Pengertian, Tujuan, Macam-Macam, Proses, Keunggulan serta Kelemahan Metode Inquiry Discovery Learning

wawasanpendidikan.com; Metode mengajar adalah cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Peranan metode mengajar adalah sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar. Melalui metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru. Terciptanya interaksi edukatif ini, guru berperan sebagai penggerak dan pembimbing. Sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik kalau siswa banyak aktif dibandingkan dengan guru. Metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa. salah satunya adalah Metode Inquiry Discovery Learning. Kali ini sobat pendidikan akan mengupas secara tuntas tentang Metode Inquiry Discovery Learning . semoga bermanfaat. 

Pengertian, Tujuan, Macam-Macam. Proses, Keunggulan serta Kelemahan Metode Inquiry Discovery Learning
Metode Inquiry Discovery Learning 

A. Pengertian Metode Inquiry Discovery Learning 
Inkuiri yang dalam bahasa inggris inquiry discovery learning, berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi.”

Menurut E. Mulyasa inquiry adalah cara menyadari apa yang telah dialami. Sistem belajar mengajar ini menuntut peserta didik berpikir. Metode ini menempatkan peserta didik pada situasi yang melibatkan mereka pada kegiatan intelektual, dan memproses pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna.

Sedangkan menurut Syafrudin Nurdin, metode inquiry discovery learning adalah suatu metode yang dapat disusun oleh guru dalam proses belajar mengajar, sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Melalui metode ini siswa akan mampu mengembangkan rasa ingin tahunya, dan keberanian berpartisipasi dalam proses belajar mengajar. 

Inquiry discovery learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Sistem belajar mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.

Metode inquiry discovery learning adalah suatu teknik instruksional dimana dalam proses belajar mengajar Siswa dihadapkan dengan suatu masalah. Bentuk pengajaran terutama memberi motivasi kepada siswa untuk menyelidiki masalah-masalah yang ada dengan menggunakan cara-cara dan keterampilan ilmiah dalam rangka mencari penjelasan. Pengajaran ini untuk menolong siswa mengembangkan keterampilan-keterampilan penemuan ilmiah (scientific inquiry discovery learning). Pengajaran ini untuk menarik siswa menyelidiki sejumlah informasi dalam rangka mencari pemecahan masalah serta untuk melatih siswa mengembangkan faktafakta, membangun konsep-konsep dan menarik kesimpulan umum atau teori-teori yang menerangkan fenomena-fenomena yang dihadapkan kepadanya. 

Metode Inquiry discovery learning adalah sebagai suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. 

Melihat hal di atas, metode inquiry discovery learning ialah belajar pencarian dan penemuan. Dalam proses belajar mengajar dengan model inquiry discovery learning, seorang guru dalam menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk  yang final (utuh dari awal hingga akhir) atau dengan kata lain guru hanya menyajikan sebagian. Selebihnya diserahkan kepada siswa untuk mencari dan menemukannya sendiri. Kemudian guru memberi kesempatan seluasluasnya kepada siswa untuk mendapatkan apa-apa yang belum disampaikan oleh guru dengan pendekatan belajar problem solving.

Ini berarti tekanan dalam metode inquiry discovery learning adalah sebagai usaha menemukan dan meneliti pola-pola hubungan, fakta, pertanyaan-pertanyaan, pengertian, kesimpulan-kesimpulan, masalah, pemecahan-pemecahan dan implikasi-implikasi yang ditonjolkan oleh salah satu bidang studi. Sehingga dalam pembelajaran terjadi sebuah penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan. 

Penggunaan metode inquiry discovery learning dalam proses belajar mengajar, untuk melatih siswa melakukan berbagai macam aktivitas, yaitu pengamatan, penyelidikan, percobaan, membandingkan penemuan yang satu dengan yang lain, mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri. Sehingga hasil dari kegiatan itu siswa akan mendapatkan fakta-fakta secara lengkap tentang obyek yang diamati. 

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode inquiry discovery learning adalah suatu proses belajar mengajar yang berpusat pada siswa, guru tidak perlu menjejalkan seluruh informasi kepada siswa. Guru perlu membimbing suasana belajar siswa sehingga mencerminkan proses penemuan bagi siswa. Materi yang disajikan bukan berupa informasi, akan tetapi siswa diberi kesempatan untuk mencari dan menemukan informasi dari bahan ajar yang dipelajari. Dengan metode inquiry discovery learning mendorong siswa untuk mengembangkan potensi intelektualnya. Dengan menemukan hubungan dan keteraturan dari materi yang sedang dipelajari, siswa menjadi lebih mudah mengerti struktur materi yang telah dipelajari.  

B. Tujuan dan Manfaat Metode Inquiry discovery learning
Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan akan memberi arah kemana kegiatan belajar mengajar akan tercapai bila seorang guru bias memilih dan menerapkan strategi yang tepat. Tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu, maka strategi atau metode yang digunakan harus sesuai dengan tujuannya. Seorang guru sebaiknya menggunakan strategi atau metode yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.  

Menurut Bruner sebagaimana dikutip Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, sistem pembelajaran itu bertujuan agar hasil belajar dengan cara ini lebih mudah dihafal dan diingat, mudah ditransfer untuk memecahkan masalah pengetahuan dan kecakapan anak didik dapat menumbuhkan motivasi intrinsic, karena anak didik merasa puas atas usahanya sendiri.

Seorang guru menggunakan metode inquiry discovery learning dengan tujuan agar siswa terangsang oleh tugas, dan aktif mencari serta meneliti pemecahan masalah itu sendiri, mencari sumber dan belajar bersama di dalam kelompok. Diharapkan juga siswa mampu mengemukakan pendapatnya, berdebat, menyanggah, dan memperhatikan pendapatnya, menumbuhkan sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan lain sebagainya.   

Tujuan pelaksanaan inquiry discovery learning adalah mengarah pada peningkatan kemampuan baik dalam bentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor. Hal ini tidak terlepas dari tujuan dan perencanaan (kurikulum) pengajaran, sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai sesuai dengan pemilihan metode yang dilakukan. 

Manfaat diterapkannya metode inquiry discovery learning sebagai berikut: 
  • Merupakan suatu cara belajar siswa aktif 
  • Melalui penemuan sendiri, dan menyelidiki sendiri, maka hasil  yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan, tak mudah dilupakan. 
  • Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah ditransfer dalam situasi lain. 
  • Anak belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Metode ini akan meningkatkan potensi intelektual siswa. Melalui metode ini siswa diberi kesempatan untuk mencari dan menemukan hal-hal yang saling berhubungan melalui pengamatan dan pengalamannya sendiri. 
  • Jika siswa telah berhasil dalam penemuannya, ia akan memperoleh kepuasan intelektual yang datang dari diri siswa sendiri yang merupakan suatu hadiah intrinsic.  
  • Belajar bagaimana melakukan penemuan hanya dapat dicapai secara efektif melalui proses melakukan penemuan.

C. Macam-macam Pelaksanaan Metode Inquiry discovery learning 

Sund dan Trow Bridge (1973) mengemukakan tiga macam metode inquiry discovery learning, sebagai berikut: 
1.  Inquiry terpimpin (Guide inquiry)
Siswa memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Metode ini digunakan terutama bagi siswa yang belum berpengalaman belajar dengan metode inquiry discovery learning, dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Tahap awal pembelajaran, bimbingan lebih banyak diberikan, dan sedikit demi sedikit dikurangi sesuai dengan pengembangan pengalaman siswa. Pelaksanaannya, sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru.  Siswa tidak merumuskan permasalahan. Petunjuk yang cukup luas  tentang bagaimana menyusun dan mencatat data diberikan oleh guru. 

2) Inquiry bebas (Free inquiry)
Pada inquiry discovery learning bebas, siswa melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuwan. Siswa harus dapat mengidentifikasi dan merumuskan berbagai topik permasalahan yang hendak diselidiki. Pelaksanaannya, melibatkan siswa dalam kelompok tertentu. Setiap anggota kelompok memiliki tugas, misalnya koordinator, pembimbing teknis, pencatatan data dan mengevaluasi proses. 

3) Inquiry bebas yang dimodifikasi (Modified free inquiry)
Pada inquiry discovery learning ini guru memberikan permasalahan atau problem, selanjutnya siswa diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.

D. Proses Metode Inquiry discovery learning 
Mengingat belajar merupakan proses bagi siswa dalam membangun pemahaman atau gagasan sendiri, maka kegiatan pembelajaran hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal itu secara lancar dan termotivasi. Suasana belajar yang diciptakan guru harus melibatkan siswa secara aktif: mengamati,
bertanya, mempertanyakan, menjelaskan, dan sebagainya. Situasi seperti itu sangat cocok dengan metode inquiry discovery learning  yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mencari dan menemukan konsep-konsep sendiri. Pembelajaran inquiry discovery learning merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.  Pada penelitian ini tahapan pembelajaran yang digunakan mengadaptasi dari tahapan pembelajaran inquiry discovery learning yang dikemukakan oleh Eggen & Kauchak (1996). Adapun tahapan pembelajaran inquiry discovery learning sebagai berikut: 

Tabel
Tahap pembelajaran inquiry discovery learning.
Fase
Perilaku Guru
Menyajikan pertanyaan atau masalah
Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan tulis. Guru membagi siswa dalam kelompok.
Membuat hipotesis
Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan
memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas pendidikan.
Merancang percobaan
Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkahlangkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing Siswa mengurutkan langkah-langkah pemecahan masalah.
Melakukan diskusi untuk memperoleh informasi
Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui  diskusi.
Mengumpulkan dan menganalisis data
Guru memberi kesempatan pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul
Membuat kesimpulan
Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan

E. Keunggulan dan Kelemahan Metode Inquiry discovery learning 
Metode inquiry discovery learning memiliki keunggulan dan kelemahan. Adapun keunggulan metode inquiry discovery learning adalah sebagai berikut:
  1. Menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna. 
  2. Mampu melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, sehingga siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar. 
  3. Dapat membentuk dan mengembangkan diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik. 
  4. Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. 
  5. Mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka. 
  6. Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri. 
  7. Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
  8. Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Di samping memiliki beberapa keunggulan, metode inquiry discovery learning juga mempunyai beberapa kelemahan. Berikut ini kelemahan metode inquiry discovery learning:
  1. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa. 
  2. Tidak mudah mendesainnya, karena terbentur pada kebiasaan siswa. 
  3. Terkadang dalam implementasinya memerlukan waktu yang panjang, sehingga guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan. 
  4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka strategi ini akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
  5. Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu. 
  6. Strategi ini tidak memberi kesempatan untuk berpikir kreatif kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru.

Pendapat diatas jelaslah, bahwa metode inquiry discovery learning mempunyai kebaikan dan kelemahan. Kebaikan metode inquiry discovery learning dapat mengembangkan konsep yang mendasar pada diri siswa, daya ingatan siswa akan lebih baik, dan dapat mengembangkan kreatifitas siswa dalam kegiatan belajarnya, serta melatih siswa untuk belajar sendiri. Metode inquiry discovery learning ini akan dapat membantu tercapainya tujuan pengajaran yang diinginkan oleh pengajar. Kelemahan metode ini bagi para pendidik dituntut benar-benar menguasai konsep-konsep dasar, harus pandai merangsang siswa, tujuan yang diinginkan harus benar-benar jelas serta pendidik dituntut untuk member pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mengarahkan pada tujuan. 

Sumber:
  • B. Suryosubroto. (2002). Proses belajar mengajar di Sekolah. Jakarta:PT Rineka Cipta
  • E. Mulyasa. (2008). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
  • Syafrudin Nurdin. (2002).  Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: PT  Intermasa 
  • Syaiful bahri Djamarah dan Aswan Zain. (2006). Strategi belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
  • W. Gulo. (2004). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Grasindo
  • Muhibbin Syah. (1997). Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT Remaja  Rosda Karya 
  • J. Drost. (1999). Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia
  • Roestiyah N.K. (1998).  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rhineka Cipta