Indikator Tes Hasil Belajar

Indikator dan Cara Pengukuran Hasil Belajar

Wawasan Pendidikan. Carl Withenington mengatakan bahwa indicator yang dapat dijadikan criteria atau tolak ukur untuk mengatakan bahwa seorang peserta didik termasuk kategori pandai adalah bila peserta didik itu memiliki berbagai kemampuan, seperti: (1) kemmampuan untuk bekerja dengan anfka-angka, (2) kemampuam untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar, (3) kemampuan untuk menangkap sesuatu yang baru, yaitu dengan secara cepat dapat mengikuti pembicaraan orang lain, (4) kemampuan untuk mengingat sesuatu, (5) kemampuan untuk memahami hubungan antar gejala yang satu dengan yang lain, (6) kemampuan untuk berfantasi atau berfikir secara abstrak Tes sebenarnya adalah salah satu wahana program penilaian pendidikan. Sebagai salah satu alat penilaian, tes biasanya didefinisikan sebagai kumpulan butir soal yang jawabannya dapat dinyatakan dengan benar atau salah.



Saifudin Azwar berpendapat bahwa tes sebagai pengukur prestasi. Sebagaimana ditunjukkan oleh namanya, tes prestasi belajar bertujuan untuk mengukur prestasi atau hasil yang telah dicapai oleh siswa dalam belajar.

Penilaian atau tes itu berfungsi untuk melihat sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh peserta didik dalam suatu program pengajaran. Maka penilaian itu disebut penilaian formatif. tes ini biasanya diselenggarakan di tengah jangka waktu suatu program yang sedang berjalan. Dan hasil tes formatif dapat menyebabkan perubahan kebijaksanaan mengajar atau belajar.

Tetapi jika penilaian itu berfungsi untuk memperoleh informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dalam suatu program pelajaran. Maka penilaian itu disebut penilaian sumatif. Tes ini merupakan pengukuran akhir dalam suatu program dan hasilnya dipakai untuk menentukan apakah peserta didik dapat dinyatakan lulus dalam program pendidikan, atau peserta didik dapat melanjutkan ke jenjang program yang lebih tinggi.

Jika dilihat dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat ibedakan menjadi dua macam yaitu tes dan non tes. Tes ini ada yang diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan), ada tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan). Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk obyektif, ada juga yang dalam bentuk esai atau uraian. Sedangkanyang termasuk non tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala, sosiometri, dan studi kasus.

Dan untuk mengukur Hasil Belajar siswa, menurut Norman E Gronland dalam bukunya mengenai penyususnan tes prestasi atau hasil belajar siswa merumuskan prinsip dasar dalam pengukuran hasil belajar sebagai berikut :
  1. Tes hasil belajar harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan instruksional.
  2. Tes hasil belajar harus mengukur satuan sample yang representative dari hasil belajar dari materi yang dicukupi oleh program instruksi atau pengajaran.
  3. Tes hasil belajar harus berisi item-item dengan tipe yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yang diinginkan.
  4. Tes hasil belajar harus dirancang agar cocok dengan tujuan penggunaan hasilnya.
  5. Tes hasil belajar harus dibuat seriable mungkin dan kemudian harus ditafsirkan dengan hati-hati.
  6. Tes hasil belajar harus digunakan untuk meningkatkan belajar para siswa.