Teori-Teori Belajar Kognitif Menurut Ahli

wawasanpendidikan.com; Teori Belajar  banyak ada banyak jenisnya dan Teori-Teori Belajar tersebut dikembangkan oleh ahli. salah satu yang paling terkenal adalah teori belajar kognitif. nah kali ini sobat pendidikan akan menjelaskan secara tuntas tentang Teori-Teori Belajar Kognitif Menurut Ahli. semoga bermanfaat
Teori Belajar Kognitif menurut ahli
Teori Belajar Kognitif 
A.    Teori Koneksinisme atau Bond Psychology

Tokoh Edward I. Thorndike dalam eksperimen menggunakan hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena Belajar. Seekor kucing yang lapar dimasukkan dalam kandang tertutup, dan terbuka jika suatu pasak tersentuh. Di luar diletakkan sepiring makanan. Mula-mula kucing bergerak ke sana ke mari mencoba-coba untuk keluar melalui berbagai jeruji kandang. Sampai suatu ketika secara kebetulan tersentuhlah pasak lubang pintu oleh salah satu kakinya. Pintu kandang terbuka dan kucing keluar menuju makanan, setelah percobaan diulang berkali-kali ternyata waktu yang digunakan untuk menuju makanan semakin singkat.

Dari eksperimen tersebut dapat diketahui bahwa dalam menghadapi  situasi  yang  sulit  (stimulus)  maka berbagai  respons dicoba  untuk  memecahkanya,  sampai  akhirnya  ditemukan  respons yang tepat. Respons tersebut dipelajari secara berulang-ulang untuk menghadapi situasi yang sama, sehingga hubungan antara stimulus dan respons menjadi kuat. Jadi proses belajar menurut Thorndike adalah melalui proses :
  1. Trial and Error (mencoba-coba dan mangalami kegagalan) 
  2. Law  of  Effect  yang  berarti  bahwa  segala  tingkah  laku  yang berakibat suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya.
B.    Teori Clasikal Conditioning

Ivan Pavlof mengadakan percobaan dengan anjing, anjing diikat dengan  sedemikian  rupa,  dan  pada  salah satu  kelenjar  air  liurnya diberi alat penampung cairan yang dihubungkan dengan pipa kecil (tube).  Sebelum dilatih  (dikunci  ekspesimen)  secara  alami  anjing selalu mengeluarkan air liur,  setiap  kali mulutnya  berisi makanan. Ketika bel dibunyikan secara alami pula anjing menunjukan reaksi yang sama  yaitu tidak mengeluarkan air liur. Kemudian dilakukan latihan pembiasaan mendengar bel (CS) / (conditional stimulus) bersama-sama dengan pemberian makanan (UCS) unconditional stimulus. Setelah latihan yang berulang-ulang suara bel (CS) didengarkan lagi tanpa disertai makanan (UDS), apa yang terjadi ternyata anjing mengeluarkan air liurnya juga (CR/conditional respons), meskipun hanya mendengarkan suara bel (CS). Jadi CS akan menghasilkan CR apabila CS dan UCS telah berkali-kali dihadirkan.

Penganut   teori   ini   mengatakan   bahwa   segala   tingkah   laku manusia adalah hasil dari pada contioning yaitu hasil daripada latihan- latihan atau kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat/perangsang tertentu yang dialami di dalam kehidupan.

C.    Teori Operant Conditioning

Burrhus Frederic Skinner dalam salah satu eksperimen mengunakan  seekor  tikus  yang  diletakkan  di  sebuah  peti  (skinner box). Peti sangkar tersebut terdiri dari dua komponen pokok  yang manipulandum komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakanya berhubungan dengan reinforcement yang terdiri dari tombol batang jeruji   dan   pengukit   dan   alat   pemberi   reinforcement.   Dalam eksperimen  ini  mula-mula  tikus  itu  mengeksplorasi  peti  sangkar dengan cara lari ke sana ke mari, mencium benda yang ada di sekitar, mencakar  dinding  dan  lain-lain.  Aksi-aksi  ini  disebut  dengan  “ Emittes Behavior” (tingkah laku terpancar) yaitu perilaku yang terpancar dari organisme tanpa mempedulikan stimulus tertentu. Kemudian secara kebetulan salah satu emitted behavior tersebut (seperti cakaran kaki depan atau moncong) dapat menekan pengungkit yang mengakibatkan munculnya butiran makanan ke dalam wadah.

Butiran makanan tersebut merupakan reinforce bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah disebut tingkah laku operan yang akan terus meningkat apabila diiringi reinforcement. Dalam kaitanya dengan teori ini maka dapat dikatakan seorang siswa  yang telah  belajar,  lalu  diberi  hadiah,  maka  akan  lebih  giat belajar dan responsya menjadi lebih intensif atau kuat.

Dari ketiga teori belajar tersebut dapat diketahui bahwa dalam belajar yang terpenting adalah adanya latihan yang diulang-ulang sehingga hubungan antara stimulus dan responden semakin kuat. Pada proses belajar dalam teori operant conditioning tunduk pada dua hukum yaitu :
  1. Law of operant conditioning yaitu timbul tingkah laku operant diiringi  dengan  stimulus penguat,  maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menguat.
  2. Law of operant extention yaitu jika timbul tingkah laku operant yang telah diperkuat melalui proses  conditioning tidak diiringi dengan   stimulus  penguat   maka  tingkah   laku   tersebut  akan menurun atau bahkan musna.
Tujuan belajar akan tercapai secara cepat dan tepat apabila berpedoman pada prinsip belajar yang tepat di sini akan peneliti kemukakan prinsip-prinsip belajar menurut para ahli sebagai berikut.

a.    Prinsip Belajar menurut Teori Asosiasi

1)   Siswa  harus  mampu  membuat  berbagai  jawaban  terhadap stimulus.
2)   Belajar  dibimbing  atau  diarahkan  kesuatu  tingkatan  yang penting melalui sikap siswa itu sendiri.
3)   Jawaban yang telah dipelajari dengan baik dapat digunakan terhadap stimulus yang lain.
4)   Jawaban-jawaban terhadap situasi situasi baru dapat dibuat apabila siswa melihat adanya analogi dengan situasi situasi terdahulu.
5)   Siswa dapat bereaksi secara selektif terhadap faktor-faktor yang esensial di dalam situasi itu.

b.    Prinsip Belajar menurut Teori Gestalt

1)   Belajar dimulai dari suatu keseluruhan
Artinya  belajar  dimulai  dari  suatu  unit   yang  kompleks menuju hal-hal yang mudah dimengerti, diferensiasi pengetahuan dan kecakapan.

2)   Keseluruhan memberikan makna pada bagian-bagian
Karena suatu bagian tidak akan mempunyai arti tanpa adanya kesatuan (keseluruhan)

3)   Individuasi bagian bagian dari keseluruhan
Pada mulanya anak-anak nelihat suatu sebagai keseluruhan, kemudian lambat laun anak mengadakan diferensial bagian bagian itu dari keseluruhan menjadi bagian-bagian   atau kesatuan-kesatuan yang lebih kecil.

4)   Anak   belajar   dengan   menggunakan   pemahaman    atau insight.

Dari prinsip-prinsip di atas dapatlah kiranya ditarik kesimpulan bahwa  apa  yang  dipahami  oleh  anak  yang pandai  belum  tentu dipahami oleh anak yang kurang pandai atau sebaliknya. Begitu juga dengan pada umumnya hadiah, pujian, dan sukses dapat lebih meningkatkan belajar daripada celaan dan makian.

demikianlah penjelasan tentang Teori-Teori Belajar Kognitif  Menurut Ahli. semoga bermanfaat

Sumber:
  • M.Ngalim Purwanto. (1996). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
  • Muhibbin Syah. (2000).  Psikologi   Pendidikan dengan Pendekatan  Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  • Oemar  Hamalik.(1995). Kurikulum  dan  Pembelajaran.  Bandung:  Bumi  Aksara.