Problematika Pemanfaatan Sumber Belajar

wawasanpendidikan.com; Sudah sering kita dengar bahwasanya   sekolah sekolah bahkan perguruan tinggi selama ini sering mendapat sorotan dan kecaman  yang tajam dan dicap sebagai tempat yang membosankan, tak relevan. Lembaga sekolah maupun perguruan tinggi dianggap angkuh, tak menghiraukan kemampuan siswa /mahasiswa  saat belajar.



Banyak kritik ditimbulkan oleh strategi mengajar yang tidak serasi, yang tidak menggunakan alat atau sumber belajar secara kreatif. Sekolah atau perguruan  tinggi terlampau  dikuasai  oleh metode  ceramah, metode kuliah, metode memberitahukan  dengan guru atau dosen sebagai sumber ilmu utama. Adakalanya kuliah dicampur sedikit dengan demonstrasi atau diskusi dan tanya jawab akan tetapi ada sejumlah strategi mengajar lainnya yang tersedia  lebih  melibatkan  siswa  secara  aktif  dalam  proses belajar, strategi mengajar yang lebih relevan guna mencapai hasil belajar tingkat tinggi  yang sangat jarang dimanfaatkan mengajar.

Demikian   pula   sumber   sumber   belajar   dan   mengajar   yang sebenarnya sangat kaya, belum dengan serius diusahakan pengadaannya, sedangkan yang adapun seringkali belum dimanfaatkan sepenuhnya. Sehingga proses belajar mengajar kurang menarik. Beberapa masalah atau kendala yang muncul dalam usaha memanfaatkan sumber belajar telah dijelaskan beberapa pakar pendidikan, antara lain, Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi yang menyoroti tentang permasalahan pada guru yang sampai sekarang masih memiliki pandangan yang sempit mengenai sumber belajar. Keduanya berpendapat, bahwa permasalahan hingga dewasa ini di dalam dunia pengajaran praktis masih berpandangan, sumber belajar (learning resources) adalah guru dan bahan bahan  pelajaran/bahan  pengajaran  baik  buku-buku bacaan  atau semacamnya. Lanjutnya, dalam desain pengajaran yang biasa disusun guru terdapat salah satu komponen pengajaran yang dirancang berupa sumber belajar /pengajaran yang umumnya diisi dengan buku-buku rujukan (buku bacaan wajib/anjuran).  Padahal, pengertian sumber belajar sesungguhnya tidak sesempit /sesederhana itu.  Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Nana Sudjana dan Ahmad Rohani yang mengatakan bahwa sebagian besar guru masih berpandangan secara sempit mengenai sumber belajar yang menurut  mereka sumber  belajar hanya diartikan  berupa buku-buku  atau bahan-bahan tercetak lainnya.

Sedangkan, Syaiful Bahri Djamarah menyatakan mengenai anjuran dalam menggunakan media dalam pengajaran     yang sampai sekarang terkadang  sukar dilakukan,  hal ini disebabkan  dana yang terbatas untuk membelinya. Menyadari akan hal itu, disarankan kembali agar tidak memaksakan   diri   untuk   membelinya,   tetapi   cukup   membuat   media  pendidikan    yang   sederhana   selama   menunjang   tercapainya    tujuan pengajaran.

Permasalahan lain yang muncul telah diungkapkan oleh Mahfudh Shalahuddin  yang menyatakan,  bahwa di dunia pendidikan  sekarang  ini ada suatu pendapat bahwa guru adalah penguasa tunggal di dalam kelas. Dan kecenderungan itu tambah terasa bilamana selain guru kelas tidak ada sumber  belajar  yang dapat dipergunakan  oleh  murid  murid. Padahal berbagai usaha telah dilakukan untuk menyediakan sumber belajar yang bervariasi  di dalam kelas, diantaranya   berupa buku teks, buku bacaan, peta,   dan   alat   alat pelajaran   lain.   Tetapi   kenyataan   masih   banyak menunjukan  adanya  sarana  itu  sebagai hiasan  dan belum  merupakan bagian yang integral dalam proses belajar mengajar.

Nasution dalam bukunya Teknologi Pendidikan menyatakan bahwa walaupun tiap guru menggunakan buku dan papan tulis, akan tetapi bila ia menghadapi  alat  pengajaran  elektronik  seperti  tipe,  TV,  VCD maupun yang lain guru masih enggan menggunakannya karena merasa tidak mempunyai      ketrampilan     tekhnik      untuk      mengendalikannya      /
mengoperasikannya.

Selain aneka problem di atas, Syaiful   Bahri Djamarah juga menambahkan masalah lain yaitu tentang permasalahan kompetensi/kemampuan   guru  yang  juga  patut  dijadikan  perhitungkan artinya  apakah guru tersebut  sudah  mampu  atau  tidak  mempergunakan media  sumber   belajar   tersebut.   Jika  tidak,   maka jangan mempergunakanya, sebab hal itu akan sia-sia. Malahan bisa mengacaukan jalannya proses belajar mengajar.

Masalah lain diungkap oleh Yusuf Hadi Miarso, ia mengatakan bahwa  adanya  anggapan  dengan menggunakan  media  pendidikan  guru tidak perlu membuat persiapan  mengajar terlebih dahulu. Padahal justru sebaliknya bahwa guru dituntut untuk melakukan persiapan dengan cermat dengan mempelajari bahan dalam media itu sendiri semisal buku, dengan mempersiapkan  bahan  tambahan,  pengayaan  atau penjelasan  dan  lain-lain.

Selain  itu,  banyak  kalangan  yang  berpendapat  bahwa menggunakan papan tulis adalah cara yang mudah, cukup dengan meniru guru-guru yang mengajar   dan tak usah dipelajari. Padahal anggapan itu salah dan tidak bisa diterima. Kecakapan menggunakan papan tulis perlu dipelajari  secara khusus dan hendaknya menjadi program pendidikan pada sekolah sekolah guru. Agar mereka mengauasai tekhniknya dengan baik.

Beberapa permasalahan yang dikemukakan oleh pakar pendidikan di atas, hendaknya menjadi pemikiran bersama yang kemudian dicarikan solusinya, agar problem tersebut tidak berlarut larut yang nantinya dikhawatirkan  dapat menambah  parah daftar buruk di dunia pendidikan bangsa ini. Di sisi lain, selama ini terdapat beberapa bukti bahwa untuk melakukan  proses pembelajaran  secara efektif cukup sulit karena dalam belajar terdapat suatu proses yang sangat kompleks.   Seorang pendidik diharuskan menghadapi beragam siswa dengan beragam karakter pula. Sehingga dipastikan akan menemui berbagai hambatan .

Yusuf  Hadi  Miarso,  mengemukakan  berbagai  hambatan komunikasi yang sering timbul, diantaranya:

a.   Verbalisme  ketergantungan  pada  penggunaan  kata  kata  lisan untuk memberikan penjelasan.
1)   Seeing is beleiving (melihat menimbulkan kepercayaan)
2)   A   picture  worth  a thousand  words  (satu  gambar  senilai dengan    seribu kata)

b.   Kekacauan penafsiran
1)  Istilah yang  dapat ditafsirkan berbeda
2)  Penggunaan  istilah  tertentu  secara  salah  namun  berlaku secara umum
3)  Perbedaan pengalaman yang dipakai dasar penafsiran

c.   Perhatian yang bercabang
1)  Tidak dapat memusatkan perhatian
2)  Ingatan yang terpaku pada hal-hal yang menarik perhatian sebelumnya
3)  Melamun dan mengkhayal

d.   Tidak ada tanggapan
1) Tidak membulatkan pengalaman penginderaan (apa yang didengar,  dilihat,  diraba  dan  lain  lain  terhadap  sesuatu obyek dialami secara terpisah)
2) Proses pikiran (dimulai dari kesadaran hingga timbulnya konsep) tidak berlangsung
3)  Tidak terbentuknya sikap yang diperlukan

e.   Kurang perhatian
1)  Kurangnya variasi dan prosedur pengajaran
2)  Sumber informasi tunggal yang membosankan
3)  Kurangnya  supervisi  dan  bimbingan  karena  guru  sibuk dalam  prestasi.

f.   Keadaan lingkungan fisik yang mengganggu
1)  Pengaturan tempat duduk yang kaku
2)  Keterbatasan   fisik   dalam   kelas   dapat   diatasi   dengan bantuan media pendidikan yaitu dalam hal:

  • Obyek  yang  terlalu  besar  digantikan  dengan  realita, gambar, film bingkai (slide), film atau model
  • Obyek yang kecil dibantu dengan microprojector,  film bingkai (slide),  film atau gambar
  • Gerak  yang  terlalu  lambat  atau  cepat,  dapat  dibantu dengan time-lapse atau high-speed photography 
  • Obyek  yang  terlalu  kompleks(misalnya  mesin  mesin) dapat disajikan dengan model, diagram dan lain lain.
  • Konsep yang terlalu luas seperti gunung berapi, gempa bumi,  iklim  dan  lain  lain)  dapat  divisualkan  dalam bentuk film, film bingkai(slide) gambar dan lain lain.
Dengan sifat yang unik pada setiap anak didik ditambah  dengan lingkungan  dan  pengalaman  yang berbeda,  sedangkan  kurikulum  dan materi  pendidikan  ditentukan  sama  untuk  setiap  anak  maka,  guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semua itu harus dihadapi sendiri., apalagi bila latar belakang guru dan anak berbeda. Maka, begitu penting bagi seorang guru untuk mengetahui berbagai ragam karakter pada anak didik.

Sumber:
 Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi. (1991). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
 Syaiful Bahri Djamarah. (2000). Guru Dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta
 Mahfudh Shalahuddin, op. cit., hlm. 65.
 Nasution. (1989). Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara
 Yusuf Hadi Miarso dkk. (1986) Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali
 Oemar Hamalik. (1994). Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti