURE AND PICTURE
     Langkah-langkah :
  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  •  Menyajikan materi sebagai pengantar
  • Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
  • Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
  • Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
  • Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi  yang ingin dicapai
  • Kesimpulan/rangkuman
2.  JIGSAW II (MODEL TIM AHLI) 
Pengajaran dengan jigsaw pertamakali dikembangkan oleh Elliot Aronson dan rekan-rekannya pada tahun 1978 kemudian dikembangkan oleh slavin pada tahun 1986a yang disebut dengan Jigsaw II dalam bentuk yang lebih praktis dan mudah.

Jigsaw II dapat digunakan apabila materi yang akan dipelajari berbentuk narasi tertulis. Pembelajaran ini sangat cocok untuk pelajaran ilmu social, literature, dan sebagian pelajaran ilmu pengetahuan alam, serta pelajaran bidang laiannya yang tujuan utamanya adalah penguasaan konsep.  Pengajaran (bahan baku) untuk jigsaw II biasanya harus berupa BAB, Cerita, biografi atau materi-materi narasi lainnya.

Langkah-langkah :
  • Siswa dibagi dalam  kelompok-kelompok kecil secara heterogen  4-5 siswa untuk bekerja secara tim
  • Para siswa diberikan tugas untuk membaca beberapa BAB atau Unit dan diberikan Lembar Ahli yang terdiri tas topic-topik yang berbeda yang harus menjadi focus perhatin masing-masing anggota tim saat mereka membaca.
  • Setelah selesi membaca, setiap siswa dari tim yang berbeda yang memiliki focus topic yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan topic mereka sekitar 30 menit.
  • Setelah selesai, para ahli tersebut kembali kepada tim mereka dan secara bergantian mengajari teman satu timnya mengenai topic mereka.
  • Para siswa menerima penilaian yang mencakup seluruh topic  dan skor kuis akan menjadi skor tim.
Jadwal kegiatan
  • Membaca, para siswa menerima topic ahli dan membaca materi yang diminta untuk menemukan informasi
  • Diskusi kelompok ahli, para siswa dengan keahlian yang sama bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok ahli
  • Laporan tim, para siswa kembali kepada kelompok mereka masing-masing untuk mengajari topic-topik merekan kepada teman satu tim. 
  • Tes, para siswa mengerjakan kuis-kuis indovidu yang mencakup semua topic
  • Rekognisi tim, skor tim dihitung seperti dalam STAD 
3. EXAMPLES NON EXAMPLES

   Contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan dengan KD 
  
 Langkah-langkah :
  • Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
  • Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
  • Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
  • Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
  • Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
  • Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
  • Kesimpulan
4. COOPERATIVE SCRIPT 
Skrip kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari

Langkah-langkah :
  • Guru membagi siswa untuk berpasangan
  • Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
  • Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
  • Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar :
    - Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap
    - Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi                     sebelumnya atau dengan materi lainnya
  • Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
  • Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru
5. MIND MAPPING
    Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban

    Langkah-langkah :
  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  • Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
  • Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
  • Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
  • Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papat dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
  • Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai  konsep yang disediakan guru
6. KOPERATIF TIPE LEARTING TOGETHER (LT)  

David dan Roger Johnson dari Universitas Minnesota mengembangkan model learning together dari pembelajaran kooperatif. Metode yang mereka teliti meliputi siswa yang dibagi dalam kelompok yang terdiri atas empat atau lima kelompok dengan latar belakang yang berbeda mengerjakan lembar tugas, dan menerima pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. David dan Roger  Johnson (dalam Slavin, 2008) menekankan pada empat unsur yakni :
  • Interaksi tatap muka : para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima orang,
  • Interdependensi positif : para siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan kelompok,
  • Tanggung jawab individual : para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka secara individual telah menguasai materinya
  • Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil : para siswa diajari mengenai sarana-sarana yang efektif untuk bekerja sama dan mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan mereka
Dalam hal ini penggunaan kelompok pembelajaran heterogen dan penekanan terhadap interdependensi positif, serta tanggung jawab individual metode-metode Johnson ini sama dengan STAD. Akan tetapi, mereka juga menyoroti perihal pembangunan kelompok dan menilai sendiri kinerja kelompok, dan merekomendasikan penggunaan penilaian tim ketimbang pemberian sertifikat atau bentuk rekognisi lainnya. Metode ini membagi siswa dalam kelompok heterogen dengan 4 – 5 anggota. Setiap kelompok ini menerima satu lembar tugas, menerima pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. 

Langkah - Langkah Pembelajaran Koperatif Tipe Learning Together
Adapun sintaks dari Learning Together adalah: 
  • Guru menyajikan pelajaran.
  • Membentuk kelompok yang anggotanya 4 sampai 5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain)
  • Masing-masing kelompok menerima lembar tugas dan menyelesaikannya.
  • Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya.
  • Pemberian pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok.
7. NUMBERED HEADS TOGETHER 

    Terdapat empat tahap pelaksanaan teknik NHT yaitu “penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab”.Rencana pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
  • Penomoran 
Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan tiga sampai lima orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5 sehingga setiap siswa dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok.
  • Mengajukan Pertanyaan
Langkah berikutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula.
  • Berpikir Bersama
Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masingmasing pertanyaan.
  • Pemberian Jawaban 
Langkah terakhir yaitu guru menyebut salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut.

8. PROBLEM BASED LEARNING (PBL) 
    
Pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning merukan sebuah model pembelajaran yang berpusat pada siswa. memposisikan siswa dengan berbagai macam masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. dengan menggunakan model pembelajaran seperti ini, siswa sedari awal di ajarkan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah seperti yang akan mereka temui di kehidupannya kedepan. 

Problem Based Learning merupakan cara untuk menyajikan permasalahan sebagai titik tolak diskusi permasalahan, untuk kemudian dilakukan analisis dan di sintesis dalam kegiatan pemecahan masalah oleh peserta didik. permasalahan dapat diberikan oleh pendidik, kemudian pendidik bersama peserta didik bersama-sama untuk melakukan analisis dan memecahkan masalah tersebut.  
Langkah-langkah :

Langkah-Langkah:

Problem Based Learning (PBL) akan dapat dijalankan bila pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan. Pemelajar pun harus harus sudah memahami prosesnya, dan telah membentuk kelompokkelompok kecil. Umumnya, setiap kelompok menjalankan proses yang dikenal dengan proses tujuh langkah:
  • Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas
Memastikan setiap anggota memahami berbagai istilah dan konsep yang ada dalam masalah. Langkah pertama ini dapat dikatakan tahap yang membuat setiap peserta berangkat dari cara memandang yang sama atas istilah-istilah atau konsep yang ada dalam masalah.
  • Merumuskan masalah
Fenomena yang ada dalam masalah menuntut penjelasan hubungan-hubungan apa yang terjadi di antara fenomena itu.
  • Menganalisis masalah
Anggota mengeluarkan pengetahuan terkait apa yang sudah dimiliki anggota tentang masalah. Terjadi diskusi yang membahas informasi faktual (yang tercantum pada masalah), dan juga informasi yang ada dalam pikiran anggota. Brainstorming (curah gagasan) dilakukan dalam tahap ini.
  • Menata gagasan secara sistematis dan menganalisis
Bagian yang sudah dianalisis dilihat keterkaitannya satu sama lain kemudian dikelompokkan; mana yang paling menunjang, mana yang bertentangan, dan sebagainya. Analisis adalah upaya memilahmemilah sesuatu menjadi bagian-bagian yang membentuknya.
  • Memformulasikan tujuan pembelajaran
Kelompok dapat merumuskan tujuan pembelajaran karena kelompok sudah tahu pengetahuan mana yang masih kurang, dan mana yang masih belum jelas. Tujuan pembelajaran akan dikaitkan dengan analisis masalah yang dibuat
  • Mencari informasi tambahan dari sumber lain
Saat ini kelompok sudah tahu informasi apa yang tidak dimiliki, dan sudah punya tujuan pembelajaran. Kini saatnya mereka harus mencari informasi tambahan itu, dan menemukan kemana hendak dicarinya.
  • Mensistesis (menggabungkan) dan menguji informasi baru dan membuat laporan.
9. STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) 

Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD  merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa inggris, teknik dan banyak subjek lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi 

Tipe STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna untuk mencapai prestasi yang maksimal. Pada proses pembelajarannya, belajar kooperatif tipe STAD melalui lima tahapan yang meliputi :1) Tahap penyajian materi, 2) tahap kegiatan kelompok, 3) tahap tes individual, 4) tahap perhitungan skor perkembangan individu, dan 5) tahap pemberian penghargaan kelompok 

Langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD yakni 
  • Penyampaian Tujuan dan Motivasi
Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
  • Pembagian Kelompok 
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompoknya terdiri dari 4-5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, ras atau etnik.
  • Presentasi dari guru
Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru member motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.
  • Kegiatan Belajar dalam Tim (kerja Tim)
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.
  • Kuis (Evaluasi)
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.
  • Penghargaan Prestasi Tim
Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0-100. 

10. ARTIKULASI

Langkah-langkah :
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
  • Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
  • Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
  • Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya  mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
  • Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
  • Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
  • Kesimpulan/penutup
semoga informasinya bermanfaat

Baca Juga:
Model Pembelajaran Tematik

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel