Pengertian Interaksi Sosial Menurut Pendapat Ahli

wawasanpendidikan.com; Manusia adalah makhluk sosial. kata ini mendeskripsikan betapa manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya. sehingga manusia harus mampu berinteraksi baik kepada sesama manusia maupun lingkungan. sebelumnya, apakah teman-teman sudah faham belum sebenarnya interaksi sosial itu apa? nah, kali ini sobat pendidikan akan membagikan artikel tentang Pengertian Interaksi Sosial menurut pendapat ahli. semoga bermanfaat.
Pengertian Interaksi Sosial Menurut Pendapat Ahli

A. Pengertian Interaksi Sosial Menurut Pendapat Ahli
Interaksi sosial yaitu hubungan timbal balik dan pengaruh-mempengaruhi antar individu dalam masyarakat, serta antar individu dalam masyarakat, serta antar individu dengan lingkungan alam phisik, yang dapat berakibat terjadinya perubahan atau pergeseran sosial.

Menurut pengertian istilah, ada beberapa definisi interaksi sosial antara lain :
  1. Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, Interaksi sosial adalah “hubungan sosial yang dinamis antara orang perseorangan dan orang perseorangan, antara perseorangan dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.”  
  2. Menurut Bimo Walgito mendefinisikan “Interaksi sosial ialah hubungan antara individu satu dengan individu yang lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat adanya hubungan yang saling timbal balik”  
  3. Menurut Soerjono Soekanto di buku Sosiologi Suatu Pengantar, mendefinisikan bahwa “interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia” 
  4. Menurut Soerjono Soekanto di buku Memperkenalkan Sosiologi, mengartikan “interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, dan antara individu dengan kelompok
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud interaksi sosial ialah suatu hubungan yang terjalin antara individu atau kelompok, di mana terdapat proses saling mempengaruhi di dalamnya. Hubungan yang dimaksud di sini ialah suatu hubungan sosial yang dinamis. Dari hubungan tersebut diharapkan akan membawa perubahan yang positif. 

Pengertian tentang interaksi sosial sangat berguna di dalam memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah masyarakat, umpamanya di Indonesia dapat dibahas mengenai bentuk-bentuk interaksi sosial yang berlangsung antara berbagai suku bangsa atau antar golongan terpelajar dengan golongan agama. 

Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi, tak ada mungkin ada kehidupan bersama-sama. Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. 

Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial (yang juga dapat dinamakan proses sosial), oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu mereka saling menegur, berjabat tangan, saling bicara atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial.

B. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
1. Kerja sama (cooperation) 
Kerja sama timbul apabila orang menyari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut, kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan faktor-faktor yang penting dalam kerja sama yang berguna. Kerja sama akan bertambah kuat apabila ada bahaya luar yang mengancam atau ada  tindakan-tindakan institutional telah tertanam di dalam kelompok, dalam diri seorang atau segolongan orang. Kerja sama dapat bersifat agresif apabila kelompok dalam jangka waktu yang lama mengalami kekecewaan sebagai akibat perasaan tidak puas, karena keinginan-keinginan pokoknya tidak dapat terpenuhi oleh karena adanya rintanganrintangan yang bersumber dari luar kelompok itu. Keadaan tersebut menjadi lebih tajam lagi apabila kelompok demikian merasa tersinggung atau dirugikan sistem kepercayaan atau dalam salah satu bidang sensitif dalam kebudayaan. 

2.  Persaingan (competition) 
Persaingan dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umat (baik perorangan maupun kelompok manusia). Dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan mempunyai dua tipe umum yakni, orang perorangan atau individu secara langsung bersaing untuk memperoleh kedudukan tertentu di dalam suatu organisasi.

3. Pertikaian (conflic) 
Pertikaian adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan. Pribadi maupun kelompok yang menyadari adanya perbedaanperbedaan misalnya dalam ciri-ciri badaniah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku dengan pihak lain. Ciri tersebut dapat mempertajam perbedaan yang ada sehingga menjadi suatu pertikaian. Perasaan memegang peranan penting dalam mempertajam perbedaanperbedaan tersebut sedemikian rupa, sehingga masing-masing pihak berusaha untuk saling menghancurkan. Perasaam mana biasanya berwujud amarah dan rasa benci yang menyebabkan dorongandorongan untuk melukai atau menyerang pihak lain, atau untuk menekan dan menghancurkan individu atau kelompok  yang menjadi lawan.

Sumber:
1. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke 3, (Jakarta : Balai Pustaka, 2002),
2. Bimo Walgito, Psikologi Sosial Edisi ke 2, (Yogyakarta : ANDI, 2001), Cet. 3,
3. Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar Edisi ke 1, (Jakarta : Rajawali, 1982),