Makalah Teori Hipotesis

wawasanpendidikan.com kali ini sobat pendidikan akan membahas tentang Teori Hipotesis. semoga dapat bermanfaat.
Teori Hipotesis penelitian
Teori Hipotesis
A. Pengertian Hipotesis

Hipotesis berasal dari kata “hypo” yang berarti “sebelum” dan “thesis” yang berarti “pernyataan/pendapat”. Hipotesis dapat didefinisikan sebagai jawaban sementara yang kebenarannya masih harus di uji, atau rangkuman teoritis yang diperoleh dari tinjauan pustaka.

Istilah hipotesis telah didefinisikan dalam beberapa definisi diantaranya adalah:

1. James E. Greighton, hipotesis merupakan sebuah dugaan tentative atau sementara yang memprediksi situasi yang akan diamati.

2. Lungberg, hipotesis merupakan sebuah generalisasi yang bersifat tentative, sebuah generalisasi tentative yang valid yang masih harus diuji.

3. John W. Best, hipotesis merupakan prediksi yang baik atau kesimpulan yang dirumuskan dan bersifat sementara, hipotesis diadopsi untuk menjelaskan fakta-fakta atau kondisi yang diamati dan untuk membimbing dalam penyelidikan lebih lanjut.

4. Goode dan Han, hipotesis merupakan sebuah proporsi yang harus diuji.

B. Menyusun Hipotesis

1. Deduktif
Penyusunan hipotesis secara deduktif adalah penyusunan hipotesis yang ditarik dari teori. Suatu teori terdiri dari proposisi-proposisi (hubungan antara dua konsep). Misalnya, teori A terdiri atas proposisi-proposisi X-Y, Y-Z dan X-Z dari ketiga proposisi itu dipilih proposisi yang diminati dan relevan dengan peristiwa pengamatan, misalnya proposisi X-Y. bertitik tolak dari proposisi itu diturunkan hipotesis secara deduksi. Konsep-konsep yang terdapat dalam proposisi  diturunkan dalam pengamatan menjadi variable-variabel, yang nantina menjadi hipotesis.

Contoh:
Proposisi : makin cepat perkembangan komunikasi, makin tinggi kecerdasan penduduk.
Konsep : X = komunikasi Y = Kecerdasan

Kemudian setelah proposisi dan konsep dilakukan pengamat dipemukiman penduduk (x) terdapat alat komunikasi apa saja dan bagaimana tingkat pemakaiannya, ditemukan (x1) surat kabar, (x2) pesawat radio, (x3) pesawat TV. Karena pemanfaat yang berbeda maka disebut variable (bervariasi dan beragam) yaitu variable x. kemudian kita mengamati tingkat pengetahuan umum mereka, misalnya dalam bidang politik, hukum dan ekonomi, dan ini dinamakan dengan variable y.

Karena x dan y beragam maka hipotesis dapat disusun, ada hubungan positif antara x dan y. karena disusun secara deduktif, maka hipotesis seperti ini disebut hipotesis deduktif.

2. Induktif
Penyusunan hipotesis secara induktif adalah penyusunan hipotesis yang berangkat dari pengalaman kita dimasa lampau. Contoh : kita mengetahui bahwa kecelakaan –kecelakaan kendaraan bermotor dijalan raya kebanyakan disebabkan oleh supir yang mengemudikan kendaraan dalam kecepatan tinggi, bertolak dari pengalaman ini kita menyusun hipotesis : ada hubungan positif antara kecepatan laju kendaraan dengan kecelakaan lalu lintas.

C. Syarat Penyusunan Hipotesis

     Faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada penyusunan hipotesis:
  • Hipotesis disusun dalam kalimat deklaratif. Kalimat itu bersifat positif dan tidak normative. Istilah-istilah seperti seharusnya atau sebaiknya tidak terdapat dalam kalimat hipotesis. Contoh: anak-anak harus hormat kepada orang tua, kalimat ini bukan hipotesis. Lain halnya jika dikatakan kepatuhan anak-anak kepada orang tua mereka makin menurun. 
  • Operasional. Variable-variabel yang dinyatakan dalam hipotesis adalah variable yang operasional, dalam arti dapat diamati dan diukur. 
  • Menyatakan hubungan, hipotesis harus menunjukkan hubungan tertentu diantara variable-variabel.
D. Karakteristik Hipotesis

   kriteria-keriteria tersebut untuk menilai kelayakan hipotesis yang diajukan:

1. Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
Suatu hipotesis harus merupakan penjelasan yang mungkin mengenai apa yang seharusnya diterangkan. Ini adalah ktriteria yang sudah jelas dan penting. Sebagi contoh, misalkan anda mencoba menstater mesin mobil anda, ternyata mesin tidak mau hidup. Hipotesis yang menyatakan bahwa mesin tidak mau hidup karena anda membiarkan air dikamar madi mengalir keselokan, bukan merupakan penjelasan tepat. Hipotesis yang mengatakan bahwa akinya mati adalah penjelasan yang tepat dan perlu diuji.

2. Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variabel-variabel
Suatu hipotesis harus mampu menerka atau menduga hubungan antara dua atau lebih variabel. Dalam contoh kita diatas, tidak ada gunanya kita menyatakan bahwa anak-anak berbeda satu sama lain dalm konsep diri, mereka akan berbeda satu sama lain pula dalam hasil belajar ilmu pengetahuan sosial. Pernyataan ini tampaknya seperti suatu hipotesis, sampai anda sadar bahwa tidak ada pernyataan apapun tentang hubungan yang diharapkan. Hubungan yang diharapkan dapat dituliskan dalam bentuk pernyataan konsep diri yang tinggi merupakan penyebab hasil belajar yang lebih tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan sosial. Hipotesis itu kemudian dirumuskan akan terdapat hubungan positif atara konsep diri dan hasil belajar ilmu pengetahuan sosial.

3. Hipotesis harus dapat diuji
Dikatakan bahwa sifat terpenting dari hipotesis yang baik adalah kemampuannya untuk diuji. Suatu hipotesis yang dapat diuji berarti dapat ditahkikan (verifiable)  artinya, deduksi, kesimpulan, dan prakiraan dapat ditarik dari hipotesis tersebut, sehingga dapat dilakukan pengamatan empiris yang akan mendukung atau tidak mendukung hipotesis tersebut. Hipotesis yang dapat diuji memungkinkan peneliti menetapkan, berdasarkan pengamatan, apakah akibat yang tersirat. Agar dapat diuji hipotesis harus menghubungkan variabel-variabel yang dapat diukur.

4. Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada
Hipotesis yang dikemukakan hendaknya tidak bertentangan dengan hipotesis, teori, dan hukum-hukum yang sebelumnya sudah mapan. Didalam sejarah ilmu pengetahuan diketahui bahwa orang-orang seperti Einstein, Newton, Darwin, Copernicus, dan lain-lainnya telah mengembangkan hipotesis yang benar-benar revolusioner dan bertentangan dengan pengetahuan yang telah diterima orang pada masa itu. Tetapi, harus diingat bahwa karya para pelopor itu bukan merupakan penolakan sama sekali terhadap pengetahuan sebelumnya, karena penemuan mereka merupakan penataan kembali pengetahuan terdahulu menjadi teori yang lebih memuaskan.

5. Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin
Menyatakan hipotesis secara sederhana bukan saja memudahkan pengujian hipotesis tersebut, melainkan juga dapat menjadi dasar bagi penyusunan laporan yang jelas dan mudah dimengerti pada akhir penyelidikan.

E. Jenis Hipotesis

       Jenis hipotesis berdasarkan ada atau tidaknya hubungan adalah sebagai berikut:

1. Hipotesis Nol
Hipotesis Nol menyatakan lawan dari apa yang diharapkan atau diprediksi oleh peneliti. Disebut dengan hipotesis nol karena menyatakan bahwa  "tidak ada perbedaan", "tidak berpengaruh", atau "tidak ada hubungan" antara hal yang diteliti. Hipotesis nol diasumsikan bahwa perbedaan yang diamati terjadi hanya karena faktor kebetulan saja dan tidak mewakili adanya perbedaan yang nyata.

2. Hipotesis Alternatif
Jika uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan yang diamati terjadi bukan karena faktor kebetulan melainkan perbedaan yang nyata serta bukti-bukti yang ada telah mencukupi, maka hipotesis nol tidak dapat diterima. Hipotesis alterbative yang banyak dibangun dari literatur dan studi yang telah ada menjadi asumsi yang dapat diterima.
Ada dua macam hipotesis alternatif, yaitu:

a. Hipotesis Directional / Hipotesis Terarah
Directional hipotesis adalah hipotesis alternatif yang tidak hanya menunjukkan prediksi tentang adanya perbedaan tetapi juga dengan jelas menyatakan arah hasil yang diharapkan atau kelompok akan memiliki skor yang lebih besar.

b. Hipotesis non-directional /  Hipotesis tidak Terarah
Non-directional hipotesis tidak menyebutkan kelompok mana skor rata-rata akan lebih besar, meskipun menunjukkan bahwa ada perbedaan yang diharapkan oleh peneliti, tetapi tidak menentukan arah perbedaan.

CONTOH:
Peneliti tertarik untuk meneliti perbedaan antara tingkat kecemasan anak-anak yang memiliki IQ tinggi dan rendah, maka hipotesis yang dapat dinyatakan adalah:

-  Hipotesis Nol : Tingkat kecemasan anak-anak ber-IQ tinggi tidak berbeda dengan tingkat kecemasan anak-anak yang memiliki IQ rendah.

-  Hipotesis Alternatif: anak-anak dengan tingkat IQ tinggi akan menunjukkan lebih banyak kecemasan daripada anak-anak dengan IQ rendah (hipotesis alternatif directional / terarah) ATAU Tingkat kecemasan anak-anak ber-IQ tinggi berbeda dengan tingkat kecemasan anak rendah IQ (hipotesis alternatif non-directional / tidak terarah).

Jenis Hipotesis berdasarkan macam hubungan antar variable adalah sebagai berikut:

1. Hipotesis Deskriptif

Hipotesis deskriptif merupakan hipotesis yang menggambarkan karakter sebuah kelompok atau variable tanpa menghubungkannya dengan variable lain. Hipotesis jenis ini bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi tentang sampel penelitian.

Contoh: 70% penduduk didaerah pedesaan bekerja sebagai petani.

2. Hipotesis Asosiatif

Hipotesis asosiatif merupakan jenis hipotesis yang menjelaskan hubungan antarvariabel. Hipotesis ini dalam sebuah penelitian selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menjelaskan hubungan antara dua variable atau lebih, baik secara eksplisit maupun implicit.

Contoh: jenis kelamin mempengaruhi prestasi belajar. (eksplisit)

Perempuan memiliki prestasi yang lebih baik dari pada laki-laki (implicit)

Berikut ini merupakan karakteristik hipotesis asosiatif:

a. Mempunyai minimal dua variable yang dihubungkan.

b. Menunjukan hubungan sebab-akibat atau pengaruh mempengaruhi antara dua variable atau lebih.

c. Menunjukkan prediksi mengenai hasil yang diharapkan.

d. Menghubungkan secara logis antara masalah penelitian dengan teori.

3. Hipotesis Komparatif

Hipotesis komparatif merupakan hipotesis yang menyatakan perbandingan antara sampel atau variable dengan sampel atau variable lain.

Contoh : terdapat perbedaan jenis pekerjaan yang disukai laki-laki dan perempuan.

semoga bermanfaat,