Perkembangan Fenomenologi

wawasanpendidikan.com; pada postingan sebelumnya, sobat pendidikan telah berbagi tentang Pengertian Fenomenologi serta Ciri-Ciri Metode Fenomenologi. kali ini sobat akan berbagi tentang Perkembangan Fenomenologi. semoga artikel ini bermanfaat. 

Perkembangan Fenomenologi

Perkembangan fenomenologi dapat dicirikan oleh cakupan bidang yang luas, dengan muatan isu yang bersifat multi-disiplin. Pada awal perkembangannya, fenomenologi memiliki ciri-ciri yaitu  descriptive phenomenology, yakni pembuktian secara deskriptif atau dua bentuk temuan : (i) permasalahan dan (ii) objek sebagai permasalahan. Pembagian ini tampaknya cukup berpengaruh kemudian, yakni pada terbentuknya empat percabangan besar yang dikenal dalam fenomenologi.
a. Realistic Phenomenology
Percabangan ini menekankan pada pencarian persoalan universal manusia ditinjau dari berbagai objek yang meliputi, tindakan, motif tindakan, serta nilai kepribadian. 
b. Constitutive Phenomenology
Gambaran tentang cabang ini adalah seperti pendapat Husserl yang kemudian dikembangkan oleh Oskar Becker, Aron Gurwitsch dan Elizabeth Stoker yaitu refleksi tentang metode transcendental phenomenological epoche, dan penyederhanaannya. Prosedur ini meliputi keraguan terhadap penerimaan status kehidupan kesadaran sebagai hal yang ada di dunia dan juga adanya keraguan sebagaimana ditunjukkan dalam pemahaman intersubjektif untuk dunia dan untuk menempatkan constitutive phenomenology dalam tradisi modern yang kembali pada pemikiran Immanuel Kant dan juga mencirikan hasil pemikiran Husserl.
Selain hal itu, fenomenologi yang dikembangkan di Amerika oleh Alferd Schultz (tokoh kunci perkembangan fenomenologi dan penerapannya di bidanga sosiologi di Amerika), masyarakat membentuk dunianya sendiri melalui kesadaran constitutive maupun kesadaran reconstitutive yang melakukan tindakan apa adanya (taken for granted). Dalam kaitan itu Schutz menyarankan hendaknya penelitian sosial lebih memfokuskan pada dunia kehidupan sehari-hari.
Realitas berada dalam kegiatan intersubjektive sehingga ciptaan dari pikiran selalu berada dalam proses interaksi para aktor yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari (George Ritzer, 1981 : 166). Di sisi lain, Ritzer menyadari bahwa walaupun masyarakat mempunyai seperangkat pengetahuan tentang dunianya namun stock of knowledge tersebut ternyata juga tidak sempurna dalam menginterpretasikan objek tersebut. Stock of knowledge itu sendiri terdiri atas akal sehat dan kategori dimana asal dunia sosial itu.
c. Existential Phenomenology
Perkembangan percabangan ini bermula dari pemikiran Martin Heidegger yang menggunakan kehidupan manusia sebagai cara dalam ontologi fundamental yang bergerak melampaui ontologi regional yang disampaikan oleh Husserl. Setelah Martin Heidegger, Hannah Arendt menjadi orang pertaman yang menggunakan fenomenologi eksistensial dengan kecenderungan pemikirannya pada topik-topik seperti tindak kekerasan, kekuasaan, dan kematian. Di samping Arendt, masih banyak tokoh yang mengembangkan fenomenologi eksistensial seperti dalam isu gender, hari tua, kebebasan, dan kesusasteraan.
d. Hermeunitical Phenomenology
Yang membedakan fenomenologi hermeunitik adalah pada metode interpretasi. Fenomenologi hermeunitik berkembang lebih mendunia dengan isu pemikiran ke arah antropologi, filsafat, ekologi, gender, etnisitas, agama, dan teknologi. Perkembangan tersebu tjuga mencakup perhatian pada estetika, etika, filsafat manusia, politik. (Agus Salim, 2006 : 170-174)

SUMBER :
Agus Salim. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta : Tiara Wacana.