Faktor-Faktor Interaksi Sosial Menurut Pendapat Ahli

wawasanpendidikan.com; interaksi sosial adalah hal yang mutlak karena setiap individu satu dan yang lainnya akan saling berinteraksi satu sama lain sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk sosial. apa saja yang faktor penyebab sehingga manusai harus berinteraksi? nah, kali ini sobat pendidikan akan berbagi tentang faktor-faktor interaksi sosial yang dikemukakan oleh beberapa ahli. semoga bermanfaat.
Faktor-Faktor Interaksi Sosial Menurut Pandangan Ahli

1. R. Diniarti F. Soe’oed berpendapat bahwa manusia dapat menjadi makhluk sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor :

a. Faktor keturunan (heredity) atau alam (nature)
Faktor keturunan adalah faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (ascribed) dan merupakan transmisi dari unsur-unsur dari orang tuanya melalui proses genetika. Jadi sudah ada sejak awal kehidupan, misalnya : Jenis kelamin, suku bangsa, warna kulit, yang kesemuanya sudah tidak bisa diubah lagi.

b. Faktor lingkungan (environment) atau asuhan (nurture)
Faktor lingkungan adalah faktor luar yang mempengaruhi organisme, yang membuat kehidupan bertahan. Misalnya : pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya yang dapat berubah-ubah dalam kehidupan individu serta pada usahanya. (achievement). 

Kedua faktor tersebut sama pentingnya dan saling berinteraksi serta melengkapi dalam membentuk perilaku tertentu dari manusia. Jadi perilaku tertentu itu tergantung pada faktor keturunan dan pada apa yang disediakan oleh lingkungannya ataupun sebaliknya. Perilaku tertentu tidak mungkin terbentuk hanya karena faktor keturunan tetapi tanpa pengaruh dari lingkungannya ataupun sebaliknya. Hanya saja setiap manusia berbeda-beda dalam perkembangannya mana yang lebih dominan, apakah faktor keturunannya ataukah pengaruh lingkungannya

2.  Burhanudin Salam berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk sosial karena faktor-faktor sebagai berikut : 

a. Sifat ketergantungan manusia dengan manusia lainnya.
Sejak manusia berada dalam masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, sampai dewasa bergantung dan memerlukan bantuan dari yang lain demi kelestarian hidupnya. Dan kedewasaan ini merupakan tujuan akhir pendidikan yang posibel untuk dicapai. Karena itu manusia dalam sepanjang hayatnya terus menerus belajar.

b. Sifat adaptability dan intelegency
Manusia memiliki potensi untuk menyesuaikan diri, meniru, dan beridentifikasi, serta manusia mampu mempelajari tingkah laku, memanfaatkan tingkah laku. Adapun sifat sosial ini berlangsung dalam suatu kelompok tertentu.

Dalam proses sosialisasi manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, dan setiap faktor mempunyai peran yang penting dalam rangka proses sosialisasi. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : 

a. Faktor Organisme biologis
Yaitu perangkat jasmani/fisik seseorang yang berperan memberi perlengkapan dan merupakan potensi dalam mempertahankan hidupnya, atau merupakan alat dalam rangka interaksi dengan lingkungannya.58 Misalnya adanya tangan dengan ibu jari yang dapat dipertemukan degan jari-jari lainnya, mekanisme pendengaran, penglihatan dan berbagai organ lainnya. Adanya organisasi untuk penginderaan serta sistem syaraf merupakan merupakan syarat mutlak untuk belajar dengan menangkap, mengolah perangsang-perangsang dari luar serta menyimpannya.

b. Faktor lingkungan alami.
Yaitu benda lingkungan sekitar yang non manusiawi, benda-benda ini berperan memberikan tempat dan memberikan bahan-bahan untuk hidup dalam mengembangkan tingkah laku. Lingkungan alam merangsang bentuk kelakuan tertentu, seperti laut untuk menangkap ikan, berlayar dan sebagainya, walaupun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi organisasi dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungan dekat.

c. Faktor lingkungan sosial budaya
Lingkungan sosial budaya mengandung dua unsur yaitu : 
  • Unsur sosial yakni interaksi di antara manusia 
  • Unsur budaya yakni bentuk kelakuan yang sama yang terdapat di
C. S. Nasution. Berpendapat bahwa Interaksi sosial juga dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut :

a. Faktor Imitasi
Imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain. Segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaedah-kaedah dan nilai-nilai yang berlaku. Namun, mungkin juga bisa mengakibatkan terjadinya hal-hal yang negatif, misalnya yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang. Untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, ada sikap mengagumi terhadap apa yang diimitasi, karena itu imitasi itu tidak berlangsung dengan sendirinya. Peranan faktor ini dalam interaksi sosial misalnya pada perkembangan bahasa. Apa yang diucapkan oleh anak, anak akan mengimitasi dari keadaan sekelilingnya. Anak mengimitasi apa yang didengarnya, yang kemudian menyampaikan kepada orang lain, sehingga dengan demikian berkembanglah bahasa anak itu sebagai alat komunkasi dalam interaksi sosial.

b. Faktor sugesti
Merupakan pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Dalam sugesti orang dengan sengaja, dengan secara aktif memberikan pandangan-pandangan, pendapat-pendapat, norma-norma dan sebagainya, agar orang lain dapat menerima apa yang diberikan itu.

c. Faktor identifikasi
Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Sehubungan dengan identifikasi ini, Freud menjelaskan bagaimana anak mempelajari norma-norma sosial dari orang tuanya. Secara garis besar hal ini dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu : 
  • Anak mempelajari dan menerima norma-norma sosial itu karena orang tua dengan sengaja mendidiknya. Orang tua dengan sengaja menanamkan norma-norma sosial kepada anak, bahwa ini baik, dan itu tidak baik, ini perlu dikerjakan dan itu perlu ditinggalkan, dan sebagainya. 
  • Kesadaran akan norma-norma sosial juga dapat diperoleh anak dengan jalan identifikasi, yaitu anak mengidentifikasikan diri pada orang tua, baik pada ibu maupun pada ayah. Karena itu kedudukan orang tua sangat penting sebagai tempat identifikasi dari anakanaknya.
d. Faktor simpati
Simpati merupakan perasaan rasa tertarik pada orang lain. Karena simpati merupakan perasaan, maka simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan atas dasar perasaan atau emosi. Di dalam proses ini perasaan seseorang memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk kerja sama dengannya.

Sumber:
  • Soe’oed, R. Diniarti F. 2004. “ Proses Sosialisasi”. Dalam Ihromi, T.O.(penyunting). Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. 
  • Salam, H. Burhanuddin, Pengantar Pedagogik, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997)
  • Nasution, S., Sosiologi Pendidikan, ( Jakarta : Bumi Aksara, 1999)