Pengertian Fenomenologi serta Ciri-Ciri Metode Fenomenologi

 wawasanpendidikan.com kali ini sobat pendidikan akan berbagi artikel tentang Pengertian Fenomenologi serta Ciri-Ciri Metode Fenomenologi. semoga bermanfaat                                              
                             
Pengertian Fenomenologi serta Ciri-Ciri Metode Fenomenologi
                                 
       Kaum fenomenologi memandang perilaku manusia yaitu apa yang dikatakan dan dilakukan orang sebagai produk dari cara orang tersebut menafsirkan dunianya. Tugas ahli fonomenologi dan bagi ahli metodologi kualitatif adalah menangkap proses interpretasi ini. untuk melakukan hal itu diperlukan apa yang disebut Weber sebagai Vertehen, yaitu pengertian empatik atau kemampuan untuk mengeluarkan kembali dalam pikirannya sendiri, perasaan, motif, dan pikiran-pikiran yang ada di balik tindakan orang lain. Untuk dapat memahami arti tingkah laku seseorang, ahli fenomenologi berusaha memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain. (Bogdan&Taylor, 1992 : 35-36)
“The phenomenologist wants to understand how the world appears to others. It describes the structures of experience as they present themselves to consciousness, without recourse to theory, deduction, or assumption from other disciplines.” (Wahyuni, 2012 : 9).

Ciri-Ciri Metode Fenomenologi
       Fenomenologi merupakan bagian dari metodologi kualitatif yang mengandung nilai sejarah dalam perkembangannya. Seorang fenomenolog sering menempuh cara-cara di bawah ini (Embree, 1997)
1. Fenomenolog berkecenderungan untuk menentang atau meragyukan hal-hal yang diterima tanpa melalui penelaahan atau pengamatan terlebih dahulu, serta menentang sistem besar yang dibangun dari pemikiran yang spekulatif.
2. Fenomenolog berkecenderungan untuk menentang naturalisme (juga disebut sebagai objektivisme atau positivisme), yang tumbuh meluas dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern dan telah menyebar di daratan Eropa bagian utara semenjak zaman Renaissance.
3. Secara positif, fenomenolog berkecenderungan untuk membenarkan pandangan atau persepsi (dalam beberapa hal, juga evaluasi dan tindakan) yang mengacu pada apa yang dikatakan Husserl sebagai evidenz, yakni terdapatnya kesadaran tentang kebenaran itu sendiri sebagaimana yang telah terbuka secara sangat jelas, tergas perbedaannya dan menandai sesuatu yang disebut sebagai `apa adanya seperti itu`.
4. Fenomenolog cenderung mempercayai perihal adanya, bukan hanya dalam arti dunia kultural dan natural tetapi juga adanya oibjek yang ideal seperti jumlah dan bahkan juga berkenaan dengan kehidupan tentang kesadaran itu sendiri yang dijadikan sebagai bukti dan oleh karenanya harus diketahui.
5. Fenomenolog memegang teguh prinsip bahwa periset haurs memfokuskan diri pada sesuatu yang disebut `menemukan permasalahan` sebagaimana yang diarahkan kepada objek dan pembetulannya terhadap objek sebegaimana ditemukan permasalahannya. Terminologi ini memang tidak secara luas digunakan dan utamanya digunakan utnuk menekankan permasalahan ganda dan pendekatan reflektif yang diperlukan.
6. Fenomenoog berkecenderungan untuk mengetahui peranan deskripsi secara universal, pengertian a-priori atau `eiditic` untuk menjelaskan tentang sebab-akibat, maksud atau latar belakang.
7. Fenomenolog berkecenderungan untuk memperseoalkan tentang kebenaran atau ketidakbenaran mengenai apa yang dikatakan oleh Husserl sebagai transcendental phenomenological epoche, dan penyederhanaan pengertiannya menjadi sangat berguna dan bahkan sangat mungkin untuk dilakukan. (Agus Salim, 2006 : 167-168)

SUMBER :
1. Agus Salim. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta : Tiara Wacana.
2. Robert Bogdan & Steven J. Taylor. 1992. Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya : Usaha Nasional.
3. Sari Wahyuni. 2012. Qualitative Research Methods : Theory and Practice. Jakarta : Salemba Empat.