Makalah Teori Dalam Penelitian

wawasanpendidikan.com;  Teori adalah pendukung dalam sebuah Penelitian. namun, tidak sedikit penelitian yang akhirnya menemukan Teori Baru. Teori Dalam Penelitian memeliki peranan yang sangat penting. oleh karena itu, sobat pendidikan akan membahas secara tuntas dalam Makalah Teori Dalam Penelitian. Untuk lebih jelasnya silahkan membaca makalah dibawah ini. 

makalah Teori Dalam Penelitian
Teori Dalam Penelitian


PENDAHULUAN
Upaya-upaya manusia untuk mampu memahami, menjelaskan, memprediksi berbagai kejadian dalam kehidupan telah melahirkan berbagai macam teori, dan apabila telah diorganisasikan sedemikian rupa serta terbingkai dalam suatu obyek formal dan obyek material tertentu terwujudlah suatu Ilmu. Sementara itu, Ilmu lebih jauh dapat membantu untuk mengkaji guna memahami gejala-gejala baru yang dihadapi manusia sehingga lahirlah teori-teori. Oleh karena itu, apabila suatu ilmu telah menjadi disiplin tersendiri, akan muncul teori baru baik sebagai penambahan maupun sebagai koreksi atas teori lama.

DEFINISI TEORI
Kerlinger mendefinisikan teori sebagai seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proporsi yang memberikan pandangan sistematik mengenai gejala-gejala dengan jalan menspesifikasikan hubungan-hubungan yang ada antara variable-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan fenomena. 
Teory is a set of interrelated constructs (variables), definitions, and propositions that presents a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose  of explanaining natural and phenomena (Kerlinger).
Pengertian ini mengindikasikan bahwa penjelasan (explanation) dan peramalan (prediction) merupakan dua hal yang dapat diperankan oleh teori melalui konsep-konsep serta pandangan sistematis terhadap berbagai fenomena yang dilihat dari sudut relasinya dengan gejala-gejala lain. Penjelasan dan ramalan itu dapat dilakukan terhadap hubungan antar gejala atau kegiatan yang melampaui waktu tertentu (over time prediction); pada berbagai lokasi fisik yang berbeda, atau terhadap suatu kelompok kesatuan sosial (penduduk). Berdasarkan kegunaannya ini, teori dapat menjadi sumber hipotesis. Teori mengidentifikasikan daerah-daerah kritis yang perlu diteliti lebih jauh. Teori menjembatani jurang-jurang dalam pengetahuan kita yang memungkinkan peneliti untuk membuat dalil-dalil tentang adanya gejala yang belum diketahui sebelumnya.

Kedudukan sebuah teori tidak dapat dilepaskan dari fakta sebab isi teori adalah fakta-fakta yang saling berhubungan. Fakta dan teori bersifat saling mendorong. Teori memberi arah dalam proses ilmiah, sebaliknya fakta memegang peranan dalam mengembangkan teori. Pertumbuhan ilmu pengetahuan nampak dalam fakta-fakta baru dan teori baru. Fakta-fakta yang baru dan menyimpang akan menciptakan teori baru; dan teori yang ada mungkin menjadi tidak berguna lagi atau harus dirumuskan kembali. Melakukan suatu riset tanpa interpretasi teoritis atau membuat teori tanpa riset adalah melupakan pokok teori sebagai alat untuk mencapai suatu pemikiran yang ekonomis. Untuk menemukan sebuah teori yang terbukti kebenarannya, mula-mula dibuat teori sementara yang dipergunakannya sebagai pedoman atau petunjuk untuk memecahkan masalah.

ELEMEN-ELEMEN TEORI
Di dalam sebuah teori terdapat beberapa elemen yang mengikutinya. Elemen ini berfungsi untuk mempersatukan variabel-variabel yang terdapat di dalam teori tersebut. Elemen pertama yaitu konsep. Konsep pada dasarnya merupakan suatu gambaran mental atau persepsi yang menggambarkan atau menunjukan suatu fenomena. Konsep juga sering diartikan sebagai abstraksi dari suatu fakta yang menjadi perhatian Ilmu, baik berupa keadaan, kejadian, individu ataupun kelompok. Umumnya konsep tidak mungkin/sangat sulit untuk diobservasi secara langsung, oleh karena itu untuk keperluan penelitian perlu adanya penjabaran-penjabaran ke tingkatan yang lebih kongkrit agar observasi dan pengukuran dapat dilakukan. Konsep dengan tingkat abstraksi yang lebih rendah disebut variable.

Variabel, secara etimologis, berasal dari kata Vary yang berarti berubah-ubah atau bervariasi baik dalam substansinya maupun dalam jenis dan keluasannya. Variable dapat diklasifikasikan berdasarkan kegunaannya yang terdiri dari variable bebas (independent variable) dan variable terikat (dependent variable). Disebut variable bebas karena variable ini dipandang mempengaruhi variable terikat atau berhubungan dengan variable terikat. Variabel terikat adalah fenomena yang menjadi obyek studi dan investigasi. Variabel bebas mendahului variable terikat. Oleh karena itu, variable bebas disebut juga variable yang mendahului (antecedent variable), variable penyebab (causal variable) atau variable luar (exogenous variable). Variabel terikat disebut juga variable yang dipengaruhi (effectual variable), variable akibat (consequent variable) atau variable dalam (endogen variable). 

Dalam suatu teori, konsep-konsep yang tersusun dengan variable-variabel tertentu sering dinyatakan dalam suatu relasi atau hubungan yang tersusun secara logis. Pernyataan yang menggambarkan hubungan antar konsep ini disebut proposisi, dengan demikian konsep merupakan himpunan yang membentuk proposisi, sedangkan proposisi merupakan himpunan yang membentuk teori. 

Elemen kedua pembentuk teori adalah proposisi. Proposisi ialah suatu pernyataan mengenai hubungan antara dua atau lebih konsep. Konsep-konsep yang berhubungan itu membentuk relasi, baik relasi positif maupun relasi negatif. Proposisi dapat dilukiskan sebagai berikut: makin besar A, makin kecil B. Pertambahan pada A berhubungan dengan pengurangan pada B. perubahan positif pada A menghasilkan perubahan negatif pada B. Pada proposisi-proposisi ini, A dan B disebut konsep. 

Elemen ketiga adalah relationship. Teori merupakan sebuah relasi dari konsep-konsep atau secara lebih jelasnya teori merupakan bagaimana konsep-konsep berhubungan. Hubungan ini seperti pernyataan sebab-akibat (causal statement) atau proposisi. Saling hubungan itu menghasilkan deduksi. Deduksi ialah proses dalam mana proposisi-proposisi atau premis-premis yang telah diketahui menghasilkan proposisi-proposisi atau kesimpulan yang tidak diketahui sebelumnya. 

Dari uraian di atas tampak jelas bahwa konsep, variable, proposisi dan hubungan (relationship) antar proposisi merupakan elemen-elemen pembentuk teori. Ketiga elemen ini tidak dapat dilepaskan dari kehadiran fakta atau gejala sebagai fundasi awal terbentuknya sebuah teori. Elemen-elemen pembentuk teori ini, dapat dideskripsikan melalui bagan berikut:

Elemen-Elemen Pembentuk Teori 
Gambar di atas menunjukan hubungan antara teori, konsep, variabel, dan fakta-fakta atau gejala-gejala sekaligus juga menggambarkan bagaimana suatu penelitian berproses dalam suatu urutan Method of Thinking.  Bagan struktur teori di atas juga menunjukkan tingkatan abstraksi. Dalam tataran fakta,  belum ada abstraksi. Abstraksi baru muncul pada tataran konsep yang kemudian berlanjut pada proposisi dan teori. Abstraksi pada tingkat teori jauh lebih tinggi dan bersifat universal dibandingkan pada tingkat konsep dan proposisi. Teori dengan tingkat abstraksi dan sifat universal kemudian berfungsi sebagai instrumen yang dapat menjelaskan, memprediksi dan mengontrol fakta-fakta lain yang melampaui waktu dan tempat tertentu.

KRITERIA TEORI YANG BAIK
            Kualitas suatu teori sangat bergantung pada sejauh mana teori itu memenuhi kriteria-kriteria berikut:
  • Teori ilmiah harus didasarkan pada fakta-fakta dan hubungan-hubungan empiris. Namun, semata-mata akumulasi data empiris tidak akan membentuk teori maupun ilmu pengetahuan sampai data tersebut dapat diorganisasikan ke dalam prinsip-prinsip umum yang memungkinkan interpretasi fenomena tertentu atas dasar beroperasinya faktor-faktor yang lebih fundamental yang mendasarinya.
  • Suatu sistem teori harus memungkinkan pembuatan deduksi yang dapat diuji secara empirik; artinya teori tersebut harus memberikan alat bagi interpretasi dan verifikasinya sendiri. Prosedur ini dapat berlangsung secara tidak terbatas sampai beberapa hipotesisnya mungkin terbukti tidak bisa dipertahankan. Hal ini mungkin menjadi bukti tidak langsung bahwa kekurangsesuaian teori tersebut yang dapat mengarah kepada penolakannya atau penggantinya dengan teori yang lebih sesuai.
  • Suatu teori harus sesuai baik dengan hasil pengamatan maupun dengan teori yang sudah divalidasi sebelumnya. Suatu teori harus didasarkan pada data empiris yang sudah diverifikasikan dan harus didasarkan pada dalil-dalil dan hipotesis-hipotesis yang jelas. Makin baik suatu teori, makin tepat teori tersebut dapat menjelaskan gejala yang dipelajari, dan makin banyak fakta yang dapat dimasukkan ke dalam suatu struktur yang memiliki generalitas lebih tinggi.    
  • Suatu teori harus dinyatakan dalam istilah-istilah sederhana. Teori yang baik adalah teori yang dapat menjelaskan banyak hal secara sederhana. Prinsip ini disebut parsimony. Suatu teori harus menjelaskan data secara lebih sesuai namun demikian tidak boleh terlalu luas dan berlebihan. Sebaliknya, suatu teori tidak boleh mengabaikan suatu variable semata-mata karena variable tersebut sulit dijelaskan.

 POSISI TEORI DALAM PENELITIAN
Sebelum menentukan posisi teori dalam suatu penelitian, kita perlu mengetahui hakikat penelitian itu sendiri. Hakikat penelitian adalah mencari kebenaran atau pengetahuan. Namun, penelitian tidak dapat direduksi hanya sebatas pada usaha mencari pengetahuan atau kebenaran saja. Penelitian harus dilakukan secara sistematis dan terorganisasi. Donna M. Mertens mendeskripsikan penelitian sebagai berikut:
Research is one of many different ways of knowing or understanding. It is different from other ways of knowing, such as insight, divine inspiration, and acceptance of authoritative dictates, in that it is a process of systematic inquiry that is designed to collect, analyze, interpret, and use data. Research is conducted for a variety of reasons, including to understand, describe, predict or control an educational or psychological phenomenon or empower individuals in such contexts.    
     
Penelitian dilihat sebagai suatu jalan untuk mencapai pengetahuan. Meskipun demikian penelitian berbeda dengan insting, wahyu atau ajaran-ajaran dogmatis. Penelitian merupakan suatu proses sistematis yang didesaign untuk mengoleksi, menganalisis, dan menginterpretasi data-data empiris. Penelitian dilakukan untuk berbagai alasan seperti untuk memahami, menggambarkan, meramalkan atau mengontrol berbagai fakta atau fenomen.

Definisi penelitian ini berpengaruh terhadap kerangka kerja teoritis para peneliti dan membedakan penelitian dari berbagai usaha mencari pengetahuan lainnya.  Perbedaan antara penelitian dan cara lain yang bukan penelitian didasarkan pada tiga hal berikut: Pertama,  kegiatan tersebut dilakukan dalam satu kerangka filosofis tertentu; Kedua, kegiatan tersebut dilakukan dengan menggunakan beberapa prosedur, metode dan teknik yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya; Ketiga, kegiatan tersebut dirancang agar tidak bias dan bersifat objektif . 

Posisi teori dalam penelitian sangat bergantung pada jenis penelitian yang dilakukan. Dalam melakukan penelitian, khususnya penelitian yang sifatnya uji hipotesis, mau tidak mau kita harus menelaah teori-teori yang akan digunakan. Hal ini dilakukan, karena suatu hipotesis, dugaan, asumsi, dibangun berdasarkan teori yang dihasilkan dari suatu bacaan. Teori adalah alat terpenting suatu ilmu pengetahuan. Artinya, tanpa teori berarti hanya ada serangkaian fakta atau data saja, dan tidak ada ilmu pengetahuan. Teori itu: [1] menyimpulkan generalisasi fakta-fakta, [2] memberi kerangka orientasi untuk analisis dan klasifikasi fakta-fakta, [3] meramalkan gejala-gejala baru, mengisi kekosongan pengetahuan tentang gejala-gejala yang telah ada atau sedang terjadi. 

Penelitian adalah salah satu pendekatan ilmiah untuk memperoleh kebenaran. Dengan model pendekatan ilmiah tersebut orang berusaha untuk memperoleh kebenaran ilmiah. Pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah diperoleh melalui penelitian ilmiah dan dibangun di atas teori tertentu. Teori itu berkembang melalui penelitian ilmiah yakni penelitian yang sistematik dan terkontrol berdasarkan data empiris. Teori itu dapat diuji dalam hal keajegan dan kemantapan internal. Artinya, jika penelitian ulang dilakukan orang lain menurut langkah-langkah yang serupa pada kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang ajeg (consistent), yaitu hasil yang sama atau hampir sama dengan hasil terdahulu. Langkah-langkah penelitian yang teratur dan terkontrol itu telah terpolakan dan, sampai batas tertentu, diakui umum. Pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi hampir setiap orang, karena pendekatan tersebut tidak diwarnai oleh keyakinan pribadi, bias, dan perasaan. Cara penyimpulannya bukan subyektif, melainkan obyektif. 

Jadi, dalam suatu penelitian, teori menempati posisi paling dasar dan bisa juga menempati posisi paling akhir. Pada posisi paling dasar, teori berperan sebagai landasan yang menentukan kerangka berpikir, menspesifikasikan persoalan, menghubungkan kepingan fakta menjadi sesuatu yang saling berhubungan dan bermakna, dan dasar membangun hipotesis. Teori menuntun peneliti dalam melakukan penelitian. Sementara itu, pada posisi paling akhir, teori bisa menjadi hasil dari suatu penelitian. Hasil dari suatu penelitian  dapat menjadi teori apabila bersifat universal dan dapat dipakai untuk menjelaskan dan meramalkan gejala-gejala yang melampaui waktu dan tempat tertentu.
  
POSISI TEORI DALAM PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
Posisi teori dalam penelitian kuantitatif merupakan faktor yang perlu mendapat
perhatian lebih dalam proses penelitian itu sendiri. Hal ini disebabkan karena teori digunakan untuk menuntun peneliti menemukan masalah, menemukan hipotesis, menemukan konsep-konsep, menemukan metodologi dan menemukan instrumen analisis data. Selain itu, teori juga digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel.

Posisi teori dalam penelitian kuantitatif dapat dilihat dengan jelas dalam struktur atau logika penelitian kuantitatif.  Logika penelitian itu memiliki struktur kurang lebih sebagai berikut :
Struktur Logika Penelitian
Struktur logika penelitian kuantitatif berpola siklus mulai dari teori, hipotesa, observasi,  analisis data, temuan-temuan, kemudian berakhir kembali pada teori. Posisi masalah/problem yang dirumuskan oleh peneliti dalam hal ini dapat dikatakan “mendahului “ posisi teori. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah, bahwa masalah penelitian tidak akan pernah nampak/kelihatan tanpa dilihat melalui teori. Artinya, masalah penelitian hanya ada kalau orang memiliki bekal teori untuk melihatnya. Menghubungkan gejala atau fakta dengan pikiran-pikiran tertentu ( teori-teori ) di pihak lain dapat menghasilkan apa yang kita sebut sebagai masalah penelitian.

Masalah penelitian ini nanti harus dapat dijawab/dipecahkan dengan atau lewat penelitian bersangkutan. Peneliti sangat mungkin tertarik untuk menjawab secara tentatif ( menduga-duga ) atas masalah tadi. Kalau demikian halnya orang harus mendeduksikan teori-teori tertentu, memberlakukan pernyataan asumtif yang tadinya dianggap umum atau luas sifat kebenarannya ke dalam gejala atau beberapa gejala yang saling dikaitkan secara khusus/sempit. Jawaban yang bersifat dugaan ( yang masih harus dibuktikan kebenarannya dengan data empiris/lapangan ) itulah hipotesa. Hipotesa umumnya terdiri dari dua atau lebih variabel yang dikaitkan satu dengan yang lain. 

Posisi teori dalam penelitian kuantitatif ini menentukan jenis penalaran yang dipakai. Dengan melihat posisi teori sebagai landasan kita dapat mengatakan bahwa penelitian kuantitatif menggunakan jenis penalaran deduktif. Penalaran deduktif merupakan jenis penalaran yang bergerak dari pemikiran umum kepada hal-hal yang lebih khusus. 

Berbeda dengan teori pada penelitian kuantitatif yang menjadi dasar penelitian untuk diuji, pada penelitian kualitatif, teori berfungsi sebagai inspirasi dan perbandingan. Penelitian kualitatif berangkat dari lapangan dan akhirnya (bisa) menghasilkan teori. Di sinilah uniknya penelitian kualitatif. Peneliti tidak dibebani oleh teori. Bahkan, pada metode grounded theory approach, peneliti langsung terjun ke lapangan sambil merancang penelitiannya. Dari sana baru didesain penelitian,  sambil mengumpulkan informasi dan hasil pengamatan untuk menghasilkan suatu teori baru atas fenomena di lapangan. Meskipun demikian, peneliti juga harus punya wawasan untuk dapat menginterpretasi dan menganalisis fenomena di lapangan. Salah satunya adalah mengetahui teori yang relevan. Desain penelitian kualitatif juga bisa bersumber dari pendapat-pendapat, komentar-komentar, kutipan-kutipan pembicaraan, ulasan artikel, jurnal, hasil penelitian yang relevan, bahkan ‘curhat’ yang ada di blog sekalipun jika memang relevan. 

Dalam penelitian kualitatif, teori bukan satu-satunya kacamata yang bisa digunakan untuk ‘melihat’. Ada banyak kacamata lain. Karena itu, mengumpulkan segala macam informasi yang relevan serta dari segala macam sumber adalah penting. Karena seperti diulaskan tadi, selain menjadi inspirasi, segala informasi dan rujukan tersebut juga dapat menjadi bahan perbandingan bagi pembahasan hasil penelitian. 

Teori diterapkan dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif untuk tujuan yang berbeda-beda. Para peneliti kuantitatif menggunakan teori untuk memberikan penjelasan atau prediksi tentang relasi antarvariabel dalam penelitian. Peneliti kuantitatif tentu membutuhkan landasan teoritis tentang variable-variabel ini untuk membantunya merancang rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Teori inilah yang menjelaskan bagaimana dan mengapa variable-variabel itu berhubungan satu sama lain, berfungsi sebagai jembatan antar variable. 

Ruang lingkup teori bisa saja luas ataupun sempit, dan peneliti menyatakan teori mereka dalam beberapa bentuk hipotesis, pertanyaan logika “jika-maka” atau dalam bentuk visual. Jika teori-teori tersebut digunakan secara deduktif (kuantitatif), peneliti menempatkannya diawal penelitian dalam tinjauan pustaka. Mereka juga dapat memasukkan teori-teori itu dalam rumusan masalah atau hipotesis penelitian, atau menempatkannya dalam bagain terpisah. Tentu saja apabila diletakkan ditempat yang terpisah, peneliti perlu membuat tulisan agak panjang mengenai teori tersebut. 

Sebagaimana dalam penelitian kuantitatif, para peneliti kualitatif juga dapat menerapkan teori sebagai penjelasan umum, misalnya dalam etnografi. Teori juga bisa diterapkan sebagai perspektif teoritis untuk membantu peneliti memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang gender, kelas, ras, dan sebagainya. Teori juga dapat diterapkan sebagai point ahir penelitian, pola, atau generalisasi yang secara induktif berawal dari pengumpulan dan analisis data. Para peneliti kualitatif yang menerapkan grounded theory, misalnya berusaha menghasilkan teori yang didasarkan pada pandangan-pandangan para partisipan, lalu memosisikannya sebagai kesimpulan diahir penelitian. Meski demikian ada juga penelitian kualitatif yang tidak menyertakan teori yang eksplisit, hanya menyajikan penelitian yang deskriptif tentang fenomena utama, seperti penelitian fenomenologi.

PERANAN TEORI DALAM PROSES PENELITIAN
Peranan teori dalam suatu penelitian sangat bergantung pada jenis penelitian yang dilakukan. Pembahasan tentang peranan teori dalam makalah ini lebih berkaitan dengan dua jenis pendekatan penelitian dalam proses pengumpulan data yaitu, penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif bergerak dari teori menuju ke pengumpulan data. Dalam hal ini, teori berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, membantu menyusun kerangka pemikiran, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrument penelitian. Oleh karena itu, landasan teori dalam proposal penelitian kuantitatif perlu mendapat perhatian yang serius.

Berbeda dengan penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif bergerak dari pengumpulan data kepada perumusan teori. Teori dalam jenis penelitian ini tidak memegang peranan yang substansial. Teori digunakan untuk menambah wawasan peneliti berkaitan dengan data-data yang dikumpulkan, menjelaskan data dan sebagai bahan perbandingan. Peneliti kualitatif akan lebih profesional dalam menguasai teori sehingga wawasannya akan menjadi lebih luas, dan dapat menjadi instrument yang lebih baik. Teori bagi peneliti kualitatif akan berfungsi sebagai bekal untuk bisa memahami konteks secara lebih luas dan mendalam.

DESKRIPSI TEORI
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variabel independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenaan dengan variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang dikemukak 

Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. (Sugiyono,2009:89)

Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:
  1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya
  2. Cari sumber-sumber bacaan yang banyak dan relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian lihat penelitian permasalahan yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data, analisis dan saran yang diberikan.
  3. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, kemudian bandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya dan dipilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
  4. Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan variabel yang akan diteliti lakukan analisis renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.

KESIMPULAN
Penelitian sebagai usaha mencari kebenaran atau pengetahuan yang sifatnya ilmiah perlu menempatkan teori pada posisi yang tepat. Penempatan teori ini sangat bergantung pada jenis penelitian yang akan dilakukan. Secara garis besar, dalam penelitian kuantitatif teori dipakai sebagai landasan awal untuk merumuskan masalah, menentukan kerangka berpikir dan merumuskan hipotesis. Sementara itu, dalam penelitian kualitatif teori menduduki posisi akhir sebagai hasil dari proses penelitian sebagaimana terjadi dalam grounded research. Atas dasar ini kita dapat mengatakann bahwa peranan teori dalam penelitian sangat bergantung pada jenis penelitian itu sendiri dan jenis penelitian sangat bergantung pada obyek yang ingin dikaji peneliti.  

demikianlah pemaparan Makalah Teori Dalam Penelitian. semoga bermanfaat.
Referensi:
  • Donna M. Mertens, 2010. Research and Evaluation in Education and Psychology. Washington: Sage. 
  • Izaak Latunussa, 1988. Penelitian Pendidikan Suatu Pengantar. Jakarta: Departemen Pendidikan  dan Kebudayaan. 
  • John W. Creswell, 2003. Research Design: Qualitative, Quantitative and Mixed approaches -2nd ed. Washington: Sage. 
  • Kenneth S. Bordens and Bruce B. Abbott, 2008. Research Design and Methods—7th ed. Singapore: Mc Graw Hill. 
  • Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
  • Wayan Ardhana, 1987. Bacaan  Pilihan dalam Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.