AKU ADALAH GURU “SANG PAHLAWAN TANPA TANDA JASA” KATANYA?

wawasanpendidikan.com; kali ini sobat pendidikan akan berbagi sedikitnya cerita inspirasi khususnya mereka yang berstatus sebagai seorang pengajar atau guru, semoga bermanfaat. selamat membaca.

AKU ADALAH GURU “SANG PAHLAWAN TANPA TANDA JASA” KATANYA?
AKU ADALAH GURU “SANG PAHLAWAN TANPA TANDA JASA”  KATANYA?
Seorang guru mestinya bangga menjadi Guru/Pengajar. Guru dipilih tuhan dan dipilih masyarakat untuk menyampaikan kebenaran melalui ilmu pengetahuan yang ia berikan (walaupun terkadang guru dilupakan oleh masyarakat, bahkan oleh negara). Suatu tugas yang tidak gampang darinya. Guru dipercaya oleh orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Guru dipercaya mampu “menyihir” anak-anak dari yang tidak tahu membaca menjadi mahir membaca, dari yang tidak tahu menulis menjadi mahir menulis, dari yang tidak tahu berhitung menjadi tahu berhitung, dari yang pendiam menjadi periang, dari yang nakal menjadi tidak nakal, dari yang penakut menjadi berani, dari yang tidak percaya diri menjadi percaya diri. Guru mampu membangkitkan potensi yang terpendam dalam diri setiap anak (yang bahkan orang tuanya pun sendiri tidak mampu melakukan itu), mampu membangkitkan bakat terpendam anak didik dan sejumlah kepercayaan-kepercayaan lainnya. Bukankah itu adalah suatu hal yang sangat istimewa dan sangat luar biasa!

Guru punya tugas dan tanggunjawab yang besar untuk sebuah proses evolusi peradaban yang tak pernah diam. Evolusi peradaban yang dinamis, yang senantiasa bergerak di setiap detiknya, seiring dengan berdetaknya jarum jam. Evolusi sosial yang senantiasa menghasilkan perkembangan dan perubahan.

Guru sudah menghasilkan segudang orang besar dan berpengaruh. Menghasilkan segudang pahlawan yang tercatat dalam lembaran sejarah. Guru ikut berperan besar dalam prose suatu perubahan. Guru bisa mengendalikan peradaban seperti yang ia inginkan. Dengan tinta dan kuas pengetahuannya, guru bisa menuliskan dan menggambarkan seperti apa dunia yang iya mau. Guru punya kebebasan dan kewenangan untuk melakukan hal itu.

Guru ada di setiap zamannya . orang-orang rela menghabiskan waktunya belasan bahkan puluhan tahun bersama guru , hanya untuk mendengarkan dan mendapatkan pelajaran darinya. Orang-orang rela mengorbangkan materi dan umurnya bersama guru di dalam suatu ruangan yang cukup sederhana, hanya untuk mendapatkan nasehat-nasehar dan ajaran-ajarannya.

Kedatangan guru ditunggu-tunggu setiap harinya. Puluhan anak menanti guru dengan sabarnya di dalam kelas. Ketika guru masuk, mereka terdiam melihatnya. Mereka dengan kompaknya memberi salam dan penghormatan kepada guru. Ketika pelajaran berakhir, tak lupa mereka mengucap terima kasih. Ketika mereka bertemu guru di jalan, mereka selalu menegur dan menyapa, serta senantiasa menberikan senyum dan hormat terbaiknya kepada sang guru.

Jika guru hendak berkunjung ke rumah mereka, dengan bangganya merka akan menceritakan kepada orang tua mereka bahwa ‘ma’ guruku akan datang kerumah jadi tolong mama buatkan makanan dan kue yang enak-enak untuk guruku’. Padahal, kedatangan sang guru masih beberapa hali lagi, tetapi penantian sang anak telah dimulai pada hari itu. Ia tak sabar menunggu kedatangan sang guru. Inginnya waktu cepat-cepat berlalu. Mereka begitu senang dan gembira dengan rencana kedatangan sang guru. Baginya ‘’’pahlawanku akan datang’ .

Dan setelah sang guru kerumahnya besoknya sang anak dengan antusias dan bangganya akan bercerita kepada teman-teman sekelasnya perihal kedatangan gurunya kerumanya. Ia berkata dengan lantang ‘’kalian tahu , kemarin bu guru datang kerumahku !bu guru bercerita ini dan itu dengan ibu dan ayahku’’. Ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri ketika sang guru mendatangi atau menjenguk mereka. Ada spirit dan motivasi tersendiri bagi mereka dengan kedatangan sang guru.

Guru atau pengajar menjadi idola tersendiri di dalam kelas. Anak didik merasa bahwa gurunya memiliki segalanya ia akan membutuhkan gurunya sebagaimana perutnya membutuhkan makanan untuk tubuhnya. Ia merasa kebutuhan akan pikirannya bisa di dapat dari gurunya. Ia merasa bahwa dahaganya akan ilmu bisa dipuaskan dengan air pengetahuan dari sang guru. Ia merasa bahwa gurunya adalah orang hebat . apa yang dikatakan oleh gurunya maka ketika ia pulang ia akan menyampaikan ke orang tuanya bahwa gurunya bilang ini dan itu. Bahkan ia bisa lebih mempercayai perkataan gurunya dari pada orang lain sekalipun itu adalah orang tuanya. Mereka merasa bahwa gurunya adalah pahlawannya yang bisa menyelesaikan setiap persoalan.

Olehnya itu guru atau pengajar harus menyadari betapa kagum dan bangganya anak didik pada dirinya. Bagaimana dengan guru atau pengajar itu sendiri, apakah ia bangga terhadap dirinya? Atau pantaskah ia menjadi orang yang di banggakan, dikagumi, dan dianggap pahlawan tanpa tanda jasa?

Cobalah renungkan lebih dalam, bahwa tidak semua orang bisa seperti yang dilakukan oleh guru. Tidak semua orang bisa mengalami seperti yang dialami oleh guru. Guru berbeda dengan orang lain, berbeda dengan profesi lain, mengajar itu  merupakan suatu tindakan istimewa dan membanggakan.

Mengajar itu menyenangkan. Dengan mengajar guru bisa mengenal diri guru dan orang lain. Mengajar bisa menjadi wahana untuk introspeksi diri. Dengan mengajar sebenarnya guru sedang melakukan proses belajar. Mengajar bisa membuat guru lebih memahami alam raya. Mengajar juga bisa lebih mendekatkan diri pada-Nya karena mengajar itu adalah ibadah. Mengajar adalah pekerjaan utama para Nabi, dan mengajar juga dilakukan oleh Tuhan.

Kiranya slogam guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa benarlah adanya. Maka, mulai detik ini, ketika orang bertanya siapa diri guru, maka jawablah dengan bangga dan jiwa besar ‘Aku adalah Guru’ (pengajar).

semoga bermanfaat, dinantikan kunjungan selanjutnya.