Teori Hipotesis Penelitian

wawasanpendidikan.com; kata Hipotesis bagi seorang mahasiswa sudah tidak asing lagi, apa lagi bagi mahasiswa yang sudah berada pada ambang batas perkuliahan. artinya sudah pada masa-masa penelitian. namun, tidak semua penelitian menggunakan hipotesis.  untuk lebih jelasnya, sobat pendidikan akan memaparkan artikel tentang Teori Hipotesis Penelitian. selain itu, untuk mempermantap pengetahuan tentang Hipotesis juga terdapat Makalah Hipotesis Penelitian sebagai Pembanding

Teori Hipotesis Penelitian
Hipotesis Penelitian
A.  Definisi Hipotesis
Hipotesis berasal dari dua kata latin ”hypo” yang artinya ”sebelum” dan ‘thesa” yang artinya ”dalil/kebenaran”.  Apabila kedua kata tersebut dirangkai menjadi kalimat berarti kebenaran yang belum menjadi kebenaran sebenarnya karena perlu pembuktian atas kebenarannya. Hipotesis juga dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.

B. Syarat menyusun sebuah hipotesis
  1.    Hipotesis dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan yang didasari oleh masalah penelitian. 
  2.   Kalimat hipotesis memperlihatkan keadaan atau hubungan dua atau lebih variabel yang akan diteliti. 
  3.    Hipotesis harus spesifik dan tidak menggunakan bahasa atau kalimat yang ambigu atau bermakna    ganda.
  4.    Hipotesis yang dibuat memiliki kemungkinan diuji dan dapat diukur. 
  5.    Hipotesis yang dibuat tidak melepaskan diri dari jangkauan konsep yang telah didefenisikan dan teori yang digunakan
C.  Jenis–jenis Hipotesis
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian, yaitu:
  1.   Hipoteisis Deskriptif, jawaban sementara yang disusun dalam bentuk kalimat biasa. Harus didukung oleh argumantasi yang kuat berdasarkan teori atau konsep yang relevan
  2.    Hipotesis Statistik, adalah hipotesis yang diformulasikan secara stastistik dan menggunakan simbol-simbol tertentu. Simbol yang digunakan biasanya  H0 dan H1.
- Hipotesis kerja, atau disebut dengan hipotesis alternatif, disingkat Ha. Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.
- Hipotesis nol (null hypotheses) disingkat Ho. Hipotesis nol sering juga disebut hipotesis statistik, karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik.

Hipotesis nol menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Pemberian nama “hipotesis nol” atau “hipotesis nihil” dapat dimengerti dengan mudah karena tidak ada perbedaan antara dua variabel. Dengan kata lain, selisih variabel pertama dengan variabel kedua adalah nol atau nihil.

D.   Kriteria Hipotesis yang Baik
Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni.
  1.    Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian. 
  2.    Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen. 
  3.   Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna. 
  4.    Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis. 
  5.     Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi. 
  6.     Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, sebagaimana kondisi di bawah hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan. 
  7.   Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit.
E.  Pengujian Hipotesis
Suatu hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris, yakni berdasarkan apa yang dapat diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti harus mencari situasi empiris yang memberi data yang diperlukan. Setelah kita mengumpulkan data, selanjutnya kita harus menyimpulkan hipotesis , apakah harus menerima atau menolak hipotesis. Ada bahayanya seorang peneliti cenderung untuk menerima atau membenarkan hipotesisnya, karena ia dipengaruhi bias atau perasangka. Dengan menggunakan data kuantitatif yang diolah menurut ketentuan statistik dapat ditiadakan bias itu sedapat mungkin, jadi seorang peneliti harus jujur, jangan memanipulasi data, dan harus menjunjung tinggi penelitian sebagai usaha untuk mencari kebenaran.
Berikut ini langkah-langkah pengujian hipotesis:
  1.    Mengumpulkan data, yaitu data yang diperoleh dari penelitian.
  2.    Menentukan hipotesis statistik, yaitu merumuskan H0 dan H1. 
  3.  Menentukan taraf signifikansi, yaitu menentukan taraf nyata atau kepercayaan data hasil penelitian. 
  4.    Menentukan statistik uji, yaitu menentukan statistik atau rumus yang akan digunakan untuk menguji hipotesis. 
  5.    Menentukan kriteria keputusan, yaitu criteria untuk menerima atau menolak hipotesis. 
  6.  Melakukan perhitungan, yaitu menghitung data yang diperoleh dari penelitian dengan menggunakan statistik uji yang telah ditentukan. 
  7.    Menarik kesimpulan, yaitu keputusan untuk menerima tau menolak hipotesis. 
  8.   Interpretasi, yaitu menyatakan hasil kesimpulan dalam bentuk kalimat atau bahasa yang mudah dipahami.

demikianlah pemaparan tentang Teori Hipotesis Penelitian semoga bermanfaat

sumber:
wikipedia.org